Penulis : Sri Maryati, Dosen FEB UNAND, Ketua SDGs Center UNAND
Tantangan Makro Ekonomi: Urgensi Menemukan Sumber Pertumbuhan Baru
Jakarta, Kabariku.com– Kondisi perekonomian nasional saat ini sedang berada dalam fase yang penuh tekanan. Di satu sisi, kita dituntut untuk terus memacu pertumbuhan; di sisi lain, realitas menunjukkan gejala kontraksi yang cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berdasarkan SAKERAN Februari 2026 berjumlah sekitar 7,24 juta jiwa. Fenomena ini diperparah oleh penurunan daya beli masyarakat. Riset keuangan terbaru menunjukkan kelas menengah kita mulai menggerus tabungan mereka demi mempertahankan konsumsi harian, sementara laju pertumbuhan ekonomi nasional tertahan di kisaran 4,8 persen.
Di tengah lesunya aktivitas manufaktur dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), kita tersadar bahwa ketergantungan pada industri padat modal perkotaan sangat rentan terhadap guncangan ekonomi global. Negara membutuhkan bantalan ekonomi baru yang tidak hanya tangguh menahan badai, tetapi juga mampu mendistribusikan kesejahteraan secara merata. Jawaban atas tantangan makro tersebut sejatinya tertanam kuat di tanah perdesaan kita. Pengembangan Desa Wisata dan Ekonomi Kreatif Berbasis Masyarakat (Community-Based Tourism) dapat berperan sebagai instrumen ganda: sebuah sektor yang sarat akan tantangan internal, namun sekaligus menjadi juru selamat ekonomi yang paling rasional dari desa menuju pentas dunia. Sektor pariwisata domestik, khususnya yang berbasis pedesaan, muncul sebagai salah satu jawaban paling rasional untuk memicu pertumbuhan ekonomi yang merata dan inklusif.
Pergeseran Paradigma Wisatawan dan Peluang Ekonomi Kreatif
Di tengah kesulitan ekonomi, perilaku konsumen dan wisatawan turut mengalami pergeseran. Wisatawan kini cenderung memilih destinasi domestik yang terjangkau, berjarak dekat, namun menawarkan pengalaman yang bermakna (meaningful travel). Desa wisata menawarkan alternatif liburan yang menyatu dengan alam dan budaya, yang sangat diminati oleh pasar pasca-pandemi dan generasi muda saat ini. Lebih dari itu, kehadiran ekonomi kreatif di desa—seperti kerajinan tangan khas, kuliner lokal, dan pertunjukan seni—mampu memberikan nilai tambah tinggi pada produk desa, sehingga menciptakan lapangan kerja baru bagi pemuda dan perempuan pedesaan tanpa perlu melakukan urbanisasi.
Desa wisata hadir sebagai jawaban atas pergeseran preferensi ini, dengan menawarkan alternatif liburan yang ramah anggaran namun kaya akan nilai kemanusiaan. Ketika seorang wisatawan asing atau domestik memutuskan tinggal di sebuah homestay milik warga, belajar memahat, atau memanen kopi bersama petani lokal, di sinilah keajaiban ekonomi terjadi. Uang yang dibelanjakan langsung masuk ke kantong masyarakat setempat tanpa melalui perantara korporasi besar. Perputaran modal, bahan baku, dan tenaga kerja mengandalkan ekosistem lokal yang mandiri, menjadikan desa wisata memiliki tingkat resiliensi (daya tahan) yang sangat tinggi terhadap krisis moneter global.
Transformasi desa wisata: Menembus Batas Lewat Digitalisasi dan Meningkatkan Devisa
Pemerintah pada tahun 2026 telah memasang target yang ambisius: sektor pariwisata dipatok menyumbang devisa negara sebesar 22,00 hingga 24,70 miliar dolar AS, dengan kontribusi terhadap PDB nasional mencapai 4,7 persen. Target ini akan sulit tercapai jika hanya bertumpu pada destinasi konvensional . untuk itu, transformasi desa wisata menjadi berstandar global adalah kunci untuk mendongkrak pengeluaran wisatawan per kunjungan (tourist expenditure). Untuk mewujudkannya, strategi pengembangan harus digeser dari sekadar menjual pemandangan alam (selling views) menjadi menjual narasi (selling stories). Produk ekonomi kreatif desa, mulai dari anyaman bambu, kain tenun khas, hingga kuliner tradisional, harus dikemas dengan teknik storytelling yang kuat guna memikat emosi pasar internasional. Nilai estetika inilah yang mengubah barang komoditas murah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi di platform e-commerce global.
