• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Rabu, Juni 17, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Opini

Kabur Saja ke Yaman: Humor, Kuasa, dan Delegitimasi Kritik

Tresyana Bulan oleh Tresyana Bulan
3 Mei 2026
di Opini
A A
0
ShareSendShare ShareShare

oleh :
In’amul Mustofa, M.IP
_Pemerhati Politik dan Kebijakan Publik_

Yogyakarta, Kabariku – Ada kalanya sebuah rezim tidak jatuh karena krisis ekonomi, perang, atau skandal besar. Ia justru mulai retak dari cara pemimpinnya berbicara.

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

Presiden Prabowo Subianto, dalam pidato groundbreaking proyek hilirisasi di Cilacap, saat Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II di Kawasan Industri Pertamina, Cilacap, Jawa Tengah, pada 29 April 2026 menanggapi narasi “Indonesia Gelap” dengan kalimat yang segera viral: “Indonesia gelap? Matanya buram. Ada yang mau kabur? Kabur saja. Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman, silakan.”

RelatedPosts

MBG sebagai Sirkuit Ekonomi Lokal dan Kerakyatan

Sikap Bijak Lembaga Maupun Pemerintah Tidak Melulu Menimpakan Kesalahan Kepada Masyarakat

Kenaikan BBM, Skandal Tata Kelola MBG dan Mega Koruptor: Kombinasi Yang Perlu Diwaspadai

Secara retoris, pernyataan ini tampak sebagai lelucon politik: spontan, tajam, dan mengundang tepuk tangan audiens. Namun dalam kajian komunikasi politik, bahasa tidak pernah netral. Ia adalah instrumen kuasa yang memiliki maksud dengan pesan yang disampaikan.

Disinilah paradoks itu muncul

Jauh sebelum menjadi presiden, Prabowo adalah salah satu pengkritik paling keras terhadap pemerintahan Joko Widodo bahkan karena dipecundangi dua kali. Ia pernah menyampaikan tesis pesimistis bahwa Indonesia bisa “bubar tahun 2030”, narasi yang dibangun dari asumsi adanya kebocoran anggaran, oligarki ekonomi, dan penghisapan sumber daya nasional oleh elite yang memarkir keuntungan di luar negeri.

Kritik tersebut bukan sekadar oposisi; itu adalah retorika alarm—membangun rasa genting agar publik percaya ada sesuatu yang salah secara struktural. Jadi Prabowo secara tidak langsung ingin menjadi pemimpin barisan yang hendak membersihkan borok-borok jika menang dalam kontestasi.

Kini, setelah beralih dari oposisi menjadi pemegang otoritas tertinggi, nada itu berubah. Kritik yang dahulu dianggap patriotik, kini tampak dibaca sebagai gangguan.

Baca Juga  Saatnya yang Muda Berkarya

Di titik ini, yang menarik bukan hanya isi respons, melainkan bentuknya. Prabowo tidak menjawab narasi “Indonesia Gelap” dengan bantahan teknokratis atau data tandingan. Ia memilih humor, sindiran, dan reduksi psikologis.

“Indonesia gelap? Matanya buram”

Kalimat ini tampak ringan, bahkan jenaka. Audiens tertawa; panggung tetap cair — tetapi (sekali lagi) dalam komunikasi politik, humor dari seorang pemimpin tidak pernah sepenuhnya polos. Humor bisa bekerja sebagai instrumen penjinakan. Ia menurunkan derajat kritik dari sesuatu yang layak diperdebatkan menjadi sesuatu yang layak ditertawakan.

Akhirnya substansi kritik dipindahkan ke personalitas pengkritik. Masalahnya bukan apakah ada alasan publik merasa cemas, melainkan seolah-olah cara pandang pengkritiklah yang keliru.

Yang salah bukan keadaan, tetapi matamu. Di sini pula publik jadi paham bagaimana kriminalisasi terhadap pengkritik itu bisa lahir.

Inilah yang dapat dibaca sebagai delegitimasi psikologis: strategi komunikasi yang menggeser fokus dari argumen ke kondisi moral atau mental lawan bicara. Kritik tidak dibantah, melainkan diposisikan sebagai ekspresi keburaman. Bila beruntung maka yang mengkritik justru menjadi bahan tertawaan

Candaan menjadi tameng yang nyaris sempurna. Kekuasaan, dengan demikian menemukan bentuknya yang paling licin: ia menyampaikan pesan disipliner sambil tetap bisa berlindung di balik kalimat, “saya hanya bercanda.”

Inilah transformasi klasik dalam komunikasi kekuasaan: ketika bahasa yang dulu dipakai untuk mendeligitimasi lawan, tak lagi diterima saat diarahkan pada diri sendiri.

