oleh:
Hasanuddin, SH
Koordinator SIAGA 98
Jakarta, Kabariku – Pertemuan antara Hotman Paris Hutapea dan Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Akhmad Munir yang difasilitasi oleh Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad layak dimaknai lebih dari sekadar pertemuan dua tokoh publik.
Momen pertemuan yang dibagikan melalui akun Instagram @Sufmi_Dasco, berlangsung pada Selasa (28/7/2026).
Di tengah ruang publik yang kerap diwarnai perbedaan pandangan dan ketegangan, peristiwa ini menghadirkan pesan bahwa komunikasi dan silaturahmi tetap menjadi jalan terbaik untuk membangun penyelesaian.
Pers merupakan salah satu pilar penting demokrasi.
Melalui fungsi kontrol sosial, penyampaian informasi, dan pendidikan publik, pers berkontribusi menjaga kualitas kehidupan demokrasi. Di sisi lain, dunia hukum memiliki peran yang tidak kalah penting dalam menegakkan keadilan dan memastikan setiap warga negara memperoleh kepastian hukum.
Demokrasi dan penegakan hukum bukanlah dua entitas yang berdiri sendiri, melainkan saling menopang dalam mewujudkan negara hukum yang demokratis.
Dalam konteks itulah, peran Sufmi Dasco Ahmad menjadi menarik untuk dicermati.
Pengalamannya di Komisi III DPR RI yang membidangi persoalan hukum, serta posisinya saat ini sebagai pimpinan DPR dan ketua partai politik, menempatkannya pada ruang strategis untuk membangun komunikasi lintas kepentingan.
Mempertemukan dua tokoh yang mewakili dunia hukum dan dunia pers dapat dipandang sebagai upaya membuka ruang dialog demi kepentingan yang lebih besar, yakni persatuan nasional.
Bagi penulis momentum ini memiliki makna simbolik.
Perbedaan pandangan tidak harus berujung pada permusuhan yang berkepanjangan. Dalam kehidupan berbangsa, setiap perbedaan selalu memiliki peluang untuk dipertemukan ketika komunikasi dibangun dengan itikad baik dan silaturahmi tetap dijaga.
Tradisi filsafat Timur mengajarkan bahwa etika dan rasa menjadi fondasi dalam membangun hubungan antarmanusia.
Rasionalitas dan argumentasi tetap penting, tetapi keduanya akan lebih bermakna apabila dibingkai oleh penghormatan, kesantunan, dan kebijaksanaan.
Nilai-nilai inilah yang tampak tercermin dalam pertemuan tersebut, di mana pendekatan etik lebih dikedepankan daripada mempertajam perbedaan.
Bangsa Indonesia memiliki falsafah harmoni, sebagai bagian dari filsafat timur.
Berbeda dengan pemikiran barat, yang disharmoni.
Kepemimpinan tidak hanya diukur dari kemampuan mengambil keputusan, tetapi juga dari kemampuan mempertemukan pihak-pihak yang berbeda dalam satu meja dialog.
Dalam perspektif itu, langkah Sufmi Dasco Ahmad menunjukkan bahwa politik tidak selalu identik dengan kompetisi, melainkan juga dapat menjadi instrumen rekonsiliasi atau Persatuan Nasional.
Mungkin karena kemampuan membangun komunikasi lintas kelompok inilah Presiden Prabowo Subianto pernah menyematkan julukan kepada Dasco sebagai “Sang Kancil” dan juga kerap dipanggol “Don Dasco”.
Terlepas dari makna yang beragam atas ungkapan tersebut, julukan itu menggambarkan kecakapan membangun strategi sekaligus merawat komunikasi politik.
Pada akhirnya, bangsa ini membutuhkan lebih banyak ruang perjumpaan daripada ruang pertentangan.
Sebab, demokrasi akan semakin kokoh apabila ditopang oleh penegakan hukum yang berkeadilan, pers yang bertanggung jawab, dan para pemimpin yang mampu menjembatani berbagai perbedaan demi kepentingan bangsa.
Diketahui, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sepakat untuk menempuh jalan damai dan mencabut laporan polisi terhadap pengacara kondang Hotman Paris Hutapea di Polda Metro Jaya.
Keputusan ini diambil setelah kedua belah pihak dipertemukan oleh Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, pada Selasa (28/7).
Ketua Umum PWI, Akhmad Munir, mengonfirmasi bahwa pertemuan mediasi tersebut diinisiasi oleh Dasco dengan semangat menjaga persatuan. Munir menyatakan bahwa langkah ini diambil agar perselisihan antara Hotman Paris dengan kalangan wartawan, khususnya PWI, dapat segera berakhir.*
Baca juga :




















Discussion about this post