Jakarta, Kabariku – Gerakan Santri Madura menyampaikan keprihatinan atas munculnya pernyataan-pernyataan provokatif oleh seorang oknum pemuka agama yang cenderung menyerang pribadi dan merendahkan tokoh bangsa di ruang publik.
Ketua Umum Gerakan Santri Madura, Ach Sayuti mengatakan, kritik dalam demokrasi merupakan hal yang wajar dan bagian dari kebebasan berpendapat. Namun, kritik harus disampaikan dengan cara yang santun, bermartabat, dan tetap menjaga persatuan nasional.
“Kami menghormati kebebasan berbicara dalam negara demokrasi. Akan tetapi, kritik yang menjatuhkan kehormatan seseorang, termasuk kepada Jenderal Dudung Abdurachman maupun tokoh bangsa lainnya, bukanlah contoh pendidikan politik yang baik bagi masyarakat,” ujar Ach Sayuti Rabu (7/5/2026).
Ia juga menegaskan bahwa sangat tidak pantas apabila kritik kasar, ujaran bernada merendahkan, maupun bahasa-bahasa yang tidak layak justru keluar dari seorang tokoh agama yang seharusnya menjadi teladan moral dan penyejuk di tengah masyarakat.
Menurutnya, tokoh agama memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga tutur kata dan persatuan umat.
“Bahasa yang kasar dan tidak layak dikonsumsi publik, terlebih oleh generasi muda dan anak-anak bangsa, berpotensi memberikan contoh yang buruk dalam kehidupan berdemokrasi,” tegasnya.
Gerakan Santri Madura menilai, ruang publik saat ini membutuhkan keteduhan, edukasi, serta narasi kebangsaan yang mempersatukan, bukan justru mempertontonkan permusuhan dan caci maki yang dapat memperkeruh suasana nasional.
“Kita boleh berbeda pandangan politik, tetapi jangan sampai perbedaan itu melahirkan ujaran yang memecah persaudaraan sesama anak bangsa,” tandasnya.
Diketahui sebelumnya, Rizieq Shihab menyinggung pidato Presiden Prabowo Subianto terkait pernyataan “Kabur ke Yaman” bagi pihak yang menyebut “Indonesia Gelap”.
Melalui kanal YouTube, Rizieq menyebut pidato tersebut dipengaruhi sosok yang ia juluki “Jenderal Baliho”, yang dikaitkan dengan Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman.
Menanggapi hal itu, Dudung menegaskan dirinya tidak lagi memiliki persoalan pribadi dengan Rizieq dan membantah terlibat dalam narasi politik yang berkembang.
Ia menjelaskan, penertiban baliho beberapa tahun lalu dilakukan dalam konteks penegakan aturan setelah Front Pembela Islam dibubarkan pemerintah, demi menjaga persatuan dan mencegah provokasi di masyarakat.
Dudung juga mengajak seluruh tokoh bangsa untuk bersama-sama menjaga situasi tetap kondusif di tengah tantangan ekonomi dan politik global.*
Baca juga :
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com






















Discussion about this post