• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Jumat, Mei 15, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Opini

Tak Ada Sosialisme Indonesia Tanpa Hilirisasi dan Industrialisasi

Tresyana Bulan oleh Tresyana Bulan
28 Maret 2026
di Opini
A A
0
ilustrasi

ilustrasi

ShareSendShare ShareShare

oleh :
Bin Bin Firman Tresnadi
Nalar Bangsa Institute

Jakarta, Kabariku – Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Ketika konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memanas, yang sebenarnya sedang terguncang bukan hanya kawasan Timur Tengah-melainkan jantung peradaban energi global. Selat Hormuz, jalur distribusi minyak dunia, menjadi titik rawan yang setiap saat bisa memicu lonjakan harga energi dan krisis pasokan.

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

Bagi Indonesia, ini bukan sekadar isu luar negeri. Ini adalah alarm keras: bahwa ketergantungan pada impor energi adalah bentuk nyata dari ketidakmerdekaan ekonomi. Dan di sinilah letak persoalan ideologis kita.

RelatedPosts

Tradisi Intelektual Pejabat Publik

Hari Pers Dunia: Kasus Kadri Amin dan Ancaman Ekosistem Pers

Polisi Siber dan Harapan Keberlanjutan Keamanan Bangsa

Sosialisme Indonesia tidak bisa dibangun dari slogan. Ia harus berdiri di atas struktur produksi nasional yang kuat-yang menguasai sumber daya, mengolahnya, dan mendistribusikannya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Tanpa hilirisasi, kita hanya bangsa pengekspor bahan mentah. Tanpa industrialisasi, kita hanya pasar bagi produk negara lain. Artinya: tanpa dua agenda ini, sosialisme Indonesia hanya ilusi.

Selama ini kita terlalu lama terjebak dalam model ekonomi ekstraktif-menjual nikel mentah, batubara mentah, bahkan potensi energi mentah-lalu membeli kembali dalam bentuk barang jadi dengan harga berlipat. Ini bukan kedaulatan. Ini ketergantungan yang dilegalkan.

Krisis Energi Global: Momentum atau Ancaman

Perang yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya terhadap Iran telah mendorong volatilitas harga minyak dunia dan mengancam rantai pasok energi global.

Indonesia, yang masih mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari, berada dalam posisi rentan terhadap gejolak tersebut.

Pemerintah tidak tinggal diam. Presiden Prabowo Subianto secara langsung memerintahkan percepatan elektrifikasi dan pengurangan ketergantungan pada BBM impor sebagai respons atas situasi ini.

Baca Juga  Presiden Prabowo Resmi Luncurkan Katalog Elektronik Versi 6.0, Tingkatkan Transparansi dan Efisiensi

Dalam salah satu pernyataannya, Presiden menegaskan arah politik energi nasional:

“Saya sudah kasih keputusan politik, dalam waktu sesingkat-singkatnya paling lambat 2 tahun, kita harus punya tenaga surya 100 GW”.

Pernyataan ini bukan sekadar target teknokratik. Ini adalah deklarasi ideologis: bahwa Indonesia harus keluar dari jebakan impor energi dan masuk ke era kemandirian berbasis industrialisasi energi.

Hilirisasi: Jalan Memutus Rantai Ketergantungan

Hilirisasi bukan sekadar kebijakan ekonomi-ia adalah strategi pembebasan nasional. Ketika nikel diolah menjadi baterai, ketika sawit diubah menjadi biofuel, ketika energi surya diproduksi dalam negeri-maka nilai tambah tidak lagi dinikmati oleh negara lain, tetapi oleh rakyat Indonesia sendiri.

Presiden Prabowo telah mendorong puluhan proyek hilirisasi strategis bernilai ratusan triliun rupiah sebagai fondasi transformasi ini. Ini menunjukkan bahwa negara mulai bergerak dari ekonomi berbasis komoditas menuju ekonomi berbasis industri.

Namun harus ditegaskan: hilirisasi tanpa industrialisasi adalah setengah jalan.

Industrialisasi: Mesin Sosialisme Modern

Industrialisasi adalah alat produksi modern. Tanpa itu, tidak mungkin ada distribusi keadilan. Sosialisme Indonesia tidak identik dengan nasionalisasi semata, tetapi dengan kemampuan negara mengendalikan rantai produksi-dari hulu ke hilir-dengan efisiensi, teknologi, dan keberpihakan pada rakyat.

Industrialisasi energi, khususnya, menjadi kunci. Elektrifikasi transportasi, pembangunan energi terbarukan, hingga konversi pembangkit diesel adalah langkah konkret menuju kedaulatan energi. Dalam konteks krisis global, ini bukan pilihan-ini keharusan.

Krisis global hari ini membuka satu kebenaran yang tidak bisa lagi disangkal: negara yang tidak menguasai industrinya sendiri akan selalu menjadi korban dari permainan geopolitik global.

Indonesia harus memilih. Tetap menjadi penonton dalam rantai pasok global, atau menjadi pemain utama dengan kekuatan industri nasional.

