oleh :
Aris Santoso
Pengamat Militer
Kabariku – Kesempatan pernah menjadi Danjen Kopassus merupakan berkah tersendiri bagi yang sempat menyandangnya, yang dampak (positifnya) masih berpendar hingga puluhan tahun selepas yang bersangkutan meninggalkan Cijantung (Jakarta Timur, lokasi Markas Komado Kopassus).
Asumsi seperti itu setidaknya bisa kita lihat hari ini, ketika beberapa mantan Danjen Kopassus pernah atau masih aktif mengisi panggung politik nasional, dan sebagian telah menjadi tokoh publik, selain Prabowo (kini Presiden RI), ada nama Sintong Panjaitan (Akmil 1963), Agum Gumelar (Akmil 1968), Subagyo HS (Akmil 1970), Muchdi PR (Akmil 1970), dan seterusnya.
Khusus bagi Prabowo, pengalamannya sebagai Danjen Kopassus,masih lekat dalam ingatan publik.
Saat pelantikan dirinya sebagai Komandan Sesko TNI di Bandung, Juni 1998, tak lama setelah dirinya diberhentikan sebagai Pangkostrad, Prabowo berusaha tetap tenang. Publik hanya bisa mengira-ngira, bagaimana perasaan Prabowo pada pelantikan hari itu.
Pelantikan Prabowo sebagai Komandan Sesko TNI, seolah menyiratkan kegalauan Prabowo, bahwa sebentar lagi dia akan meninggalkan dunia militer (pensiun dini), dan itu artinya akan meninggalkan Kopassus juga, satuan yang sangat dicintainya.
Hidup manusia memang tidak bisa diramalkan. Mungkin sudah menjadi takdir Prabowo untuk menjadi orang besar.
Kini Prabowo telah kembali, dia akan kembali memimpin, bukan sebatas memimpin Kopassus, namun memimpin seluruh rakyat Indonesia. Sebuah ilustrasi kecil bisa diajukan di sini.
Saat Prabowo dimutasikan dari Kopassus ke Kostrad pertengahan tahun 1980-an, dalam posisi sebagai Wakil Komandan Yonif Linud 328/Kujang II (sebutan sekarang Yonif Para Raider 328/Dirgahayu), saat itu publik tidak ada yang tahu atau mungkin tidak peduli, siapa nama Danyon 328 saat itu, yang artinya adalah atasan langsung Prabowo. Fenomena ini bisa terjadi, karena begitu besarnya nama Prabowo.
Figur karismatik
Salah satu fenomena menarik untuk diamati adalah, para perwira yang pernah menjadi Danjen Kopassus, umumnya adalah perwira yang memiliki karisma, figur yang sudah menonjol sejak mula, dan acapkali memperoleh ekspose melimpah media.
Sebagai satuan elite, wajar bila Kopassus selalu menjadi sorotan, baik oleh pimpinan maupun masyarakat awam.
Salah satu fenomena menarik adalah, publik awam bisa jadi tidak terlalu ingat dengan sejumlah nama mantan KSAD, namun mereka biasanya ingat dengan nama perwira yang pernah menjadi Danjen Kopassus.
Tentu yang paling diingat adalah figur Sarwo Edhi Wibowo dan Prabowo Subianto.
Setelah hampir tiga dekade meninggalkan Cijantung, apakah Prabowo sudah benar-benar melepaskan atmosfer Cijantung, saat resmi memimpin negeri?
Saya sendiri menduga, Prabowo tidak bisa lepas sepenuhnya dari masa lalu, bahwa Prabowo memiliki gaya sendiri dalam memimpin.
Gaya itu akan diulang kembali saat Prabowo berkantor di Istana, tentu dengan modifikasi seperlunya.
Mungkin saya bisa membantu sekadar me-refresh ingatan kita, gebrakan apa yang dilakukan Prabowo saat mejadi Danjen Kopassus (1995-1998), yang berpotensi untuk diulang kembali saat resmi menjadi Presiden.
Peristiwa dimaksud itu berlangsung pada akhir Juni 1996, dalam sebuah upara kebesaran militer di Cijantung, diresmikan reorganisasi Kopassus.
Ketika itu Kopassus dibagi menjadi lima grup, masing-masing adalah: Grup 1 dan Grup 2 (para komando), Grup 3 (pusat pendidikan), Grup 4 (sandi yudha), serta Grup 5 (anti-teror).
Dari reorganisasi ini yang penting untuk dicatat adalah pembentukan Grup 4, sebagai satuan yang secara “terbuka” memayungi operasi sandi yudha (intelijen) Kopassus.
Sekadar penjelasan tambahan, publik awam tidak perlu bingung membaca angka atau penomoran dalam satuan Kopassus, karena angka tersebut sering berganti.
Yang lebih penting untuk diketahui adalah fungsi atau nomenklatur Kopassus yang permanen , yakni para komando, intelijen, lawan teror, dan pendidikan.
Seperti yang terjadi sekarang misalnya, satuan yang menangani pendidikan tidak lagi memakai angka, demikian juga Grup 4/Sandi Yudha, kini sudah ganti nama menjadi Grup 3.
Sangat jelas terlihat reorganisasi Kopassus sudah digagas Prabowo sejak lama, mungkin jauh hari sebelum dia dilantik sebagai Komandan Kopassus.
Setelah dilantik sebagai Presiden, Prabowo juga melakukan perombakan kelembagaan negara, seperti regrouping kementerian, atau merevisi nomenklatur kementerian, menambah sejumlah badan (salah satunya adalah Badan Gizi Nasional), dan seterusnya.
