• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Selasa, Juli 21, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Opini

Rahasia Negara dan Kedewasaan Publik

Tresyana Bulan oleh Tresyana Bulan
21 Juli 2026
di Opini
A A
0
ShareSendShare ShareShare

oleh :
Aris Santoso
Pengamat Militer

Kabariku – Koordinator SIAGA 98 Hasanuddin, baru-baru ini menyampaikan sikap keprihatinannya tentang kemungkinan ada kebocoran informasi pada pertemuan-pertemuan yang melibatkan Presiden Prabowo, yang dimuat dalam sebuah media massa, saat menuliskan laporan terkait nama Febri Adriansyah (mantan Jampidsus).

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

Hasanuddin kemudian menegaskan, bahwa Presiden Prabowo Subianto perlu segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengamanan informasi di lingkungan pemerintahan.

RelatedPosts

Retakan Bernegara Mulai Terlihat

Beranikah Seluruh Penegak Hukum Periksa Harta Semua Pejabat? Uji Nyata Komitmen Pemberantasan Korupsi

Ketika Manusia Jadi Komoditas Menghilang: Belajar Pasar dari Jepang yang Suka “Menguap”

Dalam pandangan Hasanuddin, setiap pertemuan yang melibatkan Presiden dan para pejabat tinggi negara memiliki tingkat kerahasiaan yang tinggi sehingga tidak semestinya isi pembahasan beredar tanpa kejelasan mengenai sumbernya.

Selanjutnya Hasanuddin mendorong, apabila memang terjadi kebocoran informasi, hal tersebut merupakan persoalan serius yang dapat memengaruhi tata kelola pemerintahan dan kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Isu sensitif dan kedewasaan publik

Dalam era digital seperti sekarang, arus informasi begitu deras, dan bisa jadi terselip informasi yang sebenarnya masuk kategori “rahasia negara”.

Dengan kata lain, perbedaan antara rahasia negara atau bukan, menjadi demikian tipis. Sehingga diperlukan kedewasaan publik dalam mencerna informasi yang mungkin masuk kategori rahasia (negara) atau setidaknya sensitif.

Berita diangkatnya Kol Inf Paulus Panjaitan (anak dari Luhut Binsar Panjaitan) sebagai Komandan Brigif 18 Trisula Kostrad di Malang, dan Kol Inf M Benrieyadin (anak dari Menhan Sjafrie Sjamsuddin) sebagai Komandan Brigif  17 Kujang I Kostrad di Cijantung (Jakarta Timur), bukan termasuk rahasia negara, namun bisa dikategorikan sensitif bagi komunitas atau kelompok tertentu.

Asumsi itu muncul berdasar latar belakang pendidikan perwira Paulus dan Benrie, kebetulan keduanya bukan lulusan Akmil, sementara satuan yang mereka pimpin adalah satuan legendaris, yang secara tradisional menjadi “hak” perwira lulusan Akmil.

Baca Juga  MBG yang Bersih, Dampak yang Berlipat: Dari Gizi Siswa hingga Penggerak Ekonomi Lokal

Sensitivitas berita seperti ini, hampir mirip dengan berita dilantiknya anak dari mantan Kadivpropam Mabes Polri Irjen Pol Ferdy Sambo, sebagai perwira remaja Akpol kelas 2026. Tentu dibutuhkan kedewasaan publik dalam merespons berita-berita sensitive seperti itu.

Kemajuan teknologi membuat penyebaran informasi secara cepat, masif dan seolah tanpa filter. Hal ini dapat mengakibatkan kaburnya batas antara kenyataan dan persepsi, sehingga kontrol terhadap opini publik dapat menjadi perangkat seleksi informasi yang sangat efektif. Penetrasi satuan siber  seolah tidak terlalu diperlukan ketika persepsi dapat dibentuk.

Hadirnya kecerdasan buatan, algoritma digital dan big data  semakin memperkuat kemampuan state actor maupun non-state actor, dalam mengakses dan memengaruhi opini publik dalam skala masif.

Hal ini dapat memperluas ruang intervensi dan meningkatkan kompleksitas dalam menjaga isu yang berkembang,  baik pada level komunitas maupun masyarakat luas.

Negara perlu memiliki kesadaran strategis tentang pentingnya memantau isu yang berkembang di masyarakat. Ruang pikiran perlu dipandang sebagai domain yang tidak kalah penting dibanding penegakan hukum di lapangan. Itu sebabnya dibutuhkan soliditas aparatur negara, utamanya dari lembaga intelijen.

Apa yang menjadi keprihatinan Bung Hasanuddin di atas, tentang kemungkinan adannya “kebocoran” informasi, bisa jadi ada problem di hulu, dalam hal ini lembaga intelijen.

Kini yang dibutuhkan adalah sinergi dan koordinasi, seperti biasa diperlihatkan saat pasukan khusus TNI dan Polri (Densus 88), bahu membahu mengatasi ancaman terorisme.

