• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Minggu, Juni 14, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Opini

Kasus Andrie Yunus dan Bayang-Bayang Operasi False Flag

Tresyana Bulan oleh Tresyana Bulan
15 Maret 2026
di Opini
A A
0
Suara Ibu Indonesia dan masyarakat sipil menggelar aksi solidaritas Kami Bersama Andrie di Boulevard UGM

ilustrasi : Suara Ibu Indonesia dan masyarakat sipil menggelar aksi solidaritas Kami Bersama Andrie di Boulevard UGM, Sabtu (14/3/2026)

ShareSendShare ShareShare

oleh :
Arvindo Noviar
Ketua Umum Sukarelawan PRABU

Jakarta, Kabariku – Peristiwa kekerasan sering kali belum selesai dipahami sebagai fakta ketika ruang publik telah lebih dahulu memproduksi tafsirnya. Peristiwa baru saja terjadi, tetapi tudingan tentang siapa yang patut disalahkan telah lebih dahulu menyebar.

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

Begitulah yang tampak dalam kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus. Saat aparat hukum baru saja mengumpulkan bukti, sejumlah kesimpulan telah lebih dahulu diarahkan kepada negara sebagai pihak yang berada di balik serangan tersebut.

RelatedPosts

Kenaikan BBM, Skandal Tata Kelola MBG dan Mega Koruptor: Kombinasi Yang Perlu Diwaspadai

Harga BBM Non-Subsidi Akhirnya Naik, Alarm Bagi Rakyat

Membaca Prabowo dari Kacamata Pasar

Tuduhan itu muncul hampir bersamaan dengan kabar peristiwa, seolah kebenaran telah disusun bahkan sebelum peristiwa itu terjadi.

Dalam masyarakat yang memikul pengalaman sejarah panjang tentang ketegangan antara negara dan sebagian kelompok masyarakat sipil, reaksi semacam itu tentu dapat dimengerti.

Ingatan kolektif yang dibentuk oleh berbagai peristiwa masa lalu sering bergerak lebih cepat daripada verifikasi fakta.

Luka sejarah itu perlahan membentuk semacam refleks politik dalam membaca setiap tindakan kekerasan terhadap aktivis. Namun justru karena pengalaman sejarah itu pula, kita seharusnya belajar satu hal yang lebih mendasar.

Tidak setiap peristiwa kekerasan otomatis merupakan operasi negara. Dalam politik modern, sebuah peristiwa kadang justru menjadi pintu masuk bagi permainan persepsi yang jauh lebih rumit.

Dalam perspektif kontra intelijen, kekerasan tidak selalu dipahami semata sebagai tindakan yang bertujuan melukai korban. Ia sering digunakan sebagai instrumen untuk membentuk kesan tertentu di mata publik.

Serangan terhadap individu dapat menjadi pemantik bagi narasi politik yang jauh melampaui peristiwa itu sendiri.

Baca Juga  Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Wajib Tunduk dan Taat Terhadap  Aturan

Dalam kajian keamanan, pola semacam ini dikenal sebagai operasi false flag, yakni tindakan yang dirancang untuk menciptakan kesan bahwa pelaku sebenarnya adalah pihak lain.

Operasi semacam ini bekerja dengan cara mengarahkan kesimpulan publik ke arah tertentu sehingga tanggung jawab atas peristiwa tersebut perlahan berpindah kepada pihak yang ingin disudutkan.

Cara kerja operasi semacam ini tidak memerlukan rancangan yang terlalu rumit. Cukup hadirkan sebuah peristiwa dramatis, terlebih jika korban yang terseret di dalamnya memiliki posisi simbolik di mata publik.

Perhatian masyarakat segera terarah pada peristiwa itu, sementara ruang percakapan publik dipenuhi simpati dan kemarahan yang hampir bersamaan dengan tudingan yang mulai mengerucut pada satu sasaran.

Narasi pertama yang muncul sering kali segera diterima sebagai kebenaran.