Saat masih menjadi komandan pasukan dulu, bila Prabowo sudah berkehendak, tidak ada pihak yang bisa menghentikannya, termasuk para seniornya di TNI.
Prabowo selalu memikirkan kesejahteraan prajurit dan rakyat banyak, sehingga apa yang sudah menjadi kehendaknya harus terlaksana, entah bagaimana caranya.
Memang ada juga idenya yang tidak sempat terlaksana, salah satunya ketika memunculkan gagasan, agar Kopassus (saat itu) membawahi juga satuan helicopter.
Salah satu catatan penting adalah, untuk semua gagasan besar itu, sebagian terinspirasi sejak masih berdinas di Cijantung, Prabowo ingin selalu otonom dan firm.
Saat menjadi komandan pasukan dulu, Prabowo dikenal sangat memperhatikan kesejahteraan anak buahnya. Dan sikap seperti itu masih ada jejaknya saat memimpin negeri sekarang, dengan mengeluarkan program populis, yakni MBG (Makan Bergizi Gratis) dan masih dalam proses adalah Koperasi Merah Putih.
Meredakan Ketegangan Geopolitik
Keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace, bisa ditelusuri jejaknya ketika Prabowo masih menjadi Menhan (Menteri Pertahanan).
Dalam forum Shangri-La Dialogue di Singapura, pertengahan tahun 2024, Menteri Pertahanan (saat itu) Prabowo (juga selaku presiden terpilih), menyampaikan himbauan untuk kembali membangun perdamaian dan menciptakan stabilitas global, termasuk meredakan rivalitas kekuatan-kekuatan utama dunia.
Tiga prinsip yang disampaikan Prabowo dalam forum tersebut adalah kemauan hidup berdampingan dengan damai (coexistence), kolaborasi, serta membangun kompromi.
Untuk itu Indonesia mendorong pentingnya dialog yang inklusif, menjalin kerja sama konkret, seraya terus-menerus memperkuat implementasi hukum-hukum internasional.
Menguatnya tarikan geopolitik dan berlarutnya sejumlah konflik bersenjata, sebagaimana terjadi di Timur Tengah hari ini, menjadikan situasi dunia menuju temaram.
Dunia tengah menghadapi tantangan yang kian kompleks dan rumit. Pemikiran Prabowo saat menjadi narasumber utama di Shangri-La Dialogue, menemukan relevansinya hari ini Prabowo memastikan, sebagai negara nonblok, Indonesia tidak akan berpihak kepada poros tertentu.
Menurut Prabowo, Indonesia akan lebih mengedepankan sikap saling menghormati eksistensi, martabat dan kedaulatan setiap negara, mengingat tidak ada satu narasi tunggal untuk semua hal.
Menurut Prabowo, baik di kawasan maupun global, Indonesia akan lebih memosisikan diri sebagai “tetangga yang baik” (good neighbour policy).
Gagasan Prabowo berbasis pada tradisi bangsa, bahwa tetangga merupakan pihak yang dekat, yang akan menolong kita ketika sedang menghadapi kesulitan. Tetangga yang akan segera datang menolong, bukan saudara kandung yang tinggal berjauhan.
Good neighbour policy diyakini bisa diterapkan dalam kehidupan bernegara. Sikap saling menghormati dan menghargai, menjadi opsi untuk penyelesaian sengketa wilayah yang terjadi.
Partisipasi dan peran aktif Indonesia dalam Board of Peace (Dewan Perdamaian), akan menunjukkan peran Indonesia sebagai aktor global penting.
Sebagai bangsa dengan sejarah panjang diplomasi dan mendorong perdamaian, salah satunya melalui Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung.
Pada sebuah kesempatan Presiden Prabowo sempat menghimbau semua elemen bangsa memperkokoh kedaulatan politik dan kemandirian ekonomi, yang juga bagian dari pengamalan Pancasila, terutama di tengah kondisi perekonomian global yang cenderung tidak menentu.
Tak hanya karena Indonesia memiliki Pancasila, Presiden juga berharap masyarakat tetap optimistis di tengah dinamika global, karena Indonesia memiliki modal sosial dan budaya yang kokoh.
Presiden Prabowo juga pernah berpesan, nilai-nilai Pancasila harus terus diaktualisasikan dan diwariskan dalam perilaku dan kebijakan yang nyata dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Dengan salah satu implementasinya adalah keaktifan pemerintah di dunia internasional, tanpa menyurutkan perjuangan untuk terus memperkokoh perjuangan untuk terus memperkokoh kemandirian bangsa.
Nilai Pancasila pula yang banyak memberi inspirasi bagi Prabowo dalam Shangri-La Dialogue, itu sebabnya presentasi Prabowo memberi warna yang berbeda. Saat itu Prabowo (masih sebagai Menhan) tak mau mengangkat ketegangan antara AS dan China, namun mengedepankan isu yang luput dari perhatian pembicara lain, yakni soal konflik si Gaza.
Benar, pesan kemanusiaan lebih diangkat oleh Menhan Prabowo, bagaimana gencatan senjata harus dilakukan di Palestina. Gagasan inilah menjadi basis keterlibatan Indonesia dalam Dewan Perdamaian.
Pernyataan Menhan Prabowo saat itu diikuti solusi konkret, dihubungkan dengan kesiapan Indonesia untuk mengirimkan pasukan penjaga perdamaian, apabila diundang PBB.
Termasuk kesiapan Indonesia untuk mengirimkan rumah sakit terapung (kapal rumah sakit TNI AL) guna membantu penanganan medis bagi warga di Palestina yang menjadi korban perang.*
Jakarta, 16 Maret 2026
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com






















Discussion about this post