• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Minggu, Mei 3, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Opini

Kabur Saja ke Yaman: Humor, Kuasa, dan Delegitimasi Kritik

Tresyana Bulan oleh Tresyana Bulan
3 Mei 2026
di Opini
A A
0
ShareSendShare ShareShare

oleh :
In’amul Mustofa, M.IP
_Pemerhati Politik dan Kebijakan Publik_

Yogyakarta, Kabariku – Ada kalanya sebuah rezim tidak jatuh karena krisis ekonomi, perang, atau skandal besar. Ia justru mulai retak dari cara pemimpinnya berbicara.

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

Presiden Prabowo Subianto, dalam pidato groundbreaking proyek hilirisasi di Cilacap, saat Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II di Kawasan Industri Pertamina, Cilacap, Jawa Tengah, pada 29 April 2026 menanggapi narasi “Indonesia Gelap” dengan kalimat yang segera viral: “Indonesia gelap? Matanya buram. Ada yang mau kabur? Kabur saja. Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman, silakan.”

RelatedPosts

Lawan Fitnah, Jaga Agenda Rakyat

Ruang Bagi Aktivis dan Purnawirawan

Menguatkan Komunikasi Istana: Inspirasi Praktik Baik KPK

Secara retoris, pernyataan ini tampak sebagai lelucon politik: spontan, tajam, dan mengundang tepuk tangan audiens. Namun dalam kajian komunikasi politik, bahasa tidak pernah netral. Ia adalah instrumen kuasa yang memiliki maksud dengan pesan yang disampaikan.

Disinilah paradoks itu muncul

Jauh sebelum menjadi presiden, Prabowo adalah salah satu pengkritik paling keras terhadap pemerintahan Joko Widodo bahkan karena dipecundangi dua kali. Ia pernah menyampaikan tesis pesimistis bahwa Indonesia bisa “bubar tahun 2030”, narasi yang dibangun dari asumsi adanya kebocoran anggaran, oligarki ekonomi, dan penghisapan sumber daya nasional oleh elite yang memarkir keuntungan di luar negeri.

Kritik tersebut bukan sekadar oposisi; itu adalah retorika alarm—membangun rasa genting agar publik percaya ada sesuatu yang salah secara struktural. Jadi Prabowo secara tidak langsung ingin menjadi pemimpin barisan yang hendak membersihkan borok-borok jika menang dalam kontestasi.

Kini, setelah beralih dari oposisi menjadi pemegang otoritas tertinggi, nada itu berubah. Kritik yang dahulu dianggap patriotik, kini tampak dibaca sebagai gangguan.

Di titik ini, yang menarik bukan hanya isi respons, melainkan bentuknya. Prabowo tidak menjawab narasi “Indonesia Gelap” dengan bantahan teknokratis atau data tandingan. Ia memilih humor, sindiran, dan reduksi psikologis.

Baca Juga  Hikmah Dari Drama Pelarian Sang Buronan Kakap Djoko Chandra
“Indonesia gelap? Matanya buram”

Kalimat ini tampak ringan, bahkan jenaka. Audiens tertawa; panggung tetap cair — tetapi (sekali lagi) dalam komunikasi politik, humor dari seorang pemimpin tidak pernah sepenuhnya polos. Humor bisa bekerja sebagai instrumen penjinakan. Ia menurunkan derajat kritik dari sesuatu yang layak diperdebatkan menjadi sesuatu yang layak ditertawakan.

Akhirnya substansi kritik dipindahkan ke personalitas pengkritik. Masalahnya bukan apakah ada alasan publik merasa cemas, melainkan seolah-olah cara pandang pengkritiklah yang keliru.

Yang salah bukan keadaan, tetapi matamu. Di sini pula publik jadi paham bagaimana kriminalisasi terhadap pengkritik itu bisa lahir.

Inilah yang dapat dibaca sebagai delegitimasi psikologis: strategi komunikasi yang menggeser fokus dari argumen ke kondisi moral atau mental lawan bicara. Kritik tidak dibantah, melainkan diposisikan sebagai ekspresi keburaman. Bila beruntung maka yang mengkritik justru menjadi bahan tertawaan

Candaan menjadi tameng yang nyaris sempurna. Kekuasaan, dengan demikian menemukan bentuknya yang paling licin: ia menyampaikan pesan disipliner sambil tetap bisa berlindung di balik kalimat, “saya hanya bercanda.”

Inilah transformasi klasik dalam komunikasi kekuasaan: ketika bahasa yang dulu dipakai untuk mendeligitimasi lawan, tak lagi diterima saat diarahkan pada diri sendiri.

Ilmuwan politik Harold Lasswell mendefinisikan politik secara sederhana namun brutal: “Who gets what, when, how.” Politik adalah distribusi sumber daya dan legitimasi. Tetapi distribusi itu tidak hanya berlangsung lewat kebijakan; ia juga berlangsung lewat narasi.

