• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Senin, Juli 20, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Opini

Mengatasi Krisis Dengan Kesejukan: Pelajaran Kepemimpinan Jenderal Soedirman

Redaksi oleh Redaksi
5 November 2021
di Opini, Peristiwa, Profile
A A
0
ShareSendShare ShareShare
Oleh Taufan Hunneman

Kabariku- Seorang pemimpin biasanya diuji saat menghadapi krisis. Dalam situasi krisis pula, kualitas seorang pemimpin akan terlihat, bagaimana dia mengatasi situasi dengan tenang, nyaris tanpa gejolak berarti.  Pelajaran seperti inilah yang bisa kita petik dari Jenderal Soedirman.

Dalam sekitar lima tahun memimpin TNI atau ABRI, tentu banyak sekali permasalahan yang dihadapi Soedirman, terlebih kalau kita bisa membayangkan bagaimana kompleksnya persoalan tentara di masa awal republik, namun secara umum Soedirman bisa mengatasi secara tenang. Salah satu  masalah  yang pernah dihadapi adalah program pengurangan personel TNI, yang biasa dikenal sebagai program Re-ra (reorganisasi dan rasionalisasi).

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

Program Re-ra diintrodusir oleh Perdana Menteri Mohammad Hatta  (1948), yang  bertujuan membentuk satuan TNI yang kecil dan modern, untuk itu harus diadakan pengurangan personel. Bagi prajurit yang sekiranya kurang kompeten, akan disalurkan ke sektor lain yang lebih produktif, salah satunya mengikuti program transmigrasi. Termasuk juga fasilitas beasiswa bagi yang ingin melanjutkan pendidikan formal. Soedirman berperan dalam menenangkan segenap anggotanya, yang merasa gelisah atas keberadaan program ini.

RelatedPosts

Beranikah Seluruh Penegak Hukum Periksa Harta Semua Pejabat? Uji Nyata Komitmen Pemberantasan Korupsi

Ketika Manusia Jadi Komoditas Menghilang: Belajar Pasar dari Jepang yang Suka “Menguap”

Ketika Etika Mengalahkan Aturan, Negara Kehilangan Pedoman Bersama

Memang pada akhirnya program Re-ra ini tidak sempat berjalan sepenuhnya, karena keburu terjadi Agresi Militer Belanda II (Desember 1948). Namun soal peran Soedirman dalam mengatasi (potensi) krisis tetap menjadi pelajaran penting, dan bisa menjadi rujukan bagi pemimpin atau komandan TNI generasi berikutnya, termasuk bagi pemimpin lembaga sipil.

Sekitar empat dekade berikutnya muncul kejadian yang esensinya hampir sama, namun dengan skala  lebih kecil. Peristiwa dimaksud adalah upacara penggantian baret, dari Baret Merah (Kopassus) menjadi Baret Hijau (Kostrad) di Makassar, pada pertengahan tahun 1985.

Pergantian baret ini dampak dari reorganisasi Kopassus, yang implementasinya berupa perampingan jumlah anggota. Pada fase ini, peran Komandan Kopassus (saat itu) Brigjen TNI Sintong Panjaitan (Akmil 1963), sangat menentukan, dengan menguatkan moril para anak buahnya, yang sekiranya tidak lolos  seleksi ulang sebagai anggota Kopassus.

Baca Juga  TNI dan Tim SAR Gercep Evakuasi Mahasiswa UNG Terseret Arus Sungai di Gorontalo

Bagi anggota Kopassus yang tidak lolos seleksi ulang, kemudian dipindahkan sebagai anggota generasi pertama Brigade Infanteri Lintas Udara 3 Kostrad, yang bermarkas di Makassar. Satuan ini sampai sekarang masih berdiri. Peristiwa yang sangat mengharukan akhirnya terjadi, ketika para anggota Kopassus berjongkok untuk melepas baret merah , lambang prajurit para komando, kemudian menggantinya dengan Baret Hijau, atribut pasukan lintas udara.