Ilmuwan politik Harold Lasswell mendefinisikan politik secara sederhana namun brutal: “Who gets what, when, how.” Politik adalah distribusi sumber daya dan legitimasi. Tetapi distribusi itu tidak hanya berlangsung lewat kebijakan; ia juga berlangsung lewat narasi.

Siapa yang berhak mendefinisikan realitas?

Apakah Indonesia “gelap” atau “terang” bukan semata soal data ekonomi, tetapi soal siapa yang punya otoritas simbolik untuk memberi nama atas keadaan.

Baca Juga  Berbagi Pemborosan ala Kementerian ESDM

Perang narasi dalam politik kekinian sudah menjadi semacam keharusan, kuasa modern bekerja bukan saja melalui represi fisik, tetapi melalui produksi diskursus.

Yang berkuasa menentukan bahasa mana yang sah, emosi mana yang dianggap normal, pendapat mana yang paling rasional dan kritik mana yang diklasifikasikan sebagai pesimisme berlebihan.

Saat presiden mengatakan, secara implisit, “kalau tidak suka, silakan pergi”, pesan komunikasinya melampaui humor.

Mungkin saja benar Prabowo mau bercanda dan humor namun karena ia lebih dari setengah hidupnya dalam lingkungan tradisi serdadu.

Ia sadar tidak sadar telah menggeser kritik dari ranah argumen ke ranah loyalitas/kepatuhan. Di sinilah respons semacam ini bersinggungan dengan gaya komunikasi populis.

Populisme tidak selalu tampil dalam slogan besar atau mobilisasi massa. Kadang ia hadir dalam pembelahan simbolik yang sederhana: mereka yang optimis versus mereka yang muram; mereka yang percaya versus mereka yang sinis.

Kritik terhadap kondisi negara tidak lagi dibaca sebagai bagian normal dari partisipasi demokratis, melainkan sebagai indikator afeksi politik.

Apakah Anda cukup percaya pada arah pemerintah hari ini?

Apakah Anda cukup loyal pada proyek optimisme nasional?

Oposisi akhirnya dibuat terpojok atau kritik mudah diposisikan bukan sekadar berbeda pendapat, tetapi menyimpang dari kehendak kolektif.

Maka ketika kritik dijawab dengan semacam tantangan eksodus—“kabur saja”—yang terjadi bukan dialog, melainkan eksklusi simbolik. Ada garis tak kasat mata yang ditarik: jika Anda tidak selaras dengan narasi kemajuan ini, maka posisi Anda seolah berada di pinggir komunitas moral yang sedang dibangun.

Padahal demokrasi justru mensyaratkan hal sebaliknya: hak untuk kecewa tanpa kehilangan status sebagai warga yang sah. Bukan lagi: apa yang salah dengan negara ini? Melainkan: seberapa nasionalis Anda?

Ini teknik komunikasi politik yang sangat efektif. Kritik tidak dibalas dengan kontra-data, tetapi dengan delegitimasi psikologis: matamu buram, hatimu buram, perspektifmu keliru.

Baca Juga  Di KTT ASEAN Plus Three, Presiden Prabowo Tegaskan Pentingnya Kerja Sama dan Persaingan Konstruktif
Di titik itu, dialog berubah menjadi performa

Prabowo sebelumnya pernah mengatakan ingin berdialog dengan pihak-pihak yang membawa narasi “Indonesia Gelap.” Ada semacam gestur deliberatif: mari bicara, mari bahas bersama. Tetapi komunikasi politik modern sangat akrab dengan apa yang disebut symbolic responsiveness—kesediaan mendengar yang bersifat simbolik, bukan substantif.

Pemimpin memberi kesan terbuka, tanpa benar-benar membuka ruang koreksi.

Kalimat “kabur saja ke Yaman” bekerja persis seperti itu: sederhana, teatrikal, mudah dipotong jadi klip, dan efektif mengonsolidasikan basis pendukung dengan membelah dunia menjadi dua kubu moral-yang optimis versus yang pesimis; yang percaya versus yang sinis.

Padahal kritik sering kali lahir bukan dari kebencian terhadap negeri, melainkan dari rasa memiliki yang terlalu besar untuk diam. Cinta pada negara tidak selalu tampil sebagai pujian. Kadang ia hadir sebagai kegelisahan.

Barangkali di sinilah kekuasaan selalu diuji: bukan saat dipuja, melainkan saat digugat.

Sebab demokrasi tidak membutuhkan pemimpin yang hanya tahan tepuk tangan. Demokrasi membutuhkan pemimpin yang tahan mendengar kalimat yang tidak menyenangkan.

Ada ironi yang hampir puitik di sini

Dulu, Prabowo membangun energi politiknya di atas ketidakpuasan publik—Indonesia bocor, elite mencuri, masa depan suram.

