Jakarta, Kabariku.com – Gerakan Nasional Aktivis ’98 mendorong pemerintah untuk menetapkan empat mahasiswa Universitas Trisakti yang gugur dalam peristiwa 12 Mei 1998 sebagai pahlawan nasional. Usulan itu disampaikan dalam momentum peringatan 28 tahun Reformasi 1998 yang dinilai menjadi tonggak penting perjalanan demokrasi Indonesia.
Koordinator Gerakan Nasional Aktivis ’98, Anton Aritonang, mengatakan pengorbanan empat mahasiswa Trisakti memiliki nilai historis besar dalam perjalanan bangsa karena menjadi bagian penting dari lahirnya era Reformasi.
“Kami mendesak agar 4 mahasiswa Trisakti yang jadi korban 12 Mei 1998 itu jadi pahlawan nasional tahun ini. Itu yang lebih penting,” kata Anton dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026).
Menurut dia, tragedi yang menewaskan mahasiswa Trisakti menjadi momentum yang membuka ruang perubahan politik dan demokrasi di Indonesia.
“Karena apapun ceritanya, 4 orang ini adalah korban tragedi Trisakti, mahasiswa Trisakti. Itu menjadi pembuka tabir demokrasi,” ujarnya.
Refleksi 28 Tahun Reformasi
Dalam pernyataan sikapnya, Gerakan Nasional Aktivis ’98 menyebut gerakan mahasiswa 1998 lahir sebagai respons atas situasi sosial, politik, dan ekonomi pada masa itu. Reformasi dinilai menjadi bagian dari upaya memperkuat demokrasi, supremasi hukum, dan pemberantasan praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).
Mereka juga mengingat kembali berbagai peristiwa yang terjadi menjelang Reformasi 1998, mulai dari aksi mahasiswa, dinamika sosial politik nasional, hingga Tragedi Trisakti yang menjadi salah satu momen penting dalam sejarah Indonesia modern.
“Gerakan Reformasi 1998 adalah panggilan nurani kolektif bangsa untuk mengembalikan kedaulatan rakyat, keadilan sosial, dan supremasi moral sesuai amanat UUD 1945,” demikian bunyi pernyataan sikap Gerakan Nasional Aktivis ’98.
Dorong Semangat Reformasi Tetap Dijaga
Selain mengusulkan penghargaan pahlawan nasional bagi korban Trisakti, Gerakan Nasional Aktivis ’98 juga mengajak seluruh elemen bangsa menjaga semangat Reformasi agar tetap relevan dalam kehidupan bernegara.
Mereka menilai berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan politik yang dihadapi Indonesia saat ini perlu dijawab melalui penguatan demokrasi dan partisipasi publik.
Anton mengatakan pihaknya juga akan melakukan konsolidasi bersama sejumlah aktivis lintas generasi dalam rangka refleksi Reformasi pada 20 hingga 21 Mei 2026.
“Kami akan konsolidasikan lagi kekuatan. Artinya bagaimana semangat Reformasi tetap menjadi pengingat bagi perjalanan bangsa ke depan,” kata Anton.
Ia menambahkan gerakan tersebut akan tetap berjalan independen dan fokus pada nilai-nilai moral perjuangan Reformasi 1998.(Bemby)
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com

















Discussion about this post