• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Rabu, Juli 22, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Opini

Dolar Naik, Rupiah Tersungkur; Siapa yang Sebenarnya Mengkhianati Ekonomi Nasional?

Irfan Ardhiyanto oleh Irfan Ardhiyanto
20 Januari 2026
di Opini
A A
0
Ilustrasi mata uang Dolar (Foto: Istimewa)

Ilustrasi mata uang Dolar (Foto: Istimewa)

ShareSendShare ShareShare

Ditulis Oleh : Bin Bin Firman Tresnadi (Nalar Bangsa Institute) 

Kabariku – Jakarta – Rupiah melemah karena struktur ekonomi kita selama puluhan tahun dibiarkan tunduk pada resep neolib mengutamakan pasar, mengabaikan kapasitas produksi domestik, dan menggantungkan stabilitas pada kemurahan hati modal asing. Itulah warisan yang membuat nilai tukar kita selalu menjadi korban pertama setiap kali geopolitik global bergejolak.

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

Namun berbeda dengan pendekatan lama itu, pemerintahan hari ini sebenarnya telah mulai membangun arsitektur tandingan: program-program strategis yang perlahan, tetapi tegas, memulihkan kembali kedaulatan ekonomi. 

RelatedPosts

Sinyal Belum Ada Pergantian Kapolri?

Retakan Bernegara Mulai Terlihat

Rahasia Negara dan Kedewasaan Publik

Inilah hal yang tidak pernah mau diakui para penganut neolib, karena setiap keberhasilan program ini adalah pengubur langsung atas dogma yang mereka sebarkan hampir tiga dekade.

Pertama: DHE (Devisa Hasil Ekspor) yang diwajibkan masuk ke sistem keuangan domestik.

Program ini adalah serangan frontal terhadap ketergantungan dolar. Selama puluhan tahun, devisa kita parkir di luar negeri sementara industri dalam negeri kekurangan likuiditas USD. DHE memaksa modal kembali ke tanah air, memperkuat cadangan devisa, menambah suplai dolar onshore, dan menurunkan volatilitas rupiah. Neolib sangat terganggu dengan kebijakan ini karena mengurangi ruang mereka bermain spekulasi valas.

Kedua: Hilirisasi mineral dan industri berbasis sumber daya domestik. 

Ini adalah penanda perubahan paradigma: dari ekonomi berbasis impor dan bahan mentah, menjadi ekonomi berbasis produksi nasional dan ekspor bernilai tambah. Hilirisasi nikel, bauksit, tembaga—ini semua bukan sekadar proyek industri. Ini adalah benteng nilai tukar. Ketika nilai tambah diproduksi di dalam negeri, permintaan dolar untuk impor intermediate berkurang drastis. Neoliberalisme membenci hilirisasi karena ia memotong rantai pasok global yang selama ini membuat negara berkembang permanen sebagai pemasok murah.

Baca Juga  Sekber Prabowo-Jokowi. Jokowi Tetap di Istana dan Perjanjian Batu Tulis 2009, Terwujud

Ketiga: Transformasi energi dan kemandirian energi nasional.

Program B35/B40, pembangunan kilang, peningkatan lifting migas, serta perluasan energi hijau domestik adalah strategi langsung untuk menurunkan kebutuhan impor minyak dan gas. Mengurangi impor energi berarti memotong salah satu sumber tekanan terbesar terhadap rupiah. Neolib selalu menempatkan energi nasional sebagai komoditas pasar, bukan sebagai infrastruktur kedaulatan. Pemerintah hari ini justru membalikkan logika itu.

Keempat: Danantara dan arsitektur pembiayaan pembangunan yang tidak tunduk pada modal asing portofolio.

Danantara adalah langkah strategis untuk membangun kapasitas pembiayaan nasional yang berbasis modal domestik. Ini berarti Indonesia tidak perlu menadahkan tangan pada volatilitas dana asing jangka pendek. Program ini memperkuat ruang fiskal, mengurangi dominasi asing di pasar SBN, dan secara langsung memperkecil kerentanan rupiah terhadap capital outflow.