Sejarah politik modern memberikan banyak contoh tentang bagaimana mekanisme semacam ini bekerja.

Kekerasan tidak selalu diarahkan untuk menghancurkan lawan secara langsung, tetapi untuk membentuk gambaran tertentu tentang siapa yang patut disalahkan.

Dalam banyak kasus, kerusakan yang paling besar justru terjadi pada reputasi pihak yang berhasil diseret ke dalam pusaran kecurigaan.

Karena itu membaca peristiwa penyiraman terhadap Andrie Yunus secara tergesa sebagai tindakan negara justru berisiko menutup kemungkinan pembacaan lain yang sama pentingnya.

Peristiwa semacam ini dapat memiliki berbagai lapisan motif yang belum sepenuhnya terlihat di permukaan. Ia bisa saja merupakan tindakan kriminal individual.

Ia dapat pula berkaitan dengan konflik personal yang belum diketahui publik. Bahkan tidak tertutup kemungkinan adanya pihak yang dengan sengaja memanfaatkan situasi untuk menciptakan kekacauan.

Indonesia kini memasuki fase konsolidasi politik baru di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Dalam masa seperti ini, legitimasi pemerintahan menjadi salah satu medan yang paling sensitif dalam pertarungan opini.

Baca Juga  Minim Komitmen dan Normalisasi Kekerasan, KontraS: Penghapusan Penyiksaan Hanya Angan?

Setiap peristiwa yang menimbulkan kesan bahwa negara bersikap represif atau gagal melindungi warganya segera memperoleh nilai strategis dalam perebutan persepsi publik.

Pada saat yang sama, perubahan konstelasi geopolitik kawasan dan meningkatnya rivalitas kekuatan besar menempatkan stabilitas politik dalam negeri sebagai variabel yang semakin diperhatikan.

Karena itu arah tafsir atas sebuah peristiwa dapat dengan cepat beresonansi jauh melampaui peristiwa itu sendiri.

Peristiwa politik sering kali tidak hanya meninggalkan pertanyaan tentang apa yang terjadi, tetapi juga tentang bagaimana peristiwa itu segera dimaknai.

Dalam kerangka analisis kontra intelijen, perhatian tidak boleh berhenti pada siapa pelaku di lapangan. Analisis harus menemukan siapa yang memperoleh keuntungan dari arah narasi yang terbentuk setelah peristiwa itu terjadi. Dari arah keuntungan tersebut biasanya mulai terbaca jejak motif yang lebih besar.

Peristiwa yang menimpa Andrie Yunus memperlihatkan betapa mudahnya sebuah kesimpulan terbentuk sebelum fakta benar-benar ditemukan.

Kekerasan terhadap seorang warga negara tentu merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan dan harus diusut secara tuntas oleh negara. Negara memikul tanggung jawab utama untuk mengungkap kasus ini secara transparan dan profesional.

Namun rakyat juga memikul tanggung jawab untuk menjaga disiplin berpikirnya sendiri.

Dalam ruang politik yang bergerak cepat oleh arus informasi, provokasi kerap bekerja melalui persepsi yang mendahului fakta.

Dan dalam politik modern, persepsi yang bergerak terlalu cepat sering kali justru membuka jalan bagi provokator untuk menggiring kepalsuan agar tampak sebagai kebenaran.*

Jakarta, 15 Maret 2026

Baca juga :

Polri Dalami Keterangan Saksi dan Bukti Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS di Jakarta Pusat
KontraS Desak Polisi Usut Tuntas Teror Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus
Yusril Desak Polisi Bongkar Aktor Intelektual di Balik Penyerangan Andrie Yunus

Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com

Tags: aktivis HAM Andrie YunusKasus penyiraman air kerasKontraSOperasi False FlagSukarelawan PRABU
ShareSendShareSharePinTweet
Post Sebelumnya

BGN Pastikan Program MBG Berlanjut Usai Idul Fitri: Fokus Benahi Pengawasan dan Sistem Layanan

