Bogor, Kabariku – Peringatan Hari Bumi 2026 di Kabupaten Bogor diwujudkan melalui aksi konkret penanaman ribuan pohon produktif di kawasan Bomang, Kecamatan Tajurhalang, Sabtu (25/4/2026).
Kegiatan bertajuk “Hijaukan Bumi, Rawat Air Bomang” ini menjadi upaya kolaboratif memulihkan kawasan hulu sekaligus menjaga ketahanan air di wilayah tersebut. Aksi yang digelar oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor bersama komunitas dan warga ini dimulai sejak pukul 07.30 WIB.
Ratusan peserta yang terdiri dari pelajar, relawan, dan masyarakat memadati area di sekitar Jalan Raya Bomang untuk menanam sebanyak 1.200 bibit pohon, seperti trembesi, alpukat, dan jambu biji.

Penanaman dilakukan di lahan kritis seluas 1,5 hektare yang sebelumnya mengalami degradasi akibat alih fungsi lahan. Kawasan ini dinilai strategis karena berada di daerah hulu aliran Sungai Ciliwung, yang berperan penting terhadap kondisi lingkungan di wilayah hilir.
Camat Tajurhalang, Ivan Pramodya, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan investasi jangka panjang bagi lingkungan.
“Bomang ini hulunya Ciliwung. Kalau di sini gundul, wilayah seperti Cibinong hingga Depok akan terdampak banjir. Hari ini kita tanam pohon, 10 tahun lagi kita panen air bersih,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, dalam lima tahun terakhir Kecamatan Tajurhalang telah kehilangan sekitar 12 persen tutupan hijau. Pemerintah kecamatan menargetkan pemulihan hingga 50 hektare ruang terbuka hijau pada periode 2026-2027.
“Tidak bisa DLH bekerja sendiri. Warga, desa, dan komunitas harus terlibat aktif dalam perawatan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Penaatan dan Peningkatan Kapasitas DLH Kabupaten Bogor, Robby, menjelaskan bahwa pemilihan lokasi penanaman didasarkan pada kajian kerentanan lingkungan.
“Debit air Situ Bomang turun hingga 30 persen pada musim kemarau lalu, dengan tingkat erosi yang tinggi. Karena itu kami memilih pohon produktif agar masyarakat juga mendapatkan manfaat ekonomi dan terdorong untuk merawatnya,” jelasnya.
DLH, lanjut Robby, akan melakukan pemantauan rutin setiap tiga bulan guna memastikan keberlangsungan tanaman.
“Kalau ada yang mati, langsung kami lakukan penyulaman. Jangan sampai hanya tanam lalu ditinggalkan,” katanya.
Dukungan juga datang dari komunitas lokal. Ketua Komunitas Bumi Langit, Raka Mahendra, menyambut baik kolaborasi ini. Ia mengaku selama dua tahun terakhir komunitasnya telah melakukan penanaman mandiri, namun terkendala perawatan.
“Sekarang ada komitmen dari DLH dan pemerintah desa untuk pemeliharaan. Ini yang selama ini kami harapkan,” ungkapnya.
Komunitas Bumi Langit bahkan telah menyiapkan 200 relawan yang akan bergiliran menyiram tanaman setiap akhir pekan selama musim kemarau.
“Pohon ini bukan milik pemerintah atau individu, tapi milik generasi mendatang,” tambah Raka.
Sebagai bentuk keberlanjutan, kegiatan ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama melalui program “Adopsi Pohon Bomang” yang melibatkan perwakilan RT/RW, sekolah, dan karang taruna.
Setiap pohon juga dilengkapi kode QR untuk memudahkan pemantauan digital oleh DLH, memastikan transparansi sekaligus akuntabilitas dalam upaya penghijauan tersebut.*Jay
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com



















Discussion about this post