Kelima: Swasembada Pangan dan Industrialisasi Pertanian.

Ketergantungan pangan terhadap impor adalah bom waktu nilai tukar. Program perluasan lahan, modernisasi pertanian, serta pembangunan agroindustri domestik bukan sekadar kebijakan sektor pangan, tetapi instrumen stabilitas rupiah. Pangan mandiri berarti impor turun, dan tekanan kurs pun ikut mereda. Neolib anti terhadap ini karena mereka melihat pangan sebagai komoditas, bukan sebagai fondasi kedaulatan.

Keenam: Local Currency Transaction (LCT) dan diversifikasi mata uang perdagangan.

Perluasan transaksi rupiah–ringgit, rupiah–bath, rupiah–yuan, hingga cross-border QR adalah strategi melemahkan dominasi USD. Ini bukan teknis perbankan; ini adalah langkah strategis memindahkan perdagangan dari orbit dolar ke orbit regional. Dogma neolib selalu menganggap dolar sebagai satu-satunya acuan stabilitas. Justru di titik itulah kita harus melawan.

Ketujuh: Penguatan cadangan devisa negara melalui penertiban ekspor, transparansi rantai pasok, dan optimalisasi penerimaan negara. 

Ketika cadangan devisa kuat, rupiah punya bantalan menghadapi geopolitik. Neolib membenci ini karena mereka ingin pasar yang menentukan nilai tukar, bukan negara yang memegang kendali.

Baca Juga  Pemda Garut Sebaiknya Segera Bekerjasama dengan Polres Garut Ungkap Penyebab Kelangkaan Minyak Goreng Di Kabupaten Garut

Semua program ini menyampaikan pesan yang sama: Indonesia sedang bergerak kembali ke jalur kedaulatan ekonomi. Dan kedaulatan itu tidak kompatibel dengan neoliberalisme.

Karena itulah para penganut neolib selalu menyerang kebijakan-kebijakan ini. Mereka mengarang narasi bahwa hilirisasi salah arah, bahwa DHE “mengganggu mekanisme pasar”, bahwa ketergantungan modal asing itu “normal”. 

Tidak. Itu bukan analisis; itu pembelaan terakhir untuk ideologi yang tidak lagi memiliki pijakan moral maupun empiris. Kalimat yang harus kita sampaikan keras dan tanpa ragu:

“Rupiah hanya akan kuat jika negara berani mengambil kembali kontrol atas produksi, energi, pangan, dan pembiayaan nasional. Jalan itu sudah mulai diletakkan oleh program-program strategis pemerintah Prabowo Subianto. Yang harus kita kubur sekarang adalah residu neoliberalisme yang terus menjerumuskan bangsa ini pada ketergantungan.”

Dengan kata lain, kedaulatan bukan slogan — ia adalah implementasi konkret, dan pemerintah telah memulainya. Tugas kita adalah mempercepatnya, menajamkannya, dan memastikan bahwa Indonesia tidak lagi berlutut di hadapan arsitektur ekonomi global yang dibangun untuk melemahkan negara berkembang.

Tags: Dolar AS ke RupiahDolar naikRupiah melemah
ShareSendShareSharePinTweet
Post Sebelumnya

Eks Penyidik KPK Jelaskan Mekanisme Pencabutan Blokir Rekening dalam Perkara Korupsi

Post Selanjutnya

Rapat Koordinasi DBHCHT, Pemkab Garut Pastikan Kartu BPJS Petani Tembakau Tepat Sasaran

RelatedPosts

Sinyal Belum Ada Pergantian Kapolri?

