Penulis KI Darmaningtyas
Jakarta, Kabariku.com– Layanan transportasi umum di Kota Surabaya tengah dibenahi. Pemerintah Pusat, baik melalui Direktorat Jendral Perhubungan Darat (Hubdar), Direktorat Jendral Perkeretaapian (DJKA), maupun Direktorat Jendral Integrasi antar Moda (Intram) Kementerian Perhubungan tengah memberikan dukungan untuk pembenahan layanan transportasi di Kota Surabaya. Hubdar memberikan dukungan dalam bentuk kajian feasibility studies (FS) dan detail engineering design (DED) untuk pembangunan BRT (bus rapit transit), DJKA membangun elektifikasi jaringan kereta perkotaan, sedangkan Intram membantu pengintegrasian layanan antar moda. Semuanya itu dimaksudkan untuk memberikan keselamatan, keamanan, dan kenyamanan bagi pengguna angkutan umum, yang ujungnya mendorong warga Kota Surabaya dan sekitarnya lebih banyak menggunakan angkutan umum daripada kendaraan pribadi.
Dorongan kepada warga kota untuk lebih banyak menggunakan angkutan umum daripada menggunakan kendaraan pribadi di kota-kota besar seperti Surabaya dan sekitarnya amat mendesak mengingat berbagai pertimbangan, seperti kemacetan lalu lintas yang semakin parah, polusi udara dan suara yang semakin tinggi kadarnya, makin menipisnya cadangan BBM kita, tingginya angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan pribadi, serta penghematan biaya transportasi.
Surabaya sebagai kota megapolitan kedua setalah Jakarta dengan cakupan wilayah Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan (Gerbangkertosusila) pada dasarnya menghadapi persoalan yang sama dengan Jakarta dan sekitarnya, yaitu tingginya ketergantungan terhadap kendaraan pribadi khususnya roda dua sehingga kemacetan tidak dapat terhindarkan. Bedanya, bila pergerakan di Jakarta ini dari arah timur (Bekasi), Selatan (Depok dan Bogor) serta barat (Tangerang), sedangkan pergerakan di Surabaya lebih banyak dari selatan dan barat. Perbedaan lainnya adalah, bila kemacetan di Jakarta terjadi sepanjang hari, bahkan hingga larut malam; sementara kemacetan di Surabaya terjadi pada jam sibuk pagi dan sore saja. Tapi kemacetan tersebut sama-sama menilbukan stress warga.
Pembenahan Terminal Purabaya
Layanan transportasi umum di Surabaya sekarang masih didominasi oleh bus, mengingat layanan kereta komuter masih terbatas, belum semasif di Jakarta. Mayoritas layanan bus kota bersumber di Terminal Tipe A Purabaya atau dulu dikenal dengan sebutan Bungurasih. Ini sebetulnya merupakan keuntungan pagi Pemkot Surabaya karena integrasi angkutan maupun konektivitasnya secara otomatis terbangun. Tingkat keterisian (load factor) layanan perkotaan akan terjamin tinggi karena tidak hanya mengandalkan orang yang melakukan pergerakan di dalam kota saja, tapi juga dipasok oleh para penumpang Bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) dan AKDP (Antar Kota Dalam Provinsi). Sebaliknya, pagi pendatang yang turun dari Bus AKAP atau AKDP dan ingin melanjutkan perjalanan ke Kota Surabaya, mereka tidak perlu sulit mendapatkan layanan angkutan kota. Inilah yang dalam banyak kesempatan saya katakana bahwa Terminal Purabaya ini dilihat dari fasilitas integrasinya merupakan terminal terbaik di Indonesia.
Menyadari peran strategis Terminal Tipe A Purabaya ini, maka Bambang Hermanto Kepala BPTD (Balai Pengelola Transportasi Darat) Kelas II Jawa Timur ingin melakukan penataan Terminall Purabaya agar lebih menarik dan memberikan kemudahan bagi pengguna angkutan umum, baik dalam kota, AKDP, maupun AKAP. Bangunan terminal seluas enam hektar lebih ini memang dibangun sejak 1989 dan diresmikan oleh Menteri Perhubungan Aswar Anas 11 Maret 1991. Artinya, usia bangunan terminal sudah lebih dari 35 tahun dan dengan perspektif bangunan saat itu, yang belum mengenal standar pelayanan minimum (SPM). Ketika sekarang pergerakan warga telah mengalami peningkatan dan pelayanan publik sudah didasarkan pada SPM, maka kawasan terminal memerlukan penataan ulang agar memberikan aspek keselamatan, keamanan, kenyamanan, dan keterjangkauan bagi warga. Fasilitas pejalan kaki tersebut juga dapat diakses oleh pengguna kursi roda.
Penataan lainnya adalah membenahi parkir motor. Saat ini di Terminal Purabaya ada 11 titik parkir yang dikelola oleh pihak ketiga. Pada masa lalu setiap ada lahan kosong dan ada yang mengajukan permohonan mengelola parkir diizinkan. Sekarang, parkir akan ditempatkan di satu titik dengan dibuatkan bangunan bertingkat dengan system KPBU (Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha). Para pengelola parkir didorong membentuk konsorsium sebagai pengelola parkir, sehingga hanya ada satu pengola parkir. Lahan-lahan kosong yang semula dipakai parkir akan dibuat embung/danau buatan untuk menampung air hujan agar tidak menimbulkan banjir. Selama ini kalau hujan deras, area terminal banjir. Bila area terminal ditinggikan, dampaknya warga sekitar terminal yang akan kebanjiran.
