• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Jumat, Juli 24, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Opini

JK, Jangan Memancing di Air Keruh!

Tresyana Bulan oleh Tresyana Bulan
10 Maret 2026
di Opini
A A
0
ShareSendShare ShareShare

oleh :
Bin Bin Firman Tresnadi
Dewan Pembina Nalar Bangsa Institute

Jakarta, Kabariku – Pernyataan Jusuf Kalla yang menyarankan pemerintah mengevaluasi sejumlah kebijakan karena dianggap membebani APBN perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih utuh.

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

Kritik terhadap kebijakan publik tentu sah dan bahkan diperlukan dalam demokrasi. Namun kritik yang tidak disertai pemahaman atas arah strategis pembangunan justru berisiko menimbulkan kesan keliru di tengah publik.

RelatedPosts

Sinyal Belum Ada Pergantian Kapolri?

Retakan Bernegara Mulai Terlihat

Rahasia Negara dan Kedewasaan Publik

Sejumlah program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto-mulai dari program makan bergizi gratis, penguatan koperasi desa, hingga berbagai kebijakan yang mendorong kemandirian ekonomi nasional-dipersepsikan sebagai beban fiskal yang berpotensi memperbesar defisit APBN.

Cara pandang semacam ini terlalu menyederhanakan fungsi APBN hanya sebagai neraca pengeluaran negara.

Dalam ekonomi pembangunan modern, belanja negara bukan semata-mata beban, melainkan instrumen investasi sosial dan ekonomi.

Program makan bergizi gratis, misalnya, tidak dapat dilihat hanya dari sisi pengeluaran tahunan.

Program ini adalah investasi pada kualitas sumber daya manusia, upaya sistematis menekan stunting, serta langkah strategis membangun generasi produktif yang akan menentukan daya saing Indonesia di masa depan.

Demikian pula penguatan koperasi desa dan ekonomi rakyat. Dalam kerangka pembangunan nasional, desa bukan sekadar wilayah administratif, melainkan basis produksi dan distribusi ekonomi. Ketika desa diperkuat melalui koperasi dan sistem ekonomi lokal, yang sedang dibangun sesungguhnya adalah fondasi ketahanan ekonomi nasional.

Di sinilah kritik yang terlalu cepat menyimpulkan bahwa program-program tersebut sebagai beban fiskal menjadi tidak tepat. APBN memang harus dikelola secara disiplin, tetapi disiplin fiskal tidak boleh dimaknai sebagai pengetatan yang menghambat investasi sosial jangka panjang.

Baca Juga  Kerahkan Prajurit di Teritorial Gunung Semeru, Panglima TNI: "Saya Serahkan Aset dan Prajurit Kepada Kepala BNPB Karena Komando Harus Satu"

Presiden Prabowo Subianto sendiri berulang kali menegaskan bahwa kekuatan sebuah negara tidak hanya diukur dari stabilitas anggarannya, tetapi juga dari kemampuannya melindungi rakyat dan membangun masa depan generasi berikutnya.

Dalam berbagai kesempatan, ia menyampaikan bahwa negara harus hadir secara nyata dalam menjamin kesejahteraan rakyat dan memperkuat fondasi ekonomi nasional.

Karena itu, kebijakan fiskal yang ekspansif pada sektor-sektor strategis tidak otomatis identik dengan pemborosan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana belanja negara diarahkan untuk menghasilkan dampak struktural: memperkuat produksi domestik, meningkatkan kualitas manusia Indonesia, dan mengurangi ketergantungan ekonomi pada faktor eksternal.

Kita juga tidak boleh menutup mata bahwa tekanan terhadap APBN tidak semata-mata berasal dari kebijakan domestik. Gejolak harga energi global, konflik geopolitik, serta dinamika ekonomi dunia merupakan faktor eksternal yang selalu memengaruhi stabilitas fiskal negara mana pun.

Di tengah situasi global yang tidak pasti, yang dibutuhkan justru adalah konsolidasi nasional untuk mendukung agenda pembangunan yang sedang dijalankan pemerintah.

Kritik tetap penting, tetapi kritik yang konstruktif seharusnya memberikan perspektif solusi dan tidak menimbulkan persepsi seolah-olah negara sedang berjalan menuju krisis.

Sebagai bangsa, kita membutuhkan perdebatan kebijakan yang sehat. Namun perdebatan itu seharusnya memperkuat arah pembangunan, bukan menciptakan kegaduhan yang dapat melemahkan kepercayaan publik terhadap upaya pemerintah membangun kemandirian ekonomi nasional.

Pembangunan adalah proses panjang yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan dukungan bersama. Yang diperlukan saat ini bukanlah sikap memancing di air keruh, melainkan kontribusi pemikiran yang jernih demi kepentingan bangsa yang lebih besar.

