Jakarta, Kabariku.com – Polemik penangguhan penahanan Roy Suryo dan dr Tifa terus memantik reaksi keras dari kalangan pendukung Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Kekecewaan yang sebelumnya hanya bergaung di media sosial kini berkembang menjadi tudingan adanya pengkhianatan politik terhadap Jokowi, bahkan menyeret nama Presiden Prabowo Subianto.
Salah satu reaksi paling keras datang dari loyalis Jokowi, Fritz Alorboy. Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, Fritz secara terbuka menyatakan siap mendeklarasikan dukungan kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk maju sebagai calon presiden pada Pemilu 2029.
“Saya Frid Alorboy akan deklarasi Gibran maju presiden 2029 lawan Prabowo. Saya akan tiap hari teriak minta Mas Gibran maju presiden 2029 melawan Prabowo. Prabowo itu bisa menang karena Pak Jokowi. Tanpa Pak Jokowi, Prabowo tidak ada apa-apanya,” ujar Fritz.
Pernyataan tersebut muncul setelah Roy Suryo dan dr Tifa tidak ditahan usai pelimpahan perkara ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.
Fritz Tuding Ada Pengkhianatan
Fritz mengaku kecewa setelah mendengar pernyataan dr Tifa yang menyampaikan ucapan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto terkait proses hukum yang sedang berjalan.
Menurut Fritz, pernyataan itu menjadi indikasi adanya keterlibatan pihak tertentu dalam keputusan penangguhan penahanan.
“Dari komentar dr Tifa, saya mengatakan dengan tegas Pak Prabowo berkhianat kepada Pak Jokowi,” kata Fritz.
Ia bahkan mengklaim bahwa keputusan tersebut menjadi bukti adanya pihak-pihak yang selama ini berada di balik polemik ijazah Jokowi.
“Ini bukti bahwa yang sepakat atas penangguhan Roy Suryo dan Tifa adalah Bapak Presiden Prabowo Subianto dan juga Kejaksaan,” lanjutnya.
Hersubeno Soroti Jarak Politik Jokowi-Prabowo
Dikutip dari kanal YouTube program Off The Record, jurnalis senior Hersubeno Arief menilai respons para loyalis Jokowi mencerminkan adanya kegelisahan politik yang semakin terbuka.
Menurut Hersubeno, sikap Jokowi di ruang publik tetap normatif dengan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada Kejaksaan. Namun, kemarahan yang ditunjukkan para pendukungnya justru memperlihatkan dinamika berbeda di tingkat akar rumput.
“Kalau Pak Jokowi memberikan sikap normatif, tapi tidak seperti itu para pendukungnya. Ada panggung depan dan panggung belakang yang berbeda,” ujar Hersubeno.
Ia juga menilai polemik ini semakin menguatkan persepsi bahwa hubungan politik antara Jokowi dan Prabowo tidak lagi sejalan seperti saat Pilpres 2024.
“Ini semakin mengkonfirmasi bahwa memang semakin jauh bersimpang jalan antara Pak Jokowi dengan Pak Prabowo,” katanya.
Penangguhan Penahanan Dinilai Picu Kemarahan Loyalis
Hersubeno menilai kemarahan sejumlah loyalis Jokowi tidak muncul tanpa sebab. Mereka sebelumnya meyakini proses hukum terhadap Roy Suryo dan dr Tifa akan berujung pada penahanan.
Ketika skenario itu tidak terjadi, sebagian pendukung Jokowi merasa kecewa dan menganggap ada kekuatan politik yang bekerja di belakang layar.
Sementara itu, pengacara Joko Widodo Ade Darmawan juga melontarkan sindiran keras. Dalam pernyataannya, ia meminta agar pihak yang disebut sebagai “orang kuat” di belakang Roy Suryo sekalian mengangkat mantan Menteri Pemuda dan Olahraga itu menjadi menteri.
“Kami mohon juga untuk orang kuat yang ada di belakang Roy Suryo untuk segera mengangkat Pak Roy menjadi menterinya. Biar kita tampakkan sekaligus bahwa inilah cermin republik ini. Seorang penghina Jokowi mendapat posisi menteri,” ujar Ade dikutip dalam konferensi pers, Selasa (23/06).
Namun Ade tidak menjelaskan siapa sosok yang dimaksud sebagai “orang kuat” tersebut.
Kasus Tetap Bergulir ke Pengadilan
Di tengah polemik yang berkembang, proses hukum terhadap Roy Suryo dan dr Tifa dipastikan tetap berlanjut. Kejaksaan menyatakan perkara tersebut akan dibawa ke pengadilan guna memberikan kepastian hukum.
Hersubeno menilai dinamika politik yang mengiringi kasus ini masih akan berlangsung cukup panjang.
“Kita bisa pastikan bahwa sekarang ini yang terlihat hanya panggung depan saja. Yang lebih menentukan justru panggung di belakang,” ujarnya.
Menurutnya, tarik-menarik kepentingan politik dalam kasus tersebut belum sepenuhnya berakhir meski tahap penahanan telah dilalui.
Perdebatan mengenai polemik ini pun terus memanas di media sosial. Sebagian netizen menilai kemarahan para loyalis Jokowi sebagai konsekuensi dari dinamika politik yang berubah, sementara pihak lain melihatnya sebagai bukti adanya keretakan hubungan antara kelompok pendukung Jokowi dan pemerintahan Prabowo.
Dengan proses hukum yang masih berjalan dan narasi politik yang terus berkembang, isu ini diperkirakan masih akan menjadi sorotan publik dalam beberapa waktu ke depan.
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com


















Discussion about this post