Cita-cita untuk membawa desa ke panggung dunia akan kandas tanpa adanya jembatan teknologi (Tourism 5.0). Digitalisasi ekosistem desa menjadi harga mati untuk memangkas jarak antara pelaku UMKM desa dengan konsumen mancanegara. Pemuda-pemuda desa harus dilatih menjadi kreator konten yang fasih memanfaatkan algoritma Instagram, TikTok, hingga YouTube untuk memperlihatkan keunikan desa mereka ke seluruh penjuru bumi.
Selain infrastruktur digital, penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) lokal melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga menjadi pilar utama. Standardisasi pelayanan (hospitality), pelatihan bahasa asing, serta jaminan sanitasi yang higienis merupakan modal utama agar wisatawan asing merasa aman dan betah berlama-lama tinggal di desa.
Potensi dan Prestasi Nagari Wisata Ranah Minang
Desa pariwisata yang dikenal dengan nama Nagari Wisata telah mampu menjadi katup penyelamat ekonomi di Provinsi Sumatera Barat. Bumi Minangkabau ini berhasil membuktikan bahwa pembinaan desa wisata berbasis komunitas (nagari) secara linier mampu mendongkrak pergerakan jutaan wisatawan domestik maupun mancanegara di luar target awal pemerintah daerah. Melalui program strategi terpadu, tidak kurang dari 338 desa wisata di Sumatera Barat kini telah terdaftar resmi dalam Jaringan Desa Wisata (Jadesta) Kemenparekraf.
Kekuatan Sumatera Barat terletak pada kepiawaian dalam mengemas adat budaya matrilineal dan keelokan bentang alamnya menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Salah satu contoh prestasi adalah Nagari Wisata Koto Kaciak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, yang sukses menembus jajaran 300 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) pada tahun 2024. Terletak di kaki Bukit Barisan dan selingkar Danau Maninjau, nagari ini dengan cerdas menggeser fokus dari sekadar pamer keindahan alam menjadi destinasi berbasis pelestarian seni budaya dan edukasi produk ekonomi kreatif
Melalui motor penggerak Pokdarwis Sirantiah, Koto Kaciak menyuguhkan atraksi pertunjukan tambua tansa, silek (silat tradisional), hingga ritual magis seni Simuntu. Kejeniusan ekonomi kreatif warga setempat kian bersinar lewat penciptaan Gadebong Koto Kaciak, sebuah celana tradisional khas yang memiliki motif serta teknik pembuatan yang sangat unik. Keberhasilan nagari ini membuktikan bahwa identitas tradisi yang dirawat mandiri oleh komunitas lokal bukan sekadar komoditas hiburan, melainkan aset ekonomi bernilai tinggi yang dicari pasar wisata global
Catatan Penutup
Mengembangkan desa wisata di tengah lesunya ekonomi nasional bukan lagi sekadar pilihan program rekreasi, melainkan sebuah strategi intervensi ekonomi yang mendesak. Melalui optimalisasi potensi desa, masyarakat tidak hanya diajak untuk bertahan menghadapi krisis, tetapi juga diajari cara berdaulat secara ekonomi. Mengemas keunikan lokal menjadi produk berkelas global adalah momentum emas untuk memulihkan ekonomi nasional, dimulai dari lini paling mendasar: dari desa menuju dunia.
Kendati demikian, satu variabel krusial yang tidak boleh diabaikan oleh pemerintah dan pelaku usaha adalah ancaman bencana alam yang membayangi keberlanjutan desa wisata.
Berada di lanskap ring of fire, Kepulauan Indonesia dikepung indeks risiko bencana yang sangat tinggi. Kombinasi ancaman gempa, longsor, banjir bandang, hingga kerusakan ekosistem perairan dan danau strategis nasional menjadi bom waktu. Rangkaian bencana hidrometeorologi terkini menjadi bukti nyata ketika puluhan desa wisata dan fasilitas homestay berbasis komunitas di berbagai daerah lumpuh total dalam sekejap
Oleh karena itu, pemerintah pusat dan daerah serta para pelaku industri tidak boleh sekadar mengejar angka kunjungan dan pertumbuhan ekonomi semata. Konsep jaring pengaman ekonomi ini akan runtuh jika tidak dibarengi dengan komitmen terhadap kedaulatan ekologis. Pemerintah wajib menegakkan aturan tata ruang secara tegas, menghentikan laju alih fungsi lahan hulu, serta memfasilitasi pembangunan infrastruktur evakuasi.
Di sisi lain, pelaku usaha dan kelompok sadar wisata (pokdarwis) harus mulai mengadopsi prinsip pariwisata hijau (green tourism) serta membekali diri dengan sistem mitigasi bencana berbasis kearifan local.
Dengan memastikan keselamatan lingkungan berjalan seiring dengan inovasi ekonomi, kita sedang membuktikan bahwa pemulihan ekonomi nasional yang sejati berakar kuat dari bawah: dari desa yang tangguh bencana, menuju dunia.



















Discussion about this post