Kritik tentu sah. Tetapi kritik yang dibangun di atas framing krisis tanpa konteks pembangunan justru berpotensi melemahkan kepercayaan publik terhadap agenda transformasi ekonomi nasional.

Baca Juga  Tak Ada Sosialisme Indonesia Tanpa Hilirisasi dan Industrialisasi

Jika benar ingin membantu negara, kritik seharusnya diberikan dalam kerangka solusi strategis-bukan sekadar komentar yang memberi amunisi bagi mereka yang sejak awal tidak pernah menginginkan pemerintahan ini berhasil.

Karena pada akhirnya, bangsa ini membutuhkan kerja bersama, bukan elite yang memancing di air keruh dan membokong dari belakang.*

Tags: jusuf kallakebijakan membebani APBNKoperasi Desa Merah PutihNalar Bangsa Instituteprogram Makan Bergizi Gratis
ShareSendShareSharePinTweet
Post Sebelumnya

Banser Jawa Barat Kerahkan 6.000 Personel Layani Pemudik di 135 Posko

Post Selanjutnya

Puan Maharani Minta Evaluasi Menyeluruh Usai Rentetan OTT Kepala Daerah oleh KPK

RelatedPosts

Sinyal Belum Ada Pergantian Kapolri?

21 Juli 2026

Retakan Bernegara Mulai Terlihat

21 Juli 2026

Rahasia Negara dan Kedewasaan Publik

21 Juli 2026

Beranikah Seluruh Penegak Hukum Periksa Harta Semua Pejabat? Uji Nyata Komitmen Pemberantasan Korupsi

17 Juli 2026

Ketika Manusia Jadi Komoditas Menghilang: Belajar Pasar dari Jepang yang Suka “Menguap”

17 Juli 2026

Ketika Etika Mengalahkan Aturan, Negara Kehilangan Pedoman Bersama

17 Juli 2026
Post Selanjutnya
dok Parlementaria

Puan Maharani Minta Evaluasi Menyeluruh Usai Rentetan OTT Kepala Daerah oleh KPK

Mantan pimpinan KPK Busyro Muqoddas saat menjadi pembicara dalam acara UKW (Foto: Dok. Dewan Pers)

Program MBG Dipersoalkan, Masyarakat Sipil Ajukan Uji Materi UU APBN 2026 ke MK

Discussion about this post

KabarTerbaru

Dok.Foto: istimewa

30 Tahun Kudatuli: Tragedi 27 Juli 1996 Dinilai Jadi Titik Balik Lahirnya Gelombang Reformasi

24 Juli 2026

Wakil BP Taskin Iwan Sumule Apresiasi Program Mobil Homecare Bupati Jember, Bakal Jadi Pilot Project Nasional

24 Juli 2026

SIAGA 98 Minta Kejagung Cermat Tangani Dugaan TPPU yang Dikaitkan dengan Febrie Adriansyah

24 Juli 2026
Oplus_131072

Dasco Terima Audiensi APKASI, Bahas Penguatan Otonomi Daerah hingga Tantangan Fiskal Kabupaten

24 Juli 2026

Di Harlah PKB, Prabowo Sebut Cak Imin, Dasco dan Bahlil Tiga Kancil Politik Kalau Berkumpul “Bahaya”

24 Juli 2026

Sekda Tangsel Tegas: Pelayanan Prima Bukan Sekadar Slogan, ASN Harus Berubah!

24 Juli 2026

PDI Perjuangan Dorong Pembentukan KPAD di Tangsel, 285 Anak Jadi Korban Kekerasan Sepanjang 2025

24 Juli 2026

DPRD Kabupaten Tangerang Kecewa Normalisasi Sungai Cimanceri Tak Kunjung Berjalan

24 Juli 2026

Rayakan Hari Anak Nasional, KPK Gandeng Erasmus Huis Tanamkan Nilai Integritas kepada Pelajar Lewat Film

24 Juli 2026

Presiden Prabowo Tunjuk Sudaryono Jadi Kepala BGN, Pastikan Program MBG Tetap Berjalan

22 Juli 2026

Kabar Terpopuler

  • Owner PT Global Komodo Indonesia, Hironimus Amal. (Foto: Dok. Pribadi)

    Wow, Ekspedisi Ini Jadi Sistem Pendukung Kemajuan Bisnis Pariwisata Labuan Bajo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Manusia Jadi Komoditas Menghilang: Belajar Pasar dari Jepang yang Suka “Menguap”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Presiden Prabowo Subianto Perlu Mengevaluasi Dugaan Kebocoran Informasi Pertemuan Terkait Febri Adriansyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sinyal Belum Ada Pergantian Kapolri?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Koalisi MBG Watch Ajukan Judicial Review UU APBN 2026 ke MK, Soroti Anggaran Makan Bergizi Gratis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Bocorkan ‘Adiknya’ Jadi Calon Pengganti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Retakan Bernegara Mulai Terlihat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM
DJITUBERITA.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com