Siapa yang berhak mendefinisikan realitas?

Apakah Indonesia “gelap” atau “terang” bukan semata soal data ekonomi, tetapi soal siapa yang punya otoritas simbolik untuk memberi nama atas keadaan.

Perang narasi dalam politik kekinian sudah menjadi semacam keharusan, kuasa modern bekerja bukan saja melalui represi fisik, tetapi melalui produksi diskursus.

Baca Juga  Seskab Ungkap Presiden Prabowo Satu-satunya Kepala Negara Gelar Pertemuan Bilateral dengan Trump

Yang berkuasa menentukan bahasa mana yang sah, emosi mana yang dianggap normal, pendapat mana yang paling rasional dan kritik mana yang diklasifikasikan sebagai pesimisme berlebihan.

Saat presiden mengatakan, secara implisit, “kalau tidak suka, silakan pergi”, pesan komunikasinya melampaui humor.

Mungkin saja benar Prabowo mau bercanda dan humor namun karena ia lebih dari setengah hidupnya dalam lingkungan tradisi serdadu.

Ia sadar tidak sadar telah menggeser kritik dari ranah argumen ke ranah loyalitas/kepatuhan. Di sinilah respons semacam ini bersinggungan dengan gaya komunikasi populis.

Populisme tidak selalu tampil dalam slogan besar atau mobilisasi massa. Kadang ia hadir dalam pembelahan simbolik yang sederhana: mereka yang optimis versus mereka yang muram; mereka yang percaya versus mereka yang sinis.

Kritik terhadap kondisi negara tidak lagi dibaca sebagai bagian normal dari partisipasi demokratis, melainkan sebagai indikator afeksi politik.

Apakah Anda cukup percaya pada arah pemerintah hari ini?

Apakah Anda cukup loyal pada proyek optimisme nasional?

Oposisi akhirnya dibuat terpojok atau kritik mudah diposisikan bukan sekadar berbeda pendapat, tetapi menyimpang dari kehendak kolektif.

Maka ketika kritik dijawab dengan semacam tantangan eksodus—“kabur saja”—yang terjadi bukan dialog, melainkan eksklusi simbolik. Ada garis tak kasat mata yang ditarik: jika Anda tidak selaras dengan narasi kemajuan ini, maka posisi Anda seolah berada di pinggir komunitas moral yang sedang dibangun.

Padahal demokrasi justru mensyaratkan hal sebaliknya: hak untuk kecewa tanpa kehilangan status sebagai warga yang sah. Bukan lagi: apa yang salah dengan negara ini? Melainkan: seberapa nasionalis Anda?

Ini teknik komunikasi politik yang sangat efektif. Kritik tidak dibalas dengan kontra-data, tetapi dengan delegitimasi psikologis: matamu buram, hatimu buram, perspektifmu keliru.

Baca Juga  “Terima Kasih Presiden Prabowo”, Tom Lembong Ungkap Dukungan Lintas Kubu Hingga Gugat Hakim ke KY
Di titik itu, dialog berubah menjadi performa

Prabowo sebelumnya pernah mengatakan ingin berdialog dengan pihak-pihak yang membawa narasi “Indonesia Gelap.” Ada semacam gestur deliberatif: mari bicara, mari bahas bersama. Tetapi komunikasi politik modern sangat akrab dengan apa yang disebut symbolic responsiveness—kesediaan mendengar yang bersifat simbolik, bukan substantif.

Pemimpin memberi kesan terbuka, tanpa benar-benar membuka ruang koreksi.

Kalimat “kabur saja ke Yaman” bekerja persis seperti itu: sederhana, teatrikal, mudah dipotong jadi klip, dan efektif mengonsolidasikan basis pendukung dengan membelah dunia menjadi dua kubu moral-yang optimis versus yang pesimis; yang percaya versus yang sinis.

Padahal kritik sering kali lahir bukan dari kebencian terhadap negeri, melainkan dari rasa memiliki yang terlalu besar untuk diam. Cinta pada negara tidak selalu tampil sebagai pujian. Kadang ia hadir sebagai kegelisahan.

Barangkali di sinilah kekuasaan selalu diuji: bukan saat dipuja, melainkan saat digugat.

Sebab demokrasi tidak membutuhkan pemimpin yang hanya tahan tepuk tangan. Demokrasi membutuhkan pemimpin yang tahan mendengar kalimat yang tidak menyenangkan.

Ada ironi yang hampir puitik di sini

Dulu, Prabowo membangun energi politiknya di atas ketidakpuasan publik—Indonesia bocor, elite mencuri, masa depan suram.

Kini setelah dia menjadi Presiden, ketika nada suram datang dari warga, ia menjawab dengan optimisme yang nyaris imperatif: Indonesia terang.

