Jakarta, Kabariku – Inisiatif gerakan antikorupsi berbasis literasi menguat melalui partisipasi publik. Sebanyak 1.636 penulis dari 21 provinsi mencatatkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) melalui penulisan cerpen antikorupsi terbanyak, yang kini dijadikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai strategi memperluas edukasi integritas di masyarakat.
Capaian tersebut menandai pergeseran pendekatan pemberantasan korupsi-dari dominasi penindakan menuju penguatan budaya integritas melalui cara-cara kreatif dan partisipatif.

Dalam peluncuran buku sekaligus pemecahan rekor di Gedung Pusat Edukasi Antikorupsi (ACLC) KPK, Kamis (23/4/2026), Wakil Ketua KPK Ibnu Basuki Widodo menegaskan literasi menjadi instrumen penting dalam membangun kesadaran publik.
“Program ini dirancang secara masif dengan melibatkan PAKSI dan API sebagai motor penggerak. Kami ingin pesan antikorupsi tidak hanya dipahami, tetapi juga dirasakan melalui karya,” ujar Ibnu.
Program ini dimulai dari pelatihan menulis cerpen berperspektif integritas, dilanjutkan proses kreatif hingga menghasilkan ribuan karya yang memuat nilai kejujuran dan perlawanan terhadap praktik korupsi.
Pendekatan ini dinilai mampu menjangkau masyarakat lebih luas dengan cara yang humanis dan mudah diterima.
“Capaian ini menjadi bukti bahwa pemberantasan korupsi tidak semata bertumpu pada penindakan, tetapi juga pada pembangunan nilai integritas sejak dini,” jelas Ibnu.

Optimalkan Peran PAKSI dan API
KPK mengoptimalkan peran Penyuluh Antikorupsi (PAKSI) dan Ahli Pembangun Integritas (API) melalui komunitas Pena Integritas sebagai ujung tombak gerakan di masyarakat.
Kolaborasi dengan SIP Publishing dan Yayasan Rumah Indonesia Menulis turut memperkuat ekosistem literasi antikorupsi.
“Apresiasi tak terhingga kami sampaikan kepada Forum PAKSI-API dan komunitas Pena Integritas, atas inisiatif dan kolaborasi yang menghadirkan capaian prestasi superlatif,” ucap Ibnu.
Senada, Deputi Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK Wawan Wardiana menilai tingginya partisipasi menunjukkan antusiasme publik yang kuat.
“Ini bukti bahwa masyarakat siap terlibat aktif. Literasi menjadi ruang efektif untuk menanamkan nilai integritas secara berkelanjutan,” katanya.

Peluncuran Buku Cerpen Antikorupsi
Program yang bergulir sejak Februari 2026 ini melalui serangkaian tahapan, mulai dari pelatihan, publikasi, hingga pengumpulan naskah pada Maret-April, sebelum akhirnya mencapai puncak pada peluncuran buku cerpen antikorupsi.
Dari sisi literasi nasional, Deputi Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Adin Bondar, menilai pendekatan ini strategis dalam membentuk karakter.
“Pendekatan literasi merupakan strategi efektif mencegah korupsi, karena mampu membangun kesadaran kritis sekaligus membentuk kebijaksanaan individu dalam sikap dan komunikasi,” ucapnya.
Sementara itu, perwakilan Pena Integritas Ratu Syafitri Muhayati menegaskan gerakan ini tidak berhenti pada rekor.
“Karya-karya ini adalah refleksi kejujuran dan keberanian melawan korupsi dari berbagai perspektif. Ini akan terus kami dorong sebagai gerakan berkelanjutan,” katanya.
Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut, diantaranya, Direktur Marketing MURI, Awan Rahargo; Direktur Pendidikan dan Pelatihan Antikorupsi KPK, Yonathan Demme Tangdilintin; Direktur Jejaring Pendidikan KPK, Dian Novianthi; Direktur Sosialisasi dan Kampanye KPK, Amir Arief.
Kegiatan ini turut dihadiri Plh. Direktur Pembinaan Peran Serta Masyarakat KPK, Rino Haruno; Direktur SIP Publishing, Indra Defandra; Duta Baca Indonesia 2021-2025, Gol A Gong; serta para PAKSI-API dari seluruh Indonesia.
KPK memastikan kolaborasi lintas sektor akan terus diperluas agar literasi antikorupsi tidak berhenti sebagai seremoni pemecahan rekor, melainkan berkembang menjadi gerakan sosial yang mengakar dan berkelanjutan di tengah masyarakat.*
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com






















Discussion about this post