21 Juli 2026

Retakan Bernegara Mulai Terlihat

21 Juli 2026

Rahasia Negara dan Kedewasaan Publik

21 Juli 2026

Beranikah Seluruh Penegak Hukum Periksa Harta Semua Pejabat? Uji Nyata Komitmen Pemberantasan Korupsi

17 Juli 2026

Ketika Manusia Jadi Komoditas Menghilang: Belajar Pasar dari Jepang yang Suka “Menguap”

17 Juli 2026

Ketika Etika Mengalahkan Aturan, Negara Kehilangan Pedoman Bersama

17 Juli 2026
Post Selanjutnya
Sekretaris Disnakertrans Kabupaten Garut H. Yayan Gunawan memimpin rapat koordinasi terkait tindak lanjut perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi petani tembakau melalui dana DBHCHT.

Rapat Koordinasi DBHCHT, Pemkab Garut Pastikan Kartu BPJS Petani Tembakau Tepat Sasaran

Bupati Pati, Sudewo resmi jadi tersangka  dengan mengenakan rompi orange KPK. Selasa (20/1). (Foto: Ainul Ghurri/Kabariku.com)

Bupati Sudewo Resmi Ditetapkan Tersangka KPK

Discussion about this post

KabarTerbaru

Muslim Arbi Cium Dugaan Operasi Politik di Balik Kasus Febrie Adriansyah, Singgung Sosok Pejabat Berinisial SS

22 Juli 2026

Sinyal Belum Ada Pergantian Kapolri?

21 Juli 2026

2.819 PPPK Kota Tangerang Menanti Kepastian TPP, Anggota DPRD Tangerang Tasril Jamal Desak Kemendagri Tak Berlama-lama

21 Juli 2026

Sejak 2024 BNN Kota Tangsel Tak Lagi Tangani Kasus Narkoba, Ini Perubahan Kewenangannya

21 Juli 2026
Koalisi Masyarakat Sipil mendesak pemerintah menghentikan pelibatan TNI dalam Program Koperasi Desa Merah Putih (Istimewa)

Koalisi Sipil Desak Hentikan Pelibatan TNI dalam Program KDMP Usai Konflik Berdarah Adonara

21 Juli 2026

Yuda Puja Turnawan: Kemandirian Fiskal Jadi Kunci Agar Gaji Guru PPPK Paruh Waktu Bisa Setara UMR

21 Juli 2026
Foto: Istimewa

16 Tahun Menanti Penyelesaian, Kelompok Tani Bosowa Tuntut Ganti Rugi Lahan 137,5 Hektare kepada PT KPC

21 Juli 2026

Potensi Kebakaran, Pemkot Tangsel Himbau Masyarakat Tidak Melakukan Pembakaran Sampah Secara Terbuka

21 Juli 2026

Bupati Garut Dorong Klinik Utama Rotinsulu Tingkatkan Sosialisasi Layanan Kesehatan kepada Masyarakat

21 Juli 2026

Respons Istana soal Kasus Febrie: Penegakan Hukum Berjalan Tanpa Intervensi Presiden

21 Juli 2026

Kabar Terpopuler

  • Owner PT Global Komodo Indonesia, Hironimus Amal. (Foto: Dok. Pribadi)

    Wow, Ekspedisi Ini Jadi Sistem Pendukung Kemajuan Bisnis Pariwisata Labuan Bajo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Manusia Jadi Komoditas Menghilang: Belajar Pasar dari Jepang yang Suka “Menguap”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Profil Lengkap Mayor Teddy: dari Taruna Nusantara hingga Ranger School, Kini Berpangkat Letkol

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Presiden Prabowo Subianto Perlu Mengevaluasi Dugaan Kebocoran Informasi Pertemuan Terkait Febri Adriansyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • WPR dan IPR di Bangka Belitung: Solusi Tata Kelola atau Perpanjangan Ketergantungan pada Timah?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Koalisi MBG Watch Ajukan Judicial Review UU APBN 2026 ke MK, Soroti Anggaran Makan Bergizi Gratis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Retakan Bernegara Mulai Terlihat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM
DJITUBERITA.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com