• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Senin, Juli 20, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Opini

Gerak-Gerik yang Tak Hilang dari Radar

Irfan Ardhiyanto oleh Irfan Ardhiyanto
4 Juni 2026
di Opini
A A
0
Foto : Anies Baswedan (Istimewa)

Foto : Anies Baswedan (Istimewa)

ShareSendShare ShareShare

Ditulis oleh :  In’amul Mustofa

Kabariku.com – Sesudah pemilu usai, biasanya politik memasuki musim sunyi.

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

Spanduk diturunkan. Sorak-sorai mereda. Nama-nama yang kemarin memenuhi layar televisi

RelatedPosts

Beranikah Seluruh Penegak Hukum Periksa Harta Semua Pejabat? Uji Nyata Komitmen Pemberantasan Korupsi

Ketika Manusia Jadi Komoditas Menghilang: Belajar Pasar dari Jepang yang Suka “Menguap”

Ketika Etika Mengalahkan Aturan, Negara Kehilangan Pedoman Bersama

dan linimasa media sosial perlahan kembali menjadi arsip. Demokrasi modern memang

mengenal apa yang disebut para ilmuwan politik sebagai attention cycle siklus perhatian

publik yang bergerak cepat, naik dengan mendadak lalu turun tanpa pamit.

Kita melihat itu setelah Pilpres 2024.

Ganjar Pranowo, Mahfud MD, Muhaimin Iskandar, dan Anies Baswedan adalah empat tokoh

yang sama-sama memenuhi ruang percakapan nasional selama masa kompetisi. Namun

beberapa waktu setelah pemilu berakhir, ada sesuatu yang menarik: dari keempat nama itu,

Anies tampak paling sering kembali muncul dalam percakapan publik.

Padahal ia tidak sedang memegang kekuasaan.

Ia bukan menteri. Ia bukan kepala daerah. Ia tidak memimpin lembaga negara. Bahkan ia tidak

memiliki kendaraan politik formal yang kuat sebagaimana lazimnya tokoh-tokoh yang ingin tetap

relevan dalam politik Indonesia.

Tetapi setiap kali ia berbicara, ada gema yang memanjang.

Mengapa?

Barangkali karena politik hari ini tidak lagi semata-mata ditentukan oleh posisi, melainkan oleh

kemampuan seseorang bertahan dalam ingatan publik.

Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu pernah menyebut adanya symbolic capital—modal simbolik.

Bukan kekuasaan formal, bukan pula kekayaan material, melainkan kemampuan seseorang

memperoleh pengakuan sosial yang membuat ucapannya dianggap penting. Dalam politik

modern, modal semacam ini sering kali lebih tahan lama daripada jabatan.

Baca Juga  Tiga Calon Pj Gubernur DKI Jakarta, Ketua Forum Masyarakat Kepulauan Seribu Jakarta: "Dari Rebutan PJ Gubernur DKI ke Rebutan Hati Rakyat, Dari Anis ke Juri"

Jabatan berakhir.

Pengaruh belum tentu.

Di media sosial fenomena itu tampak jelas. Sebuah komentar singkat dari Anies dapat

berkembang menjadi perdebatan panjang. Media mengutipnya. Pendukung menyebarkannya.

Pengkritik menanggapinya. Bahkan elite pemerintah merasa perlu memberikan respons.Menariknya, bukan karena Anies selalu menawarkan gagasan yang baru. Sering kali yang ia

lakukan hanyalah mengartikulasikan sesuatu yang sudah beredar dalam benak masyarakat.

Di sinilah letak kekuatan seorang artikulator.

Ia tidak menciptakan seluruh percakapan.

Ia menangkap percakapan yang sudah hidup lalu memberinya bahasa.

Hannah Arendt pernah menulis bahwa politik lahir ketika manusia berbicara dan bertindak di

ruang publik. Dalam pengertian itu, relevansi politik tidak selalu bergantung pada kursi

kekuasaan, tetapi pada kemampuan menghadirkan narasi yang membuat masyarakat merasa

suaranya diwakili.

Mungkin karena itu sebagian publik masih melihat Anies sebagai simbol perubahan.

Bukan semata-mata karena program atau partai politik tertentu, melainkan karena ia sering

hadir sebagai pengingat bahwa demokrasi membutuhkan kritik, dialog, dan percakapan yang

terus hidup. Di tengah kecenderungan politik yang semakin pragmatis, posisi semacam ini

memiliki daya tarik tersendiri.

Tetapi ada hal lain yang sering luput diperhatikan.

Anies tidak muncul setiap hari.

Ia tidak bereaksi terhadap semua isu.

Ia tidak tergoda untuk mengomentari setiap kontroversi nasional.

Dalam dunia media sosial yang menghargai kecepatan dan kebisingan, pilihan untuk tidak selalu

berbicara justru menjadi strategi yang menarik. Ia hadir secukupnya. Tidak menghilang, tetapi

juga tidak membanjiri ruang publik.

Seolah memahami bahwa eksposur yang berlebihan dapat melahirkan kejenuhan.

Dalam teori komunikasi politik, konsistensi sering lebih penting daripada frekuensi. Publik tidak

selalu mengingat siapa yang paling sering berbicara. Publik lebih mudah mengingat siapa yang

Baca Juga  Kebebasan Pers, Governance, dan Transparansi Program MBG

berbicara pada saat yang tepat.

Karena itu setiap kemunculan Anies terasa memiliki bobot politik yang lebih besar daripada

durasinya.

Namun semua itu belum tentu cukup.Politik Indonesia adalah ruang yang cair. Loyalitas berubah. Koalisi berpindah. Tokoh yang hari

ini diperhitungkan bisa saja tenggelam besok pagi. Mereka yang hari ini berada dalam lingkar

kekuasaan belum tentu tetap berada di sana ketika 2029 tiba.