Sosialisme Indonesia, jika ingin benar-benar hidup, tidak bisa berdiri di atas pidato. Ia harus berdiri di atas pabrik, smelter, pembangkit listrik, dan teknologi.

Baca Juga  Ruang Bagi Aktivis dan Purnawirawan

Karena pada akhirnya, kedaulatan bukan ditentukan oleh seberapa keras kita berbicara-tetapi oleh seberapa kuat kita memproduksi.

Dan di era krisis energi global ini, hanya bangsa yang berindustri yang akan bertahan.*

Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com

Tags: hilirisasiindustrialisasikrisis energi globalNalar Bangsa Instituteperadaban energi globalPresiden Prabowo Subianto
ShareSendShareSharePinTweet
ADVERTISEMENT
Post Sebelumnya

Skema MBG 5 Hari Tunggu Keputusan Prabowo, Fokus Kualitas dan Hemat Anggaran 40 Triliun

Post Selanjutnya

KPK Imbau Kepala Daerah Evaluasi Penyalahgunaan Kendaraan Dinas saat Idulfitri 2026

RelatedPosts

Tradisi Intelektual Pejabat Publik

13 Mei 2026

Hari Pers Dunia: Kasus Kadri Amin dan Ancaman Ekosistem Pers

10 Mei 2026

Polisi Siber dan Harapan Keberlanjutan Keamanan Bangsa

8 Mei 2026

Teddy Indra Wijaya: Diam di Tengah Serangan Politik, Karier Cemerlang Tentara Profesional di Pusat Kekuasaan

8 Mei 2026
Foto Kantor Kompolnas : Istimewa

Cukup Sebagai Mitra Strategis, Kompolnas Tidak Perlu Kewenangan Eksekutorial

3 Mei 2026

Lawan Fitnah, Jaga Agenda Rakyat

3 Mei 2026
Post Selanjutnya
dok KPK

KPK Imbau Kepala Daerah Evaluasi Penyalahgunaan Kendaraan Dinas saat Idulfitri 2026

BNN Buru Jaringan Narkoba Internasional "Mami", Gandeng DEA dan Polisi Kamboja

Discussion about this post

KabarTerbaru

Asep Edi Suheri Resmi Sandang Pangkat Komjen, Kapolda Metro Jaya Kini Dipimpin Jenderal Bintang Tiga

15 Mei 2026

Dituntut 18 Tahun dan Rp5,6 Triliun, Nadiem Klaim Tak Bersalah di Kasus Chromebook

14 Mei 2026

Wapres Gibran Dorong Kepala Daerah Aktif Promosikan Destinasi Wisata di Forum BBTF 2026

14 Mei 2026

Penggeledahan di Semarang, KPK Temukan Dugaan “Pengkondisian” Kasus Bea Cukai

14 Mei 2026
Oplus_131072

Apresiasi Satgas PKH, Presiden Prabowo Tekankan Integritas Yudikatif dan Perlindungan Aset Negara

13 Mei 2026
Presiden Prabowo Subianto meminta bunga kredit PNM untuk rakyat kecil dipangkas hingga di bawah 9 persen. (Istimewa)

Presiden Prabowo Perintahkan Bunga PNM Dipangkas di Bawah 9 Persen, Rosan Siap Turunkan Jadi 8 Persen

13 Mei 2026

Tradisi Intelektual Pejabat Publik

13 Mei 2026

Deretan Kapolri Terlama: Fondasi R.S. Soekanto, Integritas Hoegeng hingga Polri Presisi

13 Mei 2026
GMNI Jakarta dan HMI menggelar aksi meminta transparansi proyek KDMP.(Foto: Istimewa)

GMNI Jakarta-HMI Desak Audit Proyek KDMP, Soroti Dugaan Selisih Anggaran Rp112 Triliun

13 Mei 2026

Desa Nelayan Modern Hadir di Miangas, Presiden Prabowo Bangun Ekonomi Biru Wilayah Perbatasan

10 Mei 2026

Kabar Terpopuler

  • Bu Guru Salsa yang viral, kini bahagia menjadi istri seorang PNS

    Bu Guru Salsa yang Viral karena Video Syur, Kini Bahagia Dinikahi Duda PNS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • MK Kabulkan Pencabutan Uji Materi UU APBN 2026 Terkait Tata Kelola MBG

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adhi Makayasa 94 Irjen Pol Alberd Teddy Benhard Sianipar, Perkuat PPATK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wapres Gibran Dorong Kepala Daerah Aktif Promosikan Destinasi Wisata di Forum BBTF 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hari Pers Dunia: Kasus Kadri Amin dan Ancaman Ekosistem Pers

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Deretan Kapolri Terlama: Fondasi R.S. Soekanto, Integritas Hoegeng hingga Polri Presisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gerakan Nasional Aktivis ’98 Desak 4 Mahasiswa Trisakti Jadi Pahlawan Nasional Reformasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM MEDIAMASSA.ID

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com