• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Kamis, Juli 23, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Opini Artikel

Pembuktian Ilmiah Geopolitik Bung Karno

Redaksi oleh Redaksi
13 Juni 2022
di Artikel, Profile
A A
0
ShareSendShare ShareShare

Kabariku- Banyak yang mengira bahwa peranan Bung Karno dalam sejarah hanya sebatas Memerdekakan Indonesia padahal arti penting Bung Karno jauh lebih dari itu. Bung Karno memiliki pandangan visioner tentang bagaimana seharusnya tatanan dunia tersusun yang lebih mengedepankan Co-Existence atau Ko-eksistensi ketimbang tatanan dunia yang saling mengeksploitasi.

“Lu ada, Gue ada” istilah Bung Karno dalam bahasa Betawi yang diungkapkannya dalam pidato pada tahun 1960, tatanan dunia yang saling mengakui, damai atau pasifis,  humanisme, ekonomi kolektif, berkebudayaan dan mencintai alam.

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

Ada dua periode besar jalan pemikiran Bung Karno, periode pertama langkah memerdekakan bangsanya dan periode kedua adalah ikut mengembangkan “tatanan dunia baru” yang didasarkan pada daya hidup kelola Ko-Eksistensi menggantikan tatanan dunia lama yang dianggap Bung Karno “mengeksploitasi” antara negara kuat dengan negara lemah, antara kekuatan Kapital Kuat kepada pihak yang menyerahkan tenaga dan sumber daya-nya pada kapital yang kuat atau l’exploitation de l’homme par l’homme.

RelatedPosts

Retakan Bernegara Mulai Terlihat

Catatan Ringan Juli 2026: Dua Blok dan Satu Kue

Rudi Margono: Jamwas yang Pernah Pimpin Tim Supervisi BLBI KPK, Kini Jadi Plt Jampidsus

Pada periode pertama puncaknya adalah pidato “Indonesia menggugat”di Landraad (Pengadilan Kolonial), Bandung tahun 1930  dengan pisau sejarah, Bung Karno mengungkap asal muasal Kolonialisme dan Imperialisme yang menjadi penyebab kesengsaraan jutaan manusia Indonesia.

Dan pada periode kedua adalah pidato Bung Karno di Konferensi Asia Afrika, di Bandung tahun 1955 yang kemudian digenapi pada pidato Bung Karno di PBB “To Build World A New” di New York, tahun 1960.

Disini Bung Karno mengajak seluruh dunia bergabung ke poros baru yang dibentuknya, “Poros Negara-Negara Kekuatan Baru, New Forces” dan mengembangkan manifesto dunia didasarkan Ko-Eksistensi.

Selama tahun 1956 sampai 1965 Bung Karno aktif melakukan diplomasi tingkat dunia dan berkeliling dunia untuk mengembangkan gagasannya. Bila gagasan Bung Karno, tentunya dunia yang kita kenal sekarang akan berbeda, dunia yang disusun Bung Karno adalah dunia tanpa eksploitasi antara negara kuat menghisap negara lemah, pasifis, dunia yang humanis dan berkebudayaan.

Baca Juga  Mari Pangestu Jadi Direktur Bank Dunia Mulai Maret 2020

Namun ironisnya, Bung Karno hanya dikenal sebatas tokoh yang memerdekakan bangsanya, Bung Karno tidak dikenal sebagai “Tokoh Dunia” yang menciptakan peradaban baru oleh banyak orang Indonesia.

Bahkan intelektual Indonesia generasi baru sekalipun tidak mengenal Bung Karno sebagai tokoh dunia penting.

Ketokohan Bung Karno dalam memori kolektif bangsa Indonesia  hanya terbatas dalam lingkup nasional, dan ini mendapatkan pengakuan negara secara formal bersama Bungh Hatta, Bung Karno diberikan gelar Pahlawan Proklamator, namun peran Bung Karno dalam diplomasi dunia Internasional yang sebenarnya amat berpengaruh dalam tatanan  dunia baru hilang dalam memori kolektif bangsa Indonesia padahal Bung Karno menawarkan tatanan dunia baru, Geopolitik Sukarno dijadikan alat tawar untuk menggantikan “Geopolitik Perang Dingin” sebuah tatanan dunia yang didasarkan pada pembelahan dunia pasca kalahnya Jerman Nazi oleh kubu Amerika Serikat-Inggris-Sovjet Uni tahun 1945.