Arti penting koordinasi dan tukar informasi kini semakin terasa, mengingat selalu potensi kebocoran informasi, seperti disampaikan Bung Hasanuddin. Salah satu berita yang muncul adalah, ketika detail informasi terkait perkembangan kasus Febrie tersampaikan ke publik, terlepas jurnalis dari media yang memberitakan, memiliki akses bagus ke sumber berita.

Baca Juga  Menegaskan Koalisi Prabowo-Jokowi: Ketika Bayang-Bayang Jokowi Tetap Mengiringi Pemerintahan Prabowo

Sekali lagi kita bisa menimba pengalaman saat Indonesia sedang gencar menghadapi aksi teror, di masa pemerintahan Megawati dan SBY. Dibutuhkan koordinasi dan sinergi antara personel unit intelijen dan unit antiteror. Biasanya memang personel satuan intelijen dan antiteror berada dalam satuan yang terpisah.

Seperti di Kopassus, unit intelijen di bawah grup Sandi Yudha, sementera unit antiteror tergabung dalam Satgultor 81. Demikian juga yang terjadi dalam Resimen IV/Gegana Brimob Polri, fungsi intelijen dipegang oleh Detasemen A, sementara Detasemen C menjalankan fungsi antiteror, selain ada Densus 88 Polri.

Belajar dari Ali Moertopo

Untuk menghindari kebocoran informasi, salah satunya dibutuhkan personel intelijen yang profesional dan berintegritas, seperti sudah diperlihatkan figur intelijen senior Ali Moertopo, juga Omar Qatab (pendiri lembaga intelijen Polri).

Dalam dunia intelijen, Ali Moertopo ibarat pendekar, ilmunya sangat tinggi, jadi dia bisa menggabungkan segala jurus pamungkas agar misinya berhasil. Tradisi intelijen Indonesia banyak diwarnai oleh dua orang tokoh, yaitu Kolonel Zulkifli Lubis dan Irjen (Pol) M Omar Qatab (ayah komedian Indro Warkop). Warisan terpenting Zulkifli Lubis adalah konsep intelijen tempur (combat intelligence), sementara Omar Qatab lebih sebagai “intelijen masyarakat”, yakni kegiatan yang memonitor potensi bahaya dalam masyarakat.

Tidak ada sesuatu yang benar-benar baru dalam sejarah. Dalam menjaga keberlangsungan kekuasaannya, Soeharto banyak dibantu orang-orang yang sangat loyal di sekelilingnya, salah satunya adalah Ali Moertopo.

Ali Moertopo (dan Omar Qatab) memang telah pergi, namun tetap bisa memberi inspirasi dan spirit bagi personel intelijen pada umumnya, termasuk yang di bawah Kejaksaan Agung.

Meski sudah lama tiada, karya dan gagasan Ali Moertopo selalu aktual untuk dibicarakan. Ali Moertopo agak berbeda dengan tipikal perwira era Orde Baru pada umumnya, yang biasa bergaya flamboyan dan identik dengan golf. Ali Moertopo jauh dari citra seperti itu,  Ali lebih berminat pada gagasan, dan itu didukung oleh “kegilaannya” dalam membaca buku.

Baca Juga  Isu Kejaksaan "Superbody", Suparji Achmad: Corruptor Fight Back

Posisi Ali Moertopo kira-kira mirip dengan Luhut Binsar Panjaitan (LBP, Akmil 1970) dalam rezim Jokowi. Begitu pentingnya posisi LBP dalam rezim Jokowi, sehingga LBP sempat mendapat julukan sebagai “presiden bayangan”.

Dalam pemerintahan Jokowi periode pertama (2014-2019), secara gamblang   bisa dilihat, bagaimana kuatnya peran Luhut Panjaitan. Cukup sering Presiden Jokowi memberi jawaban “tunggu Pak Luhut”, ketika ditemui awak media pada kasus-kasus yang pelik.

Keberadaan tandem penguasa, yang umumnyan adalah figur perwira tinggi, memang warisan politik gaya  Soeharto. Era Soeharto boleh saja berlalu, namun warisannya berupa peran para jenderal (termasuk purnawirawan) dalam politik, seolah tidak mengenal kata akhir.

Jokowi dan Presiden-Presiden sebelumnya, kemudian melanjutkan model relasi dengan figur jenderal karismatik sebagai sandaran politiknya.

Pada diri Megawati misalnya, jauh hari sebelum menjadi presiden, memang sudah dikenal dekat Theo Sjafei (Akmil 1965) dan Hendro Priyono (Akmil 1967). Demikian pula dengan Gus Dur, yang sedianya dulu akan menjadikan Letjen TNI Agus Wirahadikusumah (Akmil 1973) sebagai pendampingnya, namun sayang tidak berlanjut, karena Gus Dur terlalu cepat lengser.

