Padang, Kabariku – Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berhasil menggerakkan roda ekonomi hingga Rp60 triliun di berbagai daerah sepanjang Januari hingga April 2026.
Realisasi tersebut berasal dari penyaluran anggaran melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berdampak langsung pada sektor pertanian, perikanan, dan rantai pasok pangan lokal.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyebut dari total anggaran Rp268 triliun yang disiapkan pemerintah pusat, sekitar Rp60 triliun telah disalurkan melalui virtual account SPPG.
“Program ini tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga memberdayakan ekonomi masyarakat,” ujar Dadan saat kunjungan di Kota Padang, Sumatera Barat, Rabu (22/4/2026).
Ia mencontohkan dampak nyata di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Sebelum MBG berjalan, harga jeruk sempat anjlok hingga Rp4.000 per kilogram, memaksa petani menebang pohon.
Namun setelah program berjalan, harga jeruk meningkat menjadi Rp10.000 per kilogram, mendorong kembali aktivitas produksi petani lokal.
Menurut Dadan, kebutuhan bahan pangan untuk MBG sangat besar. Setiap SPPG rata-rata membutuhkan sekitar lima ton beras atau setara 10 ton gabah kering per bulan, selain pasokan buah, sayur, ikan, telur, dan susu. Kondisi ini menciptakan permintaan stabil yang berdampak pada penguatan ekonomi daerah.
Target Nasional dan Cakupan Penerima
Di sisi lain, BGN menargetkan sebanyak 82,9 juta anak Indonesia menjadi penerima manfaat MBG pada 2026. Hingga saat ini, program tersebut telah menjangkau sekitar 62 juta penerima manfaat.
Program ini merupakan salah satu prioritas nasional pemerintahan Prabowo Subianto dalam kerangka Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045.
Dadan menegaskan bahwa keberlanjutan program MBG akan berpengaruh besar terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia, terutama dalam mencegah stunting dan meningkatkan produktivitas jangka panjang.
“Anak yang sehat akan menjamin produktivitas di masa tua,” katanya.
Belajar dari Jepang dan Edukasi Pola Hidup Sehat
Selain intervensi pemenuhan gizi, BGN juga menekankan pentingnya edukasi pola makan sehat kepada masyarakat. Dalam hal ini, pengalaman Jepang menjadi rujukan.
Dadan menjelaskan, Jepang berhasil meningkatkan rata-rata tinggi badan penduduknya dari 159 sentimeter menjadi 170 sentimeter setelah menjalankan program makan bergizi secara berkelanjutan.
“Dalam 15 tahun terakhir, tinggi badan meningkat tetapi berat badan justru turun karena pola hidup sehat,” ujarnya.
Hal ini menunjukkan bahwa intervensi gizi yang konsisten dapat membentuk kebiasaan hidup sehat dalam jangka panjang.
Penguatan Menu Lokal dan Standar Layanan
Dalam kunjungan ke Padang, BGN juga mendorong pengembangan menu berbasis potensi lokal seiring upaya menjadikan kota tersebut sebagai Kota Gastronomi.
Saat ini, BGN telah menghimpun sedikitnya 80 menu masakan Nusantara khusus untuk program MBG guna memastikan variasi dan kualitas gizi.
BGN turut mengingatkan seluruh SPPG untuk mematuhi standar operasional, termasuk kelengkapan fasilitas seperti Instalasi Pengolahan Air
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kualitas dan keamanan pangan bagi para penerima manfaat.
“Dengan pemenuhan gizi yang baik, terutama dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan, kita optimistis dapat mencegah stunting dan melahirkan generasi sehat serta cerdas,” tutup Dadan.*
Baca juga :
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com




















Discussion about this post