Sungguh realitas yang berat, harus melepas baret kebanggaan, banyak di antara prajurit yang melakukannya dengan mata berkaca-kaca, bahkan meneteskan air mata. Tetapi sebagai prajurit, mereka tetap taat melaksanakan perintah, betapa pun beratnya perintah tersebut. Pada situasi kritis seperti inilah, kemampuan pemimpin benar-benar diuji.

Momentum historis

Pelajaran lain yang bisa dipetik dari kepemimpinan Jenderal Soedirman adalah kemampuannya membaca situasi kritis. Itu terjadi ketika Soedirman memilih melanjutkan perjuangan dengan melakukan perjalanan gerilya, ketika Soekarno dan Hatta ditawan tentara Belanda, saat tentara menyerang Yogyakarta pada pertengahan Desember 1948. Pada masa-masa ini kemudian muncul kesan terjadi kerenggangan antara militer dan pimpinan sipil.

Pada suatu kali Hatta  sempat memberi catatan terkait perjalanan gerilya Soedirman. Bagi Hatta,  Soedirman adalah orang yang keras hati dalam mempertahankan pendi, tetapi apabila pemerintah sudah mengambil keputusan, Soedirman dengan taat dan menjalalan sekuat tenaganya. Taat pada perintah atasan, sebagaimana kemudian juga dilakukan para mantan anggota Kopassus tersebut.

Dari catatan sejarah kita bisa tahu, Soedirman tetap menjaga kemanunggalan tentara dengan pemerintah. Soedirman rela mengorbankan aspirasinya, yang sejatinya tidak setuju dengan keputusan pemerintah untuk berkompromi dengan Belanda, apalagi menyerah.

Itu dilakukan Soedirman demi perjuangan, yang harus dibayar dengan teramat mahal, berupa beban psikologis, dan kesehatan yang semakin memburuk. Dalam perjalanan gerilyanya yang legendaris itu, dilalui Soedirman dengan kondisi paru-paru yang sangat memprihatinkan.

Baca Juga  Bantah Dahnil, Menhan Prabowo: Masa Kita Enggak Terima Gaji

Tunduk pada supremasi sipil, itulah salah satu warisan Soedirman, meskipun sempat dibatalkan pada rezim Soehart0 (1966-1998). Hal itu dibuktikan ketika Soedirman menghadap Soekarno di Gedung Agung (Istana Yogya), pada pertengahan Juli 1949, selepas perjalanan gerilya. Pelaporan Soedirman itu bisa dibaca sebagai simbol, Soedirman tunduk pada Soekarno, artinya militer tunduk pada supremasi sipil, bagian dari aspirasi demokratis negara modern.

Kepemimpinan Soedirman (bersama Oerip Soemohardjo) yang terbilang singkat di masa awal republik, justru ibarat berlian dalam memori publik. Menjadikan mereka berdua sebagai tokoh yang tak lekang oleh zaman. Takdir juga yang menyebabkan keduanya cepat berpulang, namun justru menjadi berkah tersendiri,  mereka tak sempat terpapar ideologi kekuasaan, sebagaimana yang terjadi pada sebagian elite TNI generasi berikutnya.

Duet kepemimpinan Soedirman dan Oerip sepertinya tidak akan pernah dilahirkan kembali. Periode mereka bisa disebut eenmalig (sekali saja). Istilah bahasa belanda untuk menggambarkan fenomena historis, bahwa sebuah peristiwa atau kesempatan emas, biasanya hanya datang sekali. Seperti ungkapan populer dalam masyarakat, kesempatan tidak pernah datang dua kali.

