oleh :
Aris Santoso
Pengamat Militer
Kabariku – Konflik skala besar Iran versus (koalisi) AS-Israel berdampak pada ketegangan regional, dalam hal ini kawasan Timur Tengah, yang identik sebagai negara Islam. Ketegangan geopolitik seperti itu, bukan lagi sekadar peristiwa unjuk kekuatan militer, namun bisa juga dijadikan momentum bagi dunia Islam memikirkan ulang spirit solidaritas mereka.
Perang tersebut telah berdampak pada tekanan internal dan krisis kepemimpinan di Iran, setelah pemimpin tertingginya tewas. Sementara blok negara-negara Arab bergerak secara pragmatis dalam menghadapi ancaman bersama.
Ini bisa dianggap sinyal, dunia Islam tidak monolitik secara ideologis atau politik, realitas geopolitik saat ini memberi peluang mendefinisikan kembali solidaritas negara Islam.
Bicara tentang kebangkitan Islam masa depan, konteks yang paling aktual adalah, bukan hanya tentang konfrontasi militer, tapi tentang bagaimana umat Muslim menyikapi tantangan mendasar, yaitu kemandirian strategis, koalisi nilai, dan kapasitas intelektual.
Konflik yang sedang berlangsung kiwari, membuka ruang untuk refleksi, bagaimana negara-negara Islam melanjutkan ikhtiar membangun solidaritas.
Permintaan Maaf Iran
Respons negara-negara Muslim terhadap konflik Iran menunjukkan kenyataan sebaliknya, saat dunia Islam terpecah dalam kepentingan geopolitik dan belum memiliki kepemimpinan kolektif yang benar-benar valid.
Serangan militer yang dilancarkan Israel dan AS terhadap Iran, sejatinya bukan fenomena baru dalam ketegangan geopolitik Timur Tengah.
Reaksi negara-negara Muslim terhadap serangan tersebut menunjukkan satu kenyataan, bahwa dunia Islam tidak berada dalam satu barisan politik yang solid. Sebagian negara mengecam serangan itu sebagai pelanggaran kedaulatan negara.
Sementara yang lain memilih sikap lebih hati-hati dengan menekankan stabilitas kawasan. Ada pula yang lebih fokus pada kepentingan nasional masing-masing. Perbedaan sikap ini memperlihatkan sesuatu yang lebih mendasar: dunia Islam saat ini berada dalam fragmentasi geopolitik.
Umat Islam bergerak dalam sistem negara-bangsa yang memiliki kepentingan nasional sendiri-sendiri. Solidaritas keagamaan tetap ada, tetapi dalam praktik politik internasional acapkali kalah oleh kepentingan pragmatis, terutama pada sektor ekonomi dan politik luar negeri masing-masing.
Dalam konfigurasi geopolitik kontemporer, dunia Islam setidaknya memiliki beberapa pusat pengaruh.
Iran memposisikan diri sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi Barat dan Israel. Arab Saudi memiliki legitimasi religius sebagai penjaga dua kota suci Makkah dan Madinah. Turki berusaha memainkan peran sebagai kekuatan militer dan diplomasi regional yang semakin aktif.
Serangan terhadap Iran semakin memperlihatkan realitas tersebut. Ketika sebuah negara Muslim diserang kekuatan eksternal, dunia Islam tidak secara otomatis bersatu dalam sikap politik.
Setiap negara tetap mempertimbangkan kepentingan strategisnya sendiri. Dalam situasi seperti ini, paradoks geopolitik sering muncul. Konflik yang terjadi di kawasan dunia Islam justru membuka ruang bagi kekuatan eksternal untuk memperluas pengaruhnya.
Rusia berpotensi meningkatkan perannya sebagai mediator geopolitik. Cina memperoleh peluang memperluas pengaruh ekonomi dan diplomatiknya.
Pada minggu-minggu pertama pertempuran, pada awal bulan Maret lalu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah meminta maaf kepada negara-negara tetangganya di tengah meningkatnya konflik dan serangan militer melawan AS dan Israel.
Permintaan maaf Masoud Pezeshkian tersebut disampaikan dalam pidatonya yang disiarkan TV Pemerintah.
Tak hanya meminta maaf, Masoud Pezeshkian juga menegaskan tidak akan melakukan serangan ke negara lain atau negara tetangganya.
Permintaan maaf Presiden Iran mendapat respons positif, ketika Arab Saudi dan beberapa negara Teluk yang terkena serangan, menunjukkan sikap bijaksana dengan tidak membalas.
Tampaknya mereka tidak terpengaruh “himbauan” AS untuk ikut bersama menyerang Iran. Provokasi Israel dan AS terbukti gagal untuk melibatkan sebagian besar negara Arab membalas serangan Iran.
Sikap menahan diri komunitas negara Arab bisa menjadi modal politik guna membangun solidaritas negara-negara Islam meredam niat Israel, yang bertujuan memecah belah negara Islam.
Sekadar catatan kecil, meski permintaan maaf Presiden Iran memperoleh apresiasi dan diterima dengan baik, namun sayang serangan balasan Iran yang ditujukan ke pangkalan-pangkalan AS, ada juga yang jatuh ke area (fasilitas) sipil.