Pada masa Truman-Stalin, maka terciptalah belahan dunia barat yang didasarkan pada sistem Kapitalis dan belahan dunia timur yang didasarkan pada sistem Komunisme. Dan bagi negara-negara adidaya itu tak boleh ada warna abu-abu. Bung Karno melihat bahwa perang dingin hanya menghidupkan sistem yang lebih jauh dari Kolonialisme, yaitu Neo kolonialisme dan Imperialisme yang lebih menitik beratkan arus kapital. Kedua-duanya menurut Sukarno, baik Amerika Serikat dan Sovjet Uni adalah negara imperialis.

Untuk itu Sukarno menawarkan pemahaman baru New Order : Poros negara non blok.

Dimasanya pada dekade 1960-an pemikiran Geopolitik Sukarno kerap diejek oleh intelektual Indonesia pro barat sebagai “Menara Gading Sukarno”, “Proyek Mercusuar Sukarno” bahkan diejek sebagai “Halusinasi Sukarno” yang justru membawa Indonesia pada keterpurukan.

Bahkan setelah jatuhnya Bung Karno, pada masa Orde Baru yang panjang selama 32 tahun, Pemikiran Sukarno direndam dalam dalam dan ingatan kolektif rakyat pada Bung Karno dibunuh.

Pemikiran-pemikirannya dimusuhi oleh Pemerintahan Suharto yang saat itu lebih memilih barat sebagai patron politiknya.

Padahal pemikiran Bung Karno masih sangat aktual dilihat dari perkembangan dunia sekarang apabila segala sentimen negatif yang dipropagandakan Orde Baru dikesampingkan dulu.

Beruntung gagasan Geopolitik Sukarno tak sepenuhnya mati, ada disertasi baru yang ditulis tokoh penting politik Indonesia, Hasto Kristiyanto dalam studi doktoralnya.

Baca Juga  Hasanuddin: Akhiri Polarisasi, Belajar dari Prabowo Subianto

Arti penting dari desertasi ini justru bukan sekedar membangunkan memori kolektif rakyat atas pemikiran Sukarno, bukan sekedar gagasan tapi sudah berada dalam “Ruang Tindakan”.

Hasto dikenal sebagai tokoh penting dibalik naiknya Pemerintahan Jokowi, ia juga Sekjen PDI Perjuangan, sebuah partai besar yang memiliki jutaan kader.

PDI Perjuangan dibawah Ketua Umum-nya Megawati secara konsisten mengusung ajaran Bung Karno sebagai garis politiknya.

Dan studi Doktoral Hasto ini juga diuji oleh Megawati secara ilmiah. Ada situasi batin dalam perumusan pembuktian ilmiah Geopolitik Sukarno.

Megawati mewakili generasi yang menyaksikan penindasan atas segala bentuk yang “berbau” Sukarno dan menjadi generasi yang menjadi penjaga ikatan Kaum Sukarnois dibawah penindasan Orde Baru dan Hasto mewakili generasi baru yang membawa gagasan Sukarno kembali dalam arus besar sejarah Indonesia.

Jelas Desertasi “Diskursus Pemikiran Geopolitik Soekarno Dan Relevansinya Terhadap Pertahanan Negara” menjadi ‘alam tindakan’ karena representasi Hasto Kristiyanto sendiri sebagai penggerak politik utama di Indonesia.

Disertasi itu dibacakan pada momen kelahiran Bung Karno, 6 Juni 2022 dan diuji beberapa guru besar salah satunya Megawati. Ini sangat unik dalam sejarah Sukarnois di Indonesia.

Gagasan Hasto sendiri menuliskan Disertasi ini didasarkan pada perbincangan kecilnya dengan Megawati di Slovenia beberapa tahun lalu.

“Saya ingat di masa Bung Karno dulu Indonesia begitu dielu-elukan sebagai kekuatan baru. Tapi kenapa sekarang peranan Indonesia lemah sekali?, bahkan kita diejek oleh negara kecil seperti Vanuatu”.