Seperti juga dwitunggal Soekarno dan Hatta, duet Soedirman dan Oerip saling melengkapi tanpa harus menafikan karakter masing-masing. Mungkin latar belakang kultural ikut membantu, secara kebetulan antara Soedirman dan Oerip berasal dari kawasan yang dikenal sebagai pusat rekrutmen anggota KNIL (Tentara Kerajaan Hindia-Belanda). Soedirman berasal dari Banyumas, sementara Oerip dari Purworejo.

Tradisi Banyumasan

Tradisi banyumasan merujuk pada wilayah eks Karesidenan Banyumas, dengan Kota Purwokerto sebagai pusatnya. Soedirman sendiri kelahiran Purbalingga, dan dibesarkan di Cilacap, kota atau kabupaten yang juga masuk dalam tradisi banyumasan.

Sementara Oerip berasal dari Purworejo, kota yang posisinya sedikit ke timur dari wilayah Banyumas. Namun, dalam tinjauan klasik tentang tradisi asal-usul perwira, perwira asal Purworejo dianggap bagian tradisi banyumasan, meski Purworejo juga memiliki tradisi lokal, yang akrab juga dengan olah militer, yaitu tradisi bagelen (bagelenan).

Baca Juga  TNI, Presiden, dan Kejagung Pimpin Daftar Lembaga Negara Paling Dipercaya Publik: Survei Indikator Politik Indonesia

Tradisi banyumasan (termasuk Purworejo) memiliki posisi tipikal dalam sejarah kemiliteran di tanah air. Hal itu berkat keberadaan Gombong, kota kecamatan yang masuk Kabupaten Kebumen, yang terletak antara Purwokerto dan Purworejo.

Di Gombong pernah berdiri lembaga pendidikan bagi calon anggota KNIL (tentara Hindia Belanda), untuk level bintara dan tamtama. Sampai sekarang pun, di lokasi yang sama masih berdiri Secata (sekolah calon tamtama) TNI AD, di bawah Rindam IV/Diponegoro.

Keberadaan Gombong sebagai pusat latihan calon anggota KNIL, ibarat simbiosis mutualisme, mengingat wilayah Banyumas dan Purworejo, sejak lama dikenal sebagai sumber rekrutmen bagi calon anggota KNIL. Dari sinilah tradisi perwira asal Banyumas bermula, dan pada satu masa sangat mewarnai sejarah militer negeri kita, utamanya pada unsur pimpinannya.

Citra perwira asal Banyumas mulai pudar ketika Jenderal Soeharto menggantikan Jenderal Ahmad Yani sebagai KSAD (Pangad), pasca-Peristiwa 1965.  Yani berasal dari Purworejo, sementara Soeharto bagian dari tradidi Mataraman (Yogya).

Ketika Soeharto berkuasa, tradisi perwira asal Banyumas, tidak sekuat era sebelumnya. Memang masih ada nama seperti Jenderal Soerono dan Letjen Soesilo Soedarman, namun tetap saja di bawah bayang-bayang Soeharto.

Baru pada pertengahan dekade 1970-an, ketika tentara Indonesia bersiap menginvasi wilayah Timor Timur (Timor Leste), muncul figur Dading Kalbuadi, sebagai perwira yang bisa disebut penerus tradisi banyumasan.

Mungkin sudah kehendak sejarah, Dading muncul di saat TNI membutuhkan komandan lapangan untuk operasi penyerbuan ke Timor Timur. Sejak itu nama Dading menjadi moncer, dan identik dengan operasi di Timor Timur. Panglima atau komandan operasi di Timor Timur selalu berganti, tetapi rasanya hanya Dading yang selalu tersimpan di memori publik.***

Red/K.000
Tags: ABRItni
ShareSendShareSharePinTweet
Post Sebelumnya

PPJNA 98 : ‘Presiden Jokowi Harus Bentuk TIM ADHOC Dipimpin KPK Untuk Tuntaskan Kebenaran Dugaan Bisnis PCR’

Post Selanjutnya

PP IPPAT Gelar Pembekalan Kode Etik Secara Hybrid Diikuti 4.234 Peserta Seluruh Indonesia

