Jakarta, Kabariku.com – Ketua Umum DPP Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Muhamad Risyad Fahlefi, mengajak mahasiswa di seluruh Indonesia untuk tetap mengedepankan aksi yang konstruktif dalam menyampaikan aspirasi. Ia juga mengingatkan agar mahasiswa tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang dapat menggiring gerakan mahasiswa ke arah tindakan anarkis.
Menurut Risyad, mahasiswa selama ini memiliki posisi strategis sebagai kekuatan moral sekaligus agen perubahan yang turut mengawal perjalanan bangsa. Karena itu, kritik terhadap kebijakan pemerintah harus tetap disampaikan dalam koridor konstitusi, etika, dan tanggung jawab kebangsaan.
“Mahasiswa memiliki hak untuk menyampaikan kritik terhadap berbagai kebijakan publik. Namun, sebagai kaum intelektual, mahasiswa juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa perjuangan tersebut dilakukan secara bermartabat, rasional, dan berorientasi pada kepentingan rakyat,” ujar Muhamad Risyad Fahlefi dalam keterangannya, Kamis (12/6/2026).
Risyad menegaskan bahwa ruang demokrasi di Indonesia memberikan kesempatan yang luas bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat. Namun, ia mengingatkan bahwa dalam berbagai momentum penyampaian aspirasi kerap muncul provokasi yang berujung pada tindakan anarkis.
“Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan mahasiswa terletak pada gagasan, keberanian moral, dan kemampuan menawarkan solusi, ini yang harus dikedepankan,” tegasnya.
Menurutnya, berbagai persoalan bangsa seharusnya dijawab melalui dialog, kajian yang mendalam, serta partisipasi aktif dalam proses demokrasi. Ia menilai ruang demokrasi harus menjadi wadah pertukaran gagasan yang sehat dan produktif.
“Ketika mahasiswa mengedepankan argumentasi yang kuat dan berbasis data, maka suara mahasiswa akan memiliki legitimasi yang lebih besar di hadapan publik maupun pengambil kebijakan. Inilah tradisi intelektual yang harus terus dijaga oleh gerakan mahasiswa Indonesia,” katanya.
Lebih lanjut, Risyad mengajak seluruh organisasi kemahasiswaan untuk bersama-sama menjaga kondusivitas nasional di tengah berbagai dinamika sosial dan politik yang berkembang. Ia menekankan pentingnya menjaga persatuan dan menghindari polarisasi yang berpotensi mengganggu kohesi sosial bangsa.
“Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan sampai kehilangan semangat persatuan sebagai sesama anak bangsa. Mahasiswa harus menjadi jembatan dialog dan solusi, jangan sampai memperkeruh keadaan,” lanjutnya.
Menutup pernyataannya, Risyad mengajak seluruh mahasiswa Indonesia untuk tetap menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan kepentingan rakyat melalui cara-cara yang bermartabat, intelektual, dan berorientasi pada solusi.
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com
















Discussion about this post