Sejarah politik Indonesia penuh dengan kejutan.

Yang tampak kuat bisa runtuh.

Yang dianggap selesai bisa kembali.

Karena itu terlalu dini menyimpulkan bahwa konsistensi komunikasi Anies otomatis menjadi

tiket menuju kompetisi 2029. Modal simbolik penting, tetapi politik juga membutuhkan

organisasi, jaringan, sumber daya, dan momentum sejarah yang tepat.

Meski demikian, ada satu fakta yang sulit dibantah.

Sampai hari ini, setiap kali Anies berbicara mengenai isu publik, Indonesia masih mendengarkan.

Barangkali bukan karena semua orang setuju.

Justru sebaliknya.

Ia didengar karena masih mampu memunculkan persetujuan sekaligus penolakan. Dan dalam

politik, sering kali relevansi diukur bukan dari seberapa banyak orang yang menyukai kita,

melainkan dari seberapa banyak orang merasa perlu merespons kita.

Mungkin di situlah letak cerita yang sesungguhnya.

Anies belum tentu sedang berada di pusat kekuasaan.

Tetapi ia masih berada di pusat perhatian.

Dan dalam politik demokratis, perhatian sering kali merupakan mata uang yang nilainya tak

kalah mahal dibandingkan kekuasaan itu sendiri

Tags: Anies Baswedan
ShareSendShareSharePinTweet
Post Sebelumnya

Polres Garut Telah Tetapkan Tersangka Kepada Terduga Pelaku Penggelapan Tanah di Cibatu

Post Selanjutnya

Bupati Garut Dukung Peningkatan Pariwisata Budaya dan Target Tuan Rumah Festival Seni Qasidah ke – 2 Se – Jawa Barat

RelatedPosts

Beranikah Seluruh Penegak Hukum Periksa Harta Semua Pejabat? Uji Nyata Komitmen Pemberantasan Korupsi

17 Juli 2026

Ketika Manusia Jadi Komoditas Menghilang: Belajar Pasar dari Jepang yang Suka “Menguap”

17 Juli 2026

Ketika Etika Mengalahkan Aturan, Negara Kehilangan Pedoman Bersama

17 Juli 2026

DPR WAJIB SAHKAN UU PERAMPASAN ASET. JANGAN JADIKAN HAM SEBAGAI TAMENG KORUPTOR.

16 Juli 2026

WPR dan IPR di Bangka Belitung: Solusi Tata Kelola atau Perpanjangan Ketergantungan pada Timah?

15 Juli 2026
Oplus_131072

Menjaga Kepercayaan dalam Kemitraan Negara: Pelajaran dari Polemik SPPG

15 Juli 2026
Post Selanjutnya

Bupati Garut Dukung Peningkatan Pariwisata Budaya dan Target Tuan Rumah Festival Seni Qasidah ke - 2 Se - Jawa Barat

Mirna Novita melaporkan dugaan fitnah ke Polda Bali di tengah sengketa hak asuh anak.

Sengketa Hak Asuh Anak, Ibu di Bali Dituduh Murtad dan Pakai Narkoba

Discussion about this post

KabarTerbaru

Presiden Prabowo Subianto Perlu Mengevaluasi Dugaan Kebocoran Informasi Pertemuan Terkait Febri Adriansyah

19 Juli 2026

Anak Hotman Paris Kritik Ayahnya Usai Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Sebut Pencitraan

19 Juli 2026

Benyamin Ungkap Pemkot Tangsel Catat Penurunan Stunting, Prevalensi 2026 Tinggal 8,2 Persen

19 Juli 2026

KBM UNPAM Dukung Polri Usut Tuntas Dugaan Korupsi Eks Jampidsus

19 Juli 2026

Tak Perlu Jauh ke Luar Negeri, Operasi Robotik Kini Bisa Dilakukan di Indonesia, RS Mandaya Puri

19 Juli 2026

PPATK Temukan 6.000 ASN Kementerian PU Terindikasi Judi Online, 4.000 Pegawai Diduga Manipulasi Absensi

19 Juli 2026
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo

KPK Soroti Mahalnya Biaya Politik sebagai Pintu Masuk Korupsi Pasca Pemilu

19 Juli 2026
Gedung Merah Putih KPK

KPK Siap Hadapi Praperadilan Kedua Asrul Azis Taba Terkait Penggeledahan Kasus Kuota Haji

18 Juli 2026

NPCI Kota Bogor Perkuat Sinergi dengan Kodim 0606 Matangkan Persiapan Peparda Jabar 2026

18 Juli 2026

Seskab Teddy: Presiden Prabowo dengan DEN Bahas Ketahanan Ekonomi hingga Percepatan GovTech

15 Juli 2026

Kabar Terpopuler

  • Owner PT Global Komodo Indonesia, Hironimus Amal. (Foto: Dok. Pribadi)

    Wow, Ekspedisi Ini Jadi Sistem Pendukung Kemajuan Bisnis Pariwisata Labuan Bajo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • WPR dan IPR di Bangka Belitung: Solusi Tata Kelola atau Perpanjangan Ketergantungan pada Timah?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Profil Lengkap Mayor Teddy: dari Taruna Nusantara hingga Ranger School, Kini Berpangkat Letkol

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabar Baik! RS Medina Garut Rekrut 99 Peserta Program Magang Nasional Kemenaker

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Manusia Jadi Komoditas Menghilang: Belajar Pasar dari Jepang yang Suka “Menguap”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Catatan Ringan Juli 2026: Dua Blok dan Satu Kue

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PSI Tangsel: Bergabungnya Narji Cagur Jadi Suntikan Semangat bagi Kader

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM
DJITUBERITA.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com