Jakarta Kabariku.com Amerikat Serikat (AS) dan Iran disebut-sebut telah menyepakati sejumlah kesepakatan damai. Reuters mengabarkan kedua negara telah menyepakati Memorandum of Understanding (MoU) sebagai kerangka awal untuk mengakhiri perang yang berlangsung sejak Februari lalu.
Sejumlah kesepakatan itu mencakup perpanjangan gencatan senjata 60 hari, pembukaan kembali akses pelayaran Selat Hormuz, hingga pembicaraan terbaru soal cadangan uranium yang telah diperkaya oleh Iran.
MoU itu juga disebut mengatur adanya rencana pengadaan dana pembangunan untuk Iran senilai US$300 miliar jika Teheran menyetujui seluruh penawaran opsi damai.
Melansir pemberitaan Reuters, Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bakal segera mempublikasikan teks MoU kesepakatan damai yang disepakati bersama dengan Iran. Kesepakatan sementara itu bertujuan menjaga stabilitas hubungan kedua negara sambil membuka jalan menuju perjanjian yang lebih permanen.
Pemerintah AS dan Iran sepakat memperpanjang 60 hari tambahan gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan pada April lalu. Perpanjangan tersebut memberikan waktu bagi kedua pihak untuk melanjutkan perundingan mengenai berbagai isu yang masih belum terselesaikan.
Selain memperpanjang gencatan senjata, kesepakatan itu juga mengatur pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama beberapa bulan terakhir mengalami gangguan akibat konflik antara Iran, AS, dan Israel.
Pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut diharapkan dapat memulihkan arus perdagangan dan distribusi energi global. Hal ini mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu rute pengiriman minyak terpenting di dunia.
Trump juga menjelaskan, kesepakatan tersebut memuat komitmen Iran untuk tidak memiliki senjata nuklir. Menurutnya, larangan tersebut tercantum secara jelas dalam naskah perjanjian yang telah disepakati kedua negara.
Pemerintah AS menilai ketentuan tersebut menjadi salah satu fondasi utama dalam upaya mengurangi ketegangan dan mencegah ancaman keamanan di kawasan Timur Tengah.
Trump mengatakan pemerintahannya akan mempublikasikan dokumen lengkap perjanjian tersebut melalui forum resmi dalam beberapa hari mendatang. Publikasi itu diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai rincian kesepakatan yang hingga kini masih menjadi sorotan publik, pelaku pasar, dan anggota Kongres AS.
“Iran ingin menyelesaikan ini,” kata Trump kepada wartawan. “Mereka harus kembali menjalankan aktivitas normal, dan hubungan sekarang sudah dinormalisasi, jadi saya pikir prosesnya akan berjalan cukup cepat.”
Wakil Presiden AS, JD Vance, menyampaikan Iran akan memeroleh dana rekonstruksi senilai US$300 miliar. Dana ini menjadi bagian dari kerangka perjanjian damai dengan AS. Vance menyatakan Iran hanya dapat mengakses manfaat ekonomi tersebut apabila pemerintahnya melakukan perubahan mendasar dan memenuhi seluruh komitmen yang tercantum dalam perjanjian.
Melansir pemeritaan New York Post pada 16 Juni lalu, Pemerintah AS menyatakan dana rekonstruksi senilai US$300 miliar itu tidak akan berasal dari anggaran negara. Para pejabat AS menyebut pembiayaan akan disediakan oleh negara-negara Arab Teluk yang bersedia berinvestasi dalam pemulihan ekonomi Iran apabila Teheran memenuhi seluruh kewajibannya.
AS juga membuka peluang untuk melonggarkan sanksi secara bertahap kepada Iran. Para pejabat AS mengatakan setiap bentuk keringanan sanksi maupun akses terhadap dana yang dibekukan akan bergantung pada langkah konkret Iran untuk menghentikan program nuklirnya. Ketentuan itu juga termasuk menghentikan dukungan terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan Timur Tengah.
Vance mengatakan AS tidak akan mengeluarkan dana untuk mendukung program rekonstruksi tersebut. Ia mengatakan manfaat ekonomi yang mungkin diterima Iran berasal dari negara-negara lain di kawasan, seperti Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi yang dapat memilih untuk berinvestasi di Iran apabila negara tersebut mematuhi seluruh ketentuan perjanjian nantinya,
“Mungkin mereka ingin berinvestasi di Iran dan membangun pembangkit listrik. Sikap Amerika Serikat terhadap hal itu adalah, ‘Ya, Anda bisa melakukannya selama Iran berperilaku sesuai ketentuanā,ā kata Vance.
Iran Pemain Utama Timur Tengah dan Dunia Islam
Menanggapi kemenangan gemilang Iran atas Amerika-Israel, Direktur Ekskutif Center Strategic on Islamic and International Studies (CSIIS), Sholeh Basyari, menyebut tiga hal.
Pertama, kemenangan Iran menandai bangkitnya kekuatan global Islam. Tepat seratus tahun, satu abad (1924-2026), pasca runtuhnya Turki Usmani, Iran merepresentasikan sebagai kekuatan utama dunia Islam dalam geopolitik global.
Kedua, Iran juga meneguhkan diri sebagai kekuatan mainstream Timur Tengah.
Dengan kemenangan gemilang ini, Iran tentu saja mengubah diri dari ‘pesakitan” kawasan Teluk dan Timur Tengah, menjadi pemimpin militer, energi dan sebentar lagi ekonomi dunia.
Ketiga, Iran menuju sebagai super power.
Tidak hanya di Timur Tengah, di kawasan negara-negara dengan populasi muslim mayoritas seperti kawasan Melayu Indonesia-Malaysia-Brunei, Sahara Afrika; Nigeria-Gambia-Mozambik, maupun Kawasan Balkan: Bosnia-Albania, serta Transaksonia: Uzbekistan, Kazakhtan, Turkmenistan serta Azerbaijan, niscaya mengubah komposisi diplomatik ke arah pendulum ya g dibangun Iran.
Sholeh menutup komentarnya dengan menyinggung posisi Indonesia. Presiden Prabowo idealnya memanfaat non-state diplomacy untuk “setor wajah” ke Iran, kata Sholeh. Hal ini penting mengingat politik luar negeri Prabowo terbaca oleh publik domistik maupun internasional lebih ke arah ‘American Centris”.
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com



















Discussion about this post