RelatedPosts

Beranikah Seluruh Penegak Hukum Periksa Harta Semua Pejabat? Uji Nyata Komitmen Pemberantasan Korupsi

17 Juli 2026

Ketika Manusia Jadi Komoditas Menghilang: Belajar Pasar dari Jepang yang Suka “Menguap”

17 Juli 2026

Ketika Etika Mengalahkan Aturan, Negara Kehilangan Pedoman Bersama

17 Juli 2026

DPR WAJIB SAHKAN UU PERAMPASAN ASET. JANGAN JADIKAN HAM SEBAGAI TAMENG KORUPTOR.

16 Juli 2026

WPR dan IPR di Bangka Belitung: Solusi Tata Kelola atau Perpanjangan Ketergantungan pada Timah?

15 Juli 2026
Oplus_131072

Menjaga Kepercayaan dalam Kemitraan Negara: Pelajaran dari Polemik SPPG

15 Juli 2026
Post Selanjutnya

PP IPPAT Gelar Pembekalan Kode Etik Secara Hybrid Diikuti 4.234 Peserta Seluruh Indonesia

Satgas BLBI Sita Aset PT Timor Putera Nasional Terkait Piutang Sebesar Rp 2,61 Triliun ke Negara

Discussion about this post

KabarTerbaru

Spanyol Juara Piala Dunia 2026 usai Tekuk Argentina 1-0 di Extra Time, Ferran Torres Jadi Penentu

20 Juli 2026

Presiden Prabowo Subianto Perlu Mengevaluasi Dugaan Kebocoran Informasi Pertemuan Terkait Febri Adriansyah

19 Juli 2026

Anak Hotman Paris Kritik Ayahnya Usai Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Sebut Pencitraan

19 Juli 2026

Benyamin Ungkap Pemkot Tangsel Catat Penurunan Stunting, Prevalensi 2026 Tinggal 8,2 Persen

19 Juli 2026

KBM UNPAM Dukung Polri Usut Tuntas Dugaan Korupsi Eks Jampidsus

19 Juli 2026

Tak Perlu Jauh ke Luar Negeri, Operasi Robotik Kini Bisa Dilakukan di Indonesia, RS Mandaya Puri

19 Juli 2026

PPATK Temukan 6.000 ASN Kementerian PU Terindikasi Judi Online, 4.000 Pegawai Diduga Manipulasi Absensi

19 Juli 2026
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo

KPK Soroti Mahalnya Biaya Politik sebagai Pintu Masuk Korupsi Pasca Pemilu

19 Juli 2026
Gedung Merah Putih KPK

KPK Siap Hadapi Praperadilan Kedua Asrul Azis Taba Terkait Penggeledahan Kasus Kuota Haji

18 Juli 2026

Seskab Teddy: Presiden Prabowo dengan DEN Bahas Ketahanan Ekonomi hingga Percepatan GovTech

15 Juli 2026

Kabar Terpopuler

  • Owner PT Global Komodo Indonesia, Hironimus Amal. (Foto: Dok. Pribadi)

    Wow, Ekspedisi Ini Jadi Sistem Pendukung Kemajuan Bisnis Pariwisata Labuan Bajo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • WPR dan IPR di Bangka Belitung: Solusi Tata Kelola atau Perpanjangan Ketergantungan pada Timah?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Profil Lengkap Mayor Teddy: dari Taruna Nusantara hingga Ranger School, Kini Berpangkat Letkol

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Manusia Jadi Komoditas Menghilang: Belajar Pasar dari Jepang yang Suka “Menguap”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabar Baik! RS Medina Garut Rekrut 99 Peserta Program Magang Nasional Kemenaker

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Catatan Ringan Juli 2026: Dua Blok dan Satu Kue

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PSI Tangsel: Bergabungnya Narji Cagur Jadi Suntikan Semangat bagi Kader

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM
DJITUBERITA.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com