Hanya SBY yang relatif tidak terlalu tergantung pada figur militer, bisa dipahami mengingat SBY sendiri berlatar belakang militer.

Dalam soal pertemanan ini, tampaknya Soeharto boleh dikatakan beruntung, karena dia didampingi oleh teman dekat,  selain kesetiaannya yang nyaris tanpa batas juga memiliki karakter.

Benar, Ali Moertopo adalah teman setia Soeharto sejak masih di pasukan (Kodam Diponegoro), hingga Soeharto sudah berkuasa di Jakarta. Salah satu perilaku yang bisa diteladani dari Ali Moertopo, Ali tidak pernah menumpuk kekayaan selama mendampingi Soeharto.*

Jakarta, 21 Juli 2026

Baca juga :

Presiden Prabowo Subianto Perlu Mengevaluasi Dugaan Kebocoran Informasi Pertemuan Terkait Febri Adriansyah
Tags: kedewasaan publikKejaksaan Agungkorupsi TPPU Febrie AdriansyahPolriPresiden Prabowo Subiantorahasia negara
ShareSendShareSharePinTweet
Post Sebelumnya

Lukman Edy: P2N Jadi Rumah Besar Pengusaha Nahdliyin untuk Perkuat Ekonomi Nasional

Post Selanjutnya

Retakan Bernegara Mulai Terlihat

RelatedPosts

Retakan Bernegara Mulai Terlihat

21 Juli 2026

Beranikah Seluruh Penegak Hukum Periksa Harta Semua Pejabat? Uji Nyata Komitmen Pemberantasan Korupsi

17 Juli 2026

Ketika Manusia Jadi Komoditas Menghilang: Belajar Pasar dari Jepang yang Suka “Menguap”

17 Juli 2026

Ketika Etika Mengalahkan Aturan, Negara Kehilangan Pedoman Bersama

17 Juli 2026

DPR WAJIB SAHKAN UU PERAMPASAN ASET. JANGAN JADIKAN HAM SEBAGAI TAMENG KORUPTOR.

16 Juli 2026

WPR dan IPR di Bangka Belitung: Solusi Tata Kelola atau Perpanjangan Ketergantungan pada Timah?

15 Juli 2026
Post Selanjutnya

Retakan Bernegara Mulai Terlihat

Kejari Tangsel Setor Uang Rampasan Negara Rp14,2 Miliar dari Perkara Pinjol

Discussion about this post

KabarTerbaru

Foto: Istimewa

16 Tahun Menanti Penyelesaian, Kelompok Tani Bosowa Tuntut Ganti Rugi Lahan 137,5 Hektare kepada PT KPC

21 Juli 2026

Potensi Kebakaran, Pemkot Tangsel Himbau Masyarakat Tidak Melakukan Pembakaran Sampah Secara Terbuka

21 Juli 2026

Bupati Garut Dorong Klinik Utama Rotinsulu Tingkatkan Sosialisasi Layanan Kesehatan kepada Masyarakat

21 Juli 2026

Kejari Tangsel Setor Uang Rampasan Negara Rp14,2 Miliar dari Perkara Pinjol

21 Juli 2026

Retakan Bernegara Mulai Terlihat

21 Juli 2026

Rahasia Negara dan Kedewasaan Publik

21 Juli 2026

Lukman Edy: P2N Jadi Rumah Besar Pengusaha Nahdliyin untuk Perkuat Ekonomi Nasional

21 Juli 2026

Dewan Pers Sesalkan Sikap Hotman Paris, Tegur Pernyataan yang Dinilai Merendahkan Profesi Wartawan

21 Juli 2026

Ketua AMMI Ali Yusuf : KPK Lebih Netral Tangani Kasus Febrie

21 Juli 2026

Respons Istana soal Kasus Febrie: Penegakan Hukum Berjalan Tanpa Intervensi Presiden

21 Juli 2026

Kabar Terpopuler

  • Owner PT Global Komodo Indonesia, Hironimus Amal. (Foto: Dok. Pribadi)

    Wow, Ekspedisi Ini Jadi Sistem Pendukung Kemajuan Bisnis Pariwisata Labuan Bajo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Manusia Jadi Komoditas Menghilang: Belajar Pasar dari Jepang yang Suka “Menguap”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Profil Lengkap Mayor Teddy: dari Taruna Nusantara hingga Ranger School, Kini Berpangkat Letkol

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • WPR dan IPR di Bangka Belitung: Solusi Tata Kelola atau Perpanjangan Ketergantungan pada Timah?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabar Baik! RS Medina Garut Rekrut 99 Peserta Program Magang Nasional Kemenaker

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Presiden Prabowo Subianto Perlu Mengevaluasi Dugaan Kebocoran Informasi Pertemuan Terkait Febri Adriansyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Tuduhan Penggelapan dan Penipuan Dr.Andi Kusuma,S.H.M.kn., CTL.,Resmi SP3D

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM
DJITUBERITA.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com