Alasan lain  adanya pertemuan antara Kim Jong-Un dengan Donald Trump ditetapkan di Singapura, bukan di Jakarta menunjukkan betapa lemahnya peranan diplomatik Indonesia di mata dunia Internasional.

Perbincangan kecil inilah yang mengatalisator Hasto untuk menguji secara ilmiah teori Geopolitik Sukarno serta membuka lagi peranan Indonesia yang aktif di dunia Internasional seperti masa Bung Karno.

Alasan Indonesia lemah secara ekonomi bukan jadi alasan, karena di masa Bung Karno ekonomi Indonesia masih dalam tahap perkembangan yang terpenting adalah “Kesadaran akan adanya susunan dunia baru” yang oleh Bung Karno disebut Ko-Eksistensi.

Sudah banyak buku yang membahas Sukarno, seperti biografi politik Sukarno ditulis Bernhard Dahm atau Sejarah Sukarno Bob Hering dan puluhan buku lain tentang Bung Karno baik yang bernada positif maupun negatif, arti penting disertasi Hasto (bila dijadikan buku) ini dibandingkan puluhan buku lainnya akan jadi acuan dalam “ruang tindakan”.

Baca Juga  Bupati Lantik Ade manadin, Karnoto : Leadership dan Manajerial Kadisdik Dipertaruhkan

Bagaimana tidak, sidang Doktoral Hasto Kristiyanto diuji Megawati sebagai tokoh politik paling penting Indonesia dan pemimpin partai terkuat saat ini. Dengan berbagai Guru Besar lainnya yang berkaliber nasional salah satunya Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian juga mantan Menteri Pertahanan  Purnomo Yusgiantoro dan dihadiri banyak menteri ini artinya mulai ada pengakuan negara terhadap pemikiran geopolitik Sukarno.

Apa yang diajukan Hasto dalam “Teori Progressive Geopolitical Coexistence” memberikan spirit baru tentang kepemimpinan Indonesia dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara untuk dunia.

Disertasi ini adalah ‘Rediscovery of Sukarno Thought’. Di dalamnya ada analisis ilmiah tentang the ideological power of Sukarno’s geopolitic dan the power of Sukarno diplomacy.

Ada kekuatan ideologi dalam Geopolitik Sukarno dan kekuatan Diplomasi Bung Karno dalam tujuannya menyusun tatanan dunia baru dimana solidaritas bangsa-bangsa dikedepankan dan struktur PBB harus diubah agar sistem Internasional tidak lagi anarkis.

Dihadapan promotor dan penguji yang total sebanyak 10 Profesor dan 3 Doktor tersebut, Hasto dibawah bimbingan Prof. Purnomo Yusgiantoro, Laksdya (TNI) Prof Octavian, dan Letjen (TNI) DR. I Wayan Midhio, mampu secara ilmiah mengonstruksikan teori Geopolitik Sukarno sekaligus konfirmatori secara kuantitatif. Disertasinya membuka lagi peranan Indonesia yang aktif di dunia Internasional seperti masa Sukarno.

Disertasinya itu akan dijadikan buku acuan oleh diplomat-diplomat muda Indonesia dalam mewujudkan Geopolitik Sukarno. Belum lagi jutaan kader PDI Perjuangan yang digembleng dalam sekolah-sekolah Partai pasti diajari kurikulum pemahaman Geopolitik Sukarno yang telah diuji keilmiahannya. Dan menjadikan mereka “Bung Karno-Bung Karno Muda” yang berperanan bagi masa depan  dunia.

Disertasi Hasto Kristiyanto dalam Geopolitik Sukarno adalah jalan terang mewujudkan kembali pemahaman Bung Karno terhadap ‘susunan dunia baru Ko Eksistensi’ oleh generasi muda Indonesia dan diwujudkan dalam ruang tindakan.***


Ditulis: Anton DH Nugrahanto

Red/K.101
Tags: “To Build World A New”Anton DH NugrahantoPembuktian Ilmiah Geopolitik Bung Karnoperanan Bung Karno dalam sejarah
ShareSendShareSharePinTweet
Post Sebelumnya

