oleh :
Kuldip Singh (Diva),
Senator Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (Prodem)
Kabariku – Artikel The Straits Times berjudul As Prabowo Falters, Indonesia’s Political Heavyweights Smell an Opening, menarik untuk dicermati, bukan semata karena isinya, melainkan karena cara pandang yang digunakannya dalam membaca politik Indonesia.
Tesis utama artikel tersebut sederhana: ketika rupiah mengalami tekanan, pasar saham bergejolak, dan investor asing menunjukkan kekhawatiran terhadap arah kebijakan ekonomi, posisi politik Presiden Prabowo Subianto dianggap melemah.
Dalam situasi ltu, sejumlah tokoh politik seperti Anies Baswedan, Agus Harimurti Yudhoyono, hingga Jokowi disebut mulai menyiapkan langkah untuk kontestasi politik 2029.
Bagi pembaca Indonesia, analisis semacam ini tidak sepenuhnya keliru. Politik memang selalu membuka ruang bagi para aktor untuk menghitung peluang. Tidak ada kekuasaan yang terbebas dari manuver elite.
Namun persoalannya, artikel tersebut tampak melihat Indonesia hampir sepenuhnya dari sudut pandang pasar dan persepsi investor.
Seolah-olah ketika pasar gelisah, maka kekuasaan otomatis melemah. Seolah-olah ketika investor ragu, maka dukungan politik rakyat ikut surut.
Padahal pengalaman Indonesia menunjukkan kenyataan yang jauh lebih kompleks. Popularitas seorang Presiden tidak selalu bergerak searah dengan indeks saham atau nilai tukar.
Basis legitimasi politik sering kali dibentuk oleh faktor yang berbeda: persepsi kepemimpinan, kedekatan dengan rakyat, program-program sosial, stabilitas nasional, dan kemampuan menjaga harapan publik.
Prabowo sendiri tidak terpilih semata karena mendapat dukungan pasar. la menang karena berhasil membangun koalisi sosial dan politik yang luas, mulai dari kelompok nasionalis, masyarakat pedesaan, pemilih kelas menengah bawah, hingga mereka yang menginginkan negara lebih aktif dalam mengelola pembangunan ekonomi.
Karena itu, kesimpulan bahwa Prabowo sedang “falter” atau terpuruk sesungguhnya lebih merupakan interpretasi daripada fakta politik yang sudah terbukti. Yang justru menarik dari artikel tersebut adalah pengakuan tersirat bahwa pertarungan menuju 2029 telah dimulai jauh lebih awal.
Para elite mulai mempersiapkan posisi, membangun narasl, dan mengukur peluang. Dalam politik, persepsi mengenai masa depan sering kali sama pentingnya dengan kondisi hari ini.
Namun Indonesia tidak bisa dibaca hanya melalui layar Bloomberg, laporan investor, atau pergerakan pasar keuangan. Politik Indonesia memiliki variabel yang jauh lebih rumit: konsolidasi partal, hubungan antar elite, kekuatan organisasi di akar rurnput, dinamika masyarakat sipil, serta faktor kebudayaan yang sering tidak terlihat oleh pengamat luar.
Karena ltu, artikel tersebut lebih tepat dipahami sebagai cerminan bagaimana sebagian media internasional dan komunitas investor memandang pemerintahan Prabowo saat ini, bukan sebagai vonis akhir atas masa depan politiknya.
Pada akhirnya, yang akan menentukan kuat atau lemahnya seorang presiden bukanlah sentimen pasar semata, melainkan kemampuan menghadirkan hasil nyata bagi rakyat.
Politik Indonesia pada akhirnya tetap diputuskan oleh rakyat Indonesia sendiri, bukan oleh pasar, media asing, ataupun para spekulan politik yang terlalu dini menghitung akhir sebuah pemerintahan.*
Jakarta, 8 Juni 2026
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com




















Discussion about this post