Permintaan maaf pemimpin Iran, bisa dijadikan sebagai pintu masuk atau sinyal menuju solidaritas negara-negara Islam yang lebih substansial.
Sudah saatnya negara-negara Islam menanggalkan ego mazhab dan membangun solidaritas atas dasar ukhuwah Islamiyah.
Dunia Islam yang terbagi dalam kutub Syiah dan Sunni selama berabad-abad seharusnya mampu menemukan titik temu dalam hal yang lebih besar, yaitu keadilan, kemanusiaan, dan pembelaan terhadap rakyat tertindas.
Kontribusi Indonesia
Bagi Indonesia sendiri, Iran adalah mitra strategis, utamanya dalam sektor pendidikan, sains dan teknologi. Diaspora Iran telah menjadi ilmuwan di banyak negara, kemudian pekerja kreatif Iran (utamanya para sineas) telah mengukir prestasi di tataran global.
Generasi baru Indonesia perlu banyak menimba pengalaman dari capaian Iran mutakhir seperti itu.
Di tengah ketegangan geopolitik, ada sebagian pihak yang menyebut Indonesia berpotensi sebagai moral leader dunia Islam. Secara demografis, Indonesia memang memiliki populasi Muslim terbesar di dunia.
Tradisi Islam moderat dan pengalaman demokrasi bisa dijadikan role model secara luas. Dalam konteks ini, kiranya Indonesia bisa memberikan kontribusi signifikan.
Serangan terhadap Iran bukan sekadar persoalan konflik regional. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa dunia Islam masih pada fase pencarian bentuk kepemimpinan kolektifnya.
Sejarah menunjukkan bahwa setiap krisis geopolitik sering menjadi titik awal lahirnya konfigurasi kekuatan baru.
Pertanyaannya bukan hanya siapa yang paling kuat secara militer, tetapi siapa yang mampu menawarkan visi masa depan bagi dunia Islam di tengah perubahan global yang semakin cepat.
Salah satunya kita bisa merujuk pada forum Shangri-La Dialogue di Singapura, pertengahan tahun 2024 lalu, ketika Menhan (saat itu) Prabowo (juga selaku Presiden terpilih), menyampaikan himbauan untuk kembali membangun perdamaian dan menciptakan stabilitas global, termasuk meredakan rivalitas kekuatan-kekuatan utama dunia.
Tiga prinsip yang disampaikan Prabowo dalam forum tersebut adalah kemauan hidup berdampingan dengan damai (coexistence), kolaborasi, serta membangun kompromi.
Untuk itu Indonesia mendorong pentingnya dialog yang inklusif, menjalin kerja sama konkret, seraya terus-menerus memperkuat implementasi hukum-hukum internasional.
Menguatnya tarikan geopolitik dan berlarutnya sejumlah konflik bersenjata, sebagaimana terjadi di Timur Tengah hari ini, menjadikan situasi dunia menuju temaram. Dunia tengah menghadapi tantangan yang kian kompleks dan rumit.
Pemikiran Prabowo saat menjadi narasumber utama di Shangri-La Dialogue, menemukan relevansinya hari ini.
Prabowo memastikan, sebagai negara nonblok, Indonesia tidak akan berpihak kepada poros tertentu. Sikap saling menghormati dan menghargai, menjadi opsi untuk penyelesaian sengketa wilayah yang terjadi.
Iran sendiri punya basis pendidikan teknis dan sains yang kuat, bahwa tekanan eksternal justru bisa mempercepat desentralisasi pengetahuan ke pusat-pusat baru di Asia Tenggara, Afrika Utara, dan Asia Tengah.
Dalam skenario panjang, kebangkitan Islam masa lebih mungkin berbentuk jaringan kekuatan moral, epistemik, dan ekonomi yang bersinergi, menghubungkan umat Islam di berbagai negara melalui tujuan bersama dalam sains, dan pembangunan berkelanjutan bagi kemaslahatan umat.
Kebangkitan Islam yang hadir dari transformasi internal, bukan dari kemenangan militer semata, adalah kemungkinan yang paling selaras dengan dinamika global yang sedang tumbuh.
Menengok kembali portofolio masyarakat Iran, teknologi terus mempercepat perubahan sosial, dan masyarakat Muslim memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan konstruktif global, bukan lagi sekadar proksi ketegangan geopolitik.
Komunitas mulim global perlu berpikir secara strategis, sebagai respons terhadap tekanan zaman, dan Indonesia sekali lagi bisa berkontribusi signifikan.
Ada baiknya tulisan ditutup dengan sebuah pesan moral, umat Islam dan pencinta perdamaian harus didorong untuk menata ulang, dalam merespons kekuatan eksternal yang berniat memecah belah komunitas Islam global.
Menjadi tugas Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Liga Muslim Dunia, dan MUI bersama lembaga-lembaga ulama internasional, untuk mengambil peran strategis dalam membangun dialog, fokus pada persatuan dan kolaborasi positif.*
Jakarta, 3 April 2026
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com























Discussion about this post