Rekonsolidasi SIAGA 98 ‘National Interest’ Hentikan Wacana Perpanjangan Presiden

Post Selanjutnya

Jokowi Kumat Lagi

RelatedPosts

Retakan Bernegara Mulai Terlihat

21 Juli 2026

Catatan Ringan Juli 2026: Dua Blok dan Satu Kue

13 Juli 2026

Rudi Margono: Jamwas yang Pernah Pimpin Tim Supervisi BLBI KPK, Kini Jadi Plt Jampidsus

11 Juli 2026
Direktur Samapta Korsabhara Baharkam Polri, Brigjen Pol Dr. Mokhamad Ngajib, S.I.K., M.H., (kanan) Perwira Upacara dalam peringatan Hari Bhayangkara ke-80 di Satlat Brimob Cikeas, Bogor. (dok. Korsabhara Baharkam Polri)

Sosok Jenderal Humanis Akpol 1995 Ahli Hukum Cybercrime Unpad; Brigjen Pol Mokhamad Ngajib

7 Juli 2026

Lima Cahaya Penjaga Hati dari Jalan Dosa

5 Juli 2026

Watak Integritas Polisi: Kunci Utama Terwujudnya Kemajuan Bangsa

28 Juni 2026
Post Selanjutnya

Jokowi Kumat Lagi

Diduga BTN Bocorkan Data Nasabah, Sembilan Orang 'Tim BTN' Datangi Rumah Wartawan Senior di Depok II Tengah

Discussion about this post

KabarTerbaru

Dok.Foto: istimewa

Presiden Prabowo Bentuk Universitas Republik Indonesia, Target Bangun 10 Kampus untuk Cetak Pemimpin Nasional

23 Juli 2026
Anggota DPRD Jabar H Aceng Malki hadiri Perhelatan Gebyar Pesona Budaya Garut di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Sabtu (25/4/2026).

Peringati Harlah KNPI ke-53, H. Aceng Malki Dorong Pemuda Garut Jadi Penggerak Pembangunan Daerah

23 Juli 2026
Dok.Foto: Istimewa

Modus Kredit Miliaran Terbongkar, Korban Klaim Rugi Ratusan Juta, Dwi Febri Endaryanto Akan dilaporkan ke Polisi

23 Juli 2026
SDN 1 Sukanagara Viral karena Sarang Kelelawar, DPRD Garut Pastikan Perbaikan Segera Dilakukan

Viral Kelas Dipenuhi Kotoran Kelelawar, Yuda Puja Turnawan Turun Langsung ke SDN 1 Sukanagara

23 Juli 2026
Dok.Foto: Istimewa

Kuasa Hukum Nancy: Video Pengakuan Rizki Irwansyah Tak Sesuai Fakta, Gugatan Rp11 Miliar Tetap Berjalan

23 Juli 2026

HANI 2026, Kepala BNN Tegaskan Masa Depan Indonesia Ditentukan Kualitas Generasi Muda

23 Juli 2026

Menteri LH Zumhur Hidayat Ungkap Potensi Triliunan Rupiah dari Perdagangan Karbon di Indonesia: Modal Rp200 Juta Bisa Raup Rp1,5 Miliar

23 Juli 2026

SIAGA 98 Dukung Penunjukan Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional

23 Juli 2026

Bursa Kapolri Mulai Menghangat, Komjen Karyoto Dinilai Figur Matang dan Punya Visi Kebangsaan

23 Juli 2026

Presiden Prabowo Tunjuk Sudaryono Jadi Kepala BGN, Pastikan Program MBG Tetap Berjalan

22 Juli 2026

Kabar Terpopuler

  • Owner PT Global Komodo Indonesia, Hironimus Amal. (Foto: Dok. Pribadi)

    Wow, Ekspedisi Ini Jadi Sistem Pendukung Kemajuan Bisnis Pariwisata Labuan Bajo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Manusia Jadi Komoditas Menghilang: Belajar Pasar dari Jepang yang Suka “Menguap”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Presiden Prabowo Subianto Perlu Mengevaluasi Dugaan Kebocoran Informasi Pertemuan Terkait Febri Adriansyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Koalisi MBG Watch Ajukan Judicial Review UU APBN 2026 ke MK, Soroti Anggaran Makan Bergizi Gratis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sinyal Belum Ada Pergantian Kapolri?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Retakan Bernegara Mulai Terlihat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Bocorkan ‘Adiknya’ Jadi Calon Pengganti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM
DJITUBERITA.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com