Pembenahan juga dilakukan di area tempat ngetem bus kota, agar calon penumpang bus kota, baik itu Trans Jatim, Trans Semanggi Surabaya (TSS), Surabaya Bus (SB), maupun Wira-Wiri memiliki ruang tunggu yang nyaman. Lokasi penurunan penumpang bus kota juga akan dikonsentrasikan di areah kedatangan semua, sehingga penumpang dapat memanfaatkan fasilitas pejalan kaki, baik untuk menuju ke pemberangkatan bus kota lainnya maupun AKDP dan AKAP. Tempat pemberangkatan bus AKAP akan dibenahi agar lebih nyaman lagi.
Melalui pembenahan-pembenahan fisik tersebut, Bambang optimis akan dapat meningkatkan minat warga Surabaya dan Jawa Timur umumnya untuk menggunakan angkutan umum, karena merasa semakin selamat, aman, dan nyaman. Diharapkan potensi PNBP (pendapatan negara bukan pajak) dapat ditingkat, mencapai Rp.5 – Rp. 7 miliar pertahun.
Integrasi dengan Layanan Kereta
Seiring dengan penataan Kawasan Terminal Tipe A Purabaya yang dilakukan oleh BPTD Jatim untuk memberikan kenyamanan bagi pengguna angkutan kota di Surabaya; DJKA Kementerian perhubungan melalui Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) I Surabaya juga melakukan penataan melalui program Surabaya Regional Railway Line (SRRL).
Menurut Denny Michels Adlan, Kepala BTP I Sureabaya (01/07/2026) penataan ini untuk memenuhi kebutuhan mobilitas warga yang terus meningkat dan mengatasi keterbatasan kapasitas layanan transportasi publik di Kawasan Metropolitan Surabaya Raya. Melalui program SRRL ini diharapkan integrasi antar moda atau konektivitas antar wilayah dapat dilakukan dengan mudah dan nyaman. Orang dapat berpindah dari BRT ke kereta komuter atau sebaliknya dengan mudah dan nyaman.
Dengan jumlah penduduk di Kawasan Gerbangkertasusila yang mencapai 10 juta dan pergerakan mencapai 200.000/hari, sementara angkutan umumnya masih terbatas, maka penataan Kawasan stasiun dan jaringan rel di wilayah perkotaan Surabaya dan sekitarnya ini menjadi amat penting. Sejumlah program yang akan dilaksanakan dalam program SRRL ini adalah mencakup peningkatan prasarana dan elektrifikasi, serta penanganan perlintasan sebidang, meliputi jalur: Lamongan – Surabaya Pasar Turi, Gresik – Kandangan, Wonokromo – Mojokerto, dan Tarik – Sidoarjo. Juga Pembangunan fly over di Jl Ambengan, Jl Bung Tomo, dan Jl Pahlawan Sidoarjo. Program SRRL ini ditargetkan akan selesai pada tahun 2028. Program SRRL ini memperoleh dukungan dari Pemerintah Jerman, dan keluar sebagai kontraktornya adalah Jepang, dengan menggandeng konsultan lokal.
Program lain yang masih menjadi pekerjaan rumah BTP I Jatim ini adalah menuntaskan pembangunan double track lintas Wonokromo – Sepanjang (Mojokerto) yang sampai sekarang masih tersisa tujuh kilometer. Anggaran yang diperlukan sebesar Rp. 300 miliar dari APBN telah tersedia. Hanya saja, kata Denny, sekarang ini ada aturan baru kalau kita bangun double track itu tidak dianggap existing, melainkan bangun jaringan rel baru sehingga harus ada FS-nya. Ini yang sedang disusun.
Denny memberikan catatan bahwa integrasi layanan angkutan umum, khususnya BRT dengan kereta komuter di Wonokromo itu perlu dipikirkan. Denny optimis, kalau integrasi layanan BRT dengan kereta komuter itu dapat diwujudkan, maka sangat mungkin akan menghidupkan kembali pasar dan mall di Wonokromo. Antara penumpang kereta komuter dengan BRT perlu dihubungkan dengan JPO, yang juga terhubung dengan mall. Pengalaman dengan Mall Blok M Plaza, yang semula hampir mati, begitu terkoneksi dengan Stasiun MRT Blok M menjadi semakin ramai.
Pekerjaan rumah lain yang menjadi catatan Denny adalah soal lintasan Surabaya-Malang yang masih single track. Padahal kalau bisa double track, layanannya bagus karena orang mau wisata ke Malang dapat menggunakan kereta api. Hanya saja kendalanya, untuk bangun double track tersebut terhalang oleh lumpur Lapindo. Kalau mau dibuat shortcut prosesnya masih memerlukan pembebasan lahan. Namun bila itu terwujud menjadi amat ideal karena akan mampu memindahkan pergerakan orang dari Malang ke Surabaya dari menggunakan kendaraan pribadi ke angkutan umum (kereta). Tinggal memikirkan angkutan lanjutan maupun integrasinya, baik di Malang maupun Surabaya.

















Discussion about this post