Semarang, Kabariku – Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Jawa Tengah merespons ultimatum yang dilayangkan Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) wilayah Jawa Tengah kepada pemerintah terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menyentuh kisaran Rp18 ribu per dolar Amerika Serikat.
Ketua Eksekutif Wilayah LMND Jawa Tengah, Udin Nurrahman, menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi.
Namun, menurutnya, kritik harus dibangun di atas analisis yang objektif dan tidak menyederhanakan persoalan ekonomi yang tengah dihadapi Indonesia.
“Pelemahan rupiah tidak bisa serta-merta dijadikan dasar untuk menyimpulkan kegagalan pemerintah. Ada banyak faktor yang memengaruhi kondisi ekonomi saat ini, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, dinamika geopolitik internasional, hingga kebijakan negara-negara besar yang berdampak pada banyak negara berkembang, termasuk Indonesia,” ujar Udin, Selasa (9/6/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul ultimatum yang diberikan BEM SI Jawa Tengah kepada pemerintah.

Melalui unggahan akun Instagram @bem_si dan @storyrakyat_ pada Minggu (7/6/2026), mahasiswa memberi tenggat waktu 18 hari bagi pemerintah untuk memperbaiki nilai tukar rupiah. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, mereka mengancam akan menggelar aksi besar bertajuk “Reformasi Jilid 2”.
Sebelumnya, tuntutan serupa juga disampaikan dalam aksi mahasiswa di depan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah di Semarang pada Jumat (5/6/2026).
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyoroti pelemahan rupiah, pembengkakan fiskal, meningkatnya angka pengangguran, serta kenaikan harga kebutuhan pokok yang dinilai semakin membebani masyarakat.
BEM SI juga diketahui telah menggelar konsolidasi nasional secara daring pada 4 Juni 2026 guna membahas perkembangan kondisi ekonomi nasional dan langkah-langkah gerakan mahasiswa ke depan.
Menanggapi hal itu, Udin mengajak masyarakat untuk melihat situasi ekonomi secara lebih berimbang.
Menurutnya, berbagai upaya terus dilakukan pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional, termasuk memperkuat industri dalam negeri, mendorong hilirisasi, dan menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global.
Ia menilai tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia saat ini tidak terlepas dari situasi global yang juga berdampak pada banyak negara.
Karena itu, kata Udin, seluruh elemen bangsa perlu mengedepankan semangat kolaborasi dalam menghadapi berbagai persoalan yang ada.
Menurut Udin, perbedaan pandangan dalam menyikapi kondisi ekonomi merupakan hal yang wajar dalam negara demokrasi.
Namun, ia menekankan bahwa setiap kritik harus diarahkan untuk memperkuat solusi dan menjaga optimisme masyarakat di tengah tantangan global yang masih berlangsung.
“Kritik tetap penting sebagai fungsi kontrol, tetapi harus disertai gagasan dan solusi yang membangun. Yang dibutuhkan bangsa ini adalah semangat gotong royong untuk memperkuat ekonomi nasional dan menjaga masa depan Indonesia,” pungkas Udin.*
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com















Discussion about this post