Post Selanjutnya

Geo Dipa Energi Terima Hibah di USTDA IPEM 2026, Kembangkan Ekstraksi Litium Panas Bumi

RelatedPosts

ilustrasi

Kenaikan BBM, Skandal Tata Kelola MBG dan Mega Koruptor: Kombinasi Yang Perlu Diwaspadai

12 Juni 2026

Harga BBM Non-Subsidi Akhirnya Naik, Alarm Bagi Rakyat

11 Juni 2026

Membaca Prabowo dari Kacamata Pasar

8 Juni 2026

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

7 Juni 2026

Korupsi MBG adalah Laku Nista

7 Juni 2026
Foto : Anies Baswedan (Istimewa)

Gerak-Gerik yang Tak Hilang dari Radar

4 Juni 2026
Post Selanjutnya

Geo Dipa Energi Terima Hibah di USTDA IPEM 2026, Kembangkan Ekstraksi Litium Panas Bumi

Prabowo Subianto menjabat sebagai Danjen Kopassus

Danjen Kopassus di Panggung Politik Nasional

Discussion about this post

KabarTerbaru

Soroti Mobilisasi 12 Juni, Koalisi Masyarakat Sipil: TNI dan Komcad Bukan Instrumen Hadapi Demonstran

14 Juni 2026

Tata Kelola MBG Dibenahi, Mensesneg: Program Tepat Sasaran, Berkualitas dan Akuntabel

14 Juni 2026

BNN dan Komdigi Perkuat Pengawasan Tangkal Kejahatan Narkotika di Ruang Digital

13 Juni 2026
Ketua Umum DPP GMNI Muhamad Risyad Fahlefi mengajak mahasiswa mengedepankan aksi konstruktif, berbasis data (Istimewa)

Ketum DPP GMNI Muhamad Risyad Fahlefi: Mahasiswa Jangan Terjebak Provokasi!

13 Juni 2026

PKB Kabupaten Mamasa Regenerasi Pengurus Baru Masa Bakti 2026-2031 Didominasi Kaum Milenial

13 Juni 2026
Kejagung menetapkan Komisaris PT YAT sebagai tersangka dugaan markup pengadaan 21.801 motor listrik (istimewa)

Kejagung Ungkap Dugaan Markup Motor Listrik MBG Rp 1,1 Triliun, Komisaris PT YAT Jadi Tersangka

13 Juni 2026

Bantah Terlibat Penyimpangan Program MBG, Berikut Penjelasan Kapolres Metro Bekasi Kombes Pol Sumarni

13 Juni 2026

Pengamat : Parpol Koalisi Pecah Jika Jokowi Dorong Gibran di Pilpres 2029

13 Juni 2026

Pengamat: Militer tidak perlu dilibatkan dalam pengamanan demonstrasi, fokus pertahanan negara

13 Juni 2026

Seskab Teddy: Presiden Terima Pimpinan TNI, Perkuat Sinergi Pertahanan dan Akselerasi Pembangunan hingga Pelosok Negeri

10 Juni 2026

Kabar Terpopuler

  • Ruang Tunggu Gedung Merah Putih KPK

    OTT KPK di Sumsel dan Jakarta, Bupati Muara Enim dan 9 Orang Diamankan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Soal Ultimatum BEM SI Jateng “Reformasi Jilid 2”, LMND Ajak Mahasiswa Dorong Solusi untuk Bangsa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KPK Pastikan Fitroh Tak Kenal Sony Sonjaya, Minta Publik Waspadai Informasi Menyesatkan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • FSP BUMN IRA Desak Danantara Evaluasi Pejabat BUMN yang Belum Tuntaskan Hak Pekerja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 10 Tahun Tanpa Kepastian, Laskar MALARI Progati Tuntut Pengakuan Status Ojol Lewat Perppu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • SIAGA 98: Penyidikan Dugaan Korupsi di BGN Tidak Memerlukan Justice Collaborator, Waspadai Penyebaran Hoaks

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM
DJITUBERITA.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com