Kini setelah dia menjadi Presiden, ketika nada suram datang dari warga, ia menjawab dengan optimisme yang nyaris imperatif: Indonesia terang.

Mungkin benar Indonesia terang

Tetapi dalam republik yang sehat, terang tidak ditentukan oleh siapa yang paling lantang mengatakannya. Terang justru diuji dari kesediaan negara menerima bahwa sebagian warganya masih melihat bayangan.

Barangkali, yang paling menakutkan dari kekuasaan bukan ketika ia marah melainkan ketika ia mulai percaya bahwa kritik adalah bentuk ketidaksetiaan.*

Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com

Tags: GroundbreakingIndonesia gelapKabur Saja ke YamanPresiden Prabowo Subiantoproyek hilirisasi nasional
ShareSendShareSharePinTweet
Post Sebelumnya

Ruang Publik dan Etika Politik: SIAGA 98 Kritik Narasi Amien Rais hingga Serangan ke Teddy Indra Wijaya

Post Selanjutnya

KPK: Pers Bebas dan Kritis Kunci Membangun Kesadaran Publik Melawan Korupsi

RelatedPosts

MBG sebagai Sirkuit Ekonomi Lokal dan Kerakyatan

17 Juni 2026

Sikap Bijak Lembaga Maupun Pemerintah Tidak Melulu Menimpakan Kesalahan Kepada Masyarakat

14 Juni 2026
ilustrasi

Kenaikan BBM, Skandal Tata Kelola MBG dan Mega Koruptor: Kombinasi Yang Perlu Diwaspadai

12 Juni 2026

Harga BBM Non-Subsidi Akhirnya Naik, Alarm Bagi Rakyat

11 Juni 2026

Membaca Prabowo dari Kacamata Pasar

8 Juni 2026

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

7 Juni 2026
Post Selanjutnya

KPK: Pers Bebas dan Kritis Kunci Membangun Kesadaran Publik Melawan Korupsi

Lawan Fitnah, Jaga Agenda Rakyat

Discussion about this post

KabarTerbaru

MBG sebagai Sirkuit Ekonomi Lokal dan Kerakyatan

17 Juni 2026

Siaga 98 Dukung Langkah BGN Optimalkan Aset MBG, Dorong Pengajuan Pinjam Pakai Barang Sitaan

17 Juni 2026

Polsek Pondok Aren Ungkap Kasus Curanmor, Empat Pelaku Diamankan

17 Juni 2026
Oplus_131072

DDS dan KRYD Polsek Serpong Perkuat Sinergi Keamanan Lingkungan di Lengkong Karya

17 Juni 2026
Potensi wakaf Indonesia mencapai Rp400 triliun per tahun, namun belum optimal dimanfaatkan. (Istimewa)

Dari Rp1.000 Sehari Jadi Rp3,6 Triliun Setahun, Ini Gagasan Wakaf yang Diusung Berry Kurniawan

17 Juni 2026

Korlantas Polri Tegaskan Penerbitan SIM Resmi hanya Kewenangan Polri

17 Juni 2026

SIM Digital Berlaku Saat Razia: Begini Cara Membuat dan Perpanjang SIM Lewat Ponsel

17 Juni 2026

Kadisnaker Ujang Hendra Sebut Pemkot Tangerang Buka Pendaftaran Program OJT di Industri Plastik Gratis

17 Juni 2026

Shopee Dikabarkan PHK Ratusan Karyawan Global, 8 Persen Developer Terdampak

17 Juni 2026

Mensesneg: Pemerintah Fokus Menjaga Kepercayaan Pasar melalui Deregulasi dan Hilirisasi

16 Juni 2026

Kabar Terpopuler

  • Bu Guru Salsa yang viral, kini bahagia menjadi istri seorang PNS

    Bu Guru Salsa yang Viral karena Video Syur, Kini Bahagia Dinikahi Duda PNS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • FSP BUMN IRA Desak Danantara Evaluasi Pejabat BUMN yang Belum Tuntaskan Hak Pekerja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Terbongkar! Tersangka Baru MBG Diduga Atur Mitra SPPG dan Setor Uang ke Pejabat BGN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KPK Pastikan Fitroh Tak Kenal Sony Sonjaya, Minta Publik Waspadai Informasi Menyesatkan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • SIAGA 98: Penyidikan Dugaan Korupsi di BGN Tidak Memerlukan Justice Collaborator, Waspadai Penyebaran Hoaks

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Soal Ultimatum BEM SI Jateng “Reformasi Jilid 2”, LMND Ajak Mahasiswa Dorong Solusi untuk Bangsa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengamat: Prabowo Subianto Peluang Gandeng PDIP Lawan Gibran di Pilpres 2029

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM
DJITUBERITA.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com