Mungkin benar Indonesia terang

Tetapi dalam republik yang sehat, terang tidak ditentukan oleh siapa yang paling lantang mengatakannya. Terang justru diuji dari kesediaan negara menerima bahwa sebagian warganya masih melihat bayangan.

Barangkali, yang paling menakutkan dari kekuasaan bukan ketika ia marah melainkan ketika ia mulai percaya bahwa kritik adalah bentuk ketidaksetiaan.*

Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com

Tags: GroundbreakingIndonesia gelapKabur Saja ke YamanPresiden Prabowo Subiantoproyek hilirisasi nasional
ShareSendShareSharePinTweet
ADVERTISEMENT
Post Sebelumnya

Ruang Publik dan Etika Politik: SIAGA 98 Kritik Narasi Amien Rais hingga Serangan ke Teddy Indra Wijaya

Post Selanjutnya

KPK: Pers Bebas dan Kritis Kunci Membangun Kesadaran Publik Melawan Korupsi

RelatedPosts

Lawan Fitnah, Jaga Agenda Rakyat

3 Mei 2026

Ruang Bagi Aktivis dan Purnawirawan

1 Mei 2026
ruang konferensi pers Istana Kepresidenan

Menguatkan Komunikasi Istana: Inspirasi Praktik Baik KPK

29 April 2026
Foto ilustrasi (Istimewa)

Memutus Keheningan atas Kekerasan dalam Rumah Tangga

26 April 2026

Sekilas Gebyar Pesona Budaya Garut

26 April 2026
dok.kabariku.com-boelan

Minimnya Anggaran KPK dan Dampaknya Terhadap Efektivitas Pemberantasan Korupsi di Indonesia

23 April 2026
Post Selanjutnya

KPK: Pers Bebas dan Kritis Kunci Membangun Kesadaran Publik Melawan Korupsi

Lawan Fitnah, Jaga Agenda Rakyat

Discussion about this post

KabarTerbaru

Lawan Fitnah, Jaga Agenda Rakyat

3 Mei 2026

KPK: Pers Bebas dan Kritis Kunci Membangun Kesadaran Publik Melawan Korupsi

3 Mei 2026

Kabur Saja ke Yaman: Humor, Kuasa, dan Delegitimasi Kritik

3 Mei 2026

Ruang Publik dan Etika Politik: SIAGA 98 Kritik Narasi Amien Rais hingga Serangan ke Teddy Indra Wijaya

3 Mei 2026

May Day 2026 dan 76 Tahun Hariman Siregar: Elegi Panjang Aktivis di Panggung Demokrasi

3 Mei 2026
KAUP FHUP lantik pengurus 2026–2030, Sayuti Abubakar tekankan jejaring alumni dan pelatihan lulusan hukum (Foto: Bemby/kabariku.com)

KAUP FHUP Lantik Pengurus, Sayuti Abubakar Tekankan Jejaring dan Pelatihan Lulusan

2 Mei 2026

Pendidikan Jadi Soko Guru Integritas, KPK Dorong Budaya Antikorupsi Sejak Dini

2 Mei 2026

Pemkab Garut Wajib Membantu Janda Duafa yang Tidak Masuk DTSEN

2 Mei 2026
PB SEMMI menyoroti pidato Prabowo Subianto di Monumen Nasional saat May Day,(Istimewa)

May Day di Monas, PB SEMMI Soroti Pidato Prabowo hingga Langkah Negara Tekan Potongan Ojol

2 Mei 2026
Presiden Prabowo Subianto melakukan groundbreaking proyek hilirisasi nasional tahap II di Refinery Unit IV Cilacap, Jawa Tengah, pada Rabu, 29 April 2026

Presiden Prabowo Tegaskan Hilirisasi Kunci Kebangkitan dan Kemakmuran Bangsa

30 April 2026

Kabar Terpopuler

  • Prabowo Tunjuk Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup, Berikut Daftar Pejabat yang Dilantik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Duka Tabrakan KA di Bekasi Timur: Jurnalis Ditemukan Meninggal, Korban Tewas Capai 15 Orang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tembus Eropa! PT SPP Ekspor 20 Ton Pipa Stainless ke Jerman, Kemendag Soroti Kualitas Baja Dalam Negeri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bu Guru Salsa yang Viral karena Video Syur, Kini Bahagia Dinikahi Duda PNS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aktivis 98 Andrianto Andri Apresiasi Penunjukan Mohammad Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tragedi Kereta Bekasi Timur, FSP BUMN Indonesia Raya: Kelalaian Sistemik, Copot Direksi PT KAI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ADPPI Dorong Percepatan Ekonomi Karbon: Kepemimpinan Jumhur Hidayat Kunci Transisi Energi Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com