Jakarta, Kabariku.com – Indonesia mencetak capaian baru di sektor pertanian. Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun bergantung pada pasokan jagung dari luar negeri, pemerintah menghentikan impor komoditas tersebut pada 2026. Tak hanya itu, Indonesia juga mulai mengekspor jagung, menandai perubahan besar dalam peta ketahanan pangan nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indonesia telah mengimpor jagung sejak 1973. Berakhirnya ketergantungan impor setelah 53 tahun dinilai menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam upaya membangun kemandirian pangan.
Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute sekaligus Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, Ir. R. Haidar Alwi, MT, mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari arah kebijakan pemerintah yang menempatkan ketahanan pangan sebagai agenda prioritas nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, keberhasilan itu juga tidak bisa dilepaskan dari kolaborasi berbagai pihak, termasuk keterlibatan Polri dalam mendampingi petani dan mengawal pelaksanaan program swasembada jagung di berbagai daerah.
“Mengakhiri impor jagung setelah lebih dari lima puluh tahun bukan sekadar keberhasilan meningkatkan produksi. Ini adalah bukti bahwa Indonesia mampu mengubah sejarah ketika kepemimpinan nasional, kebijakan yang tepat, kerja keras petani, dan pengabdian seluruh institusi negara berjalan dalam satu tujuan. Polri telah menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat juga dapat diwujudkan melalui kontribusi nyata dalam memperkuat ketahanan pangan sebagai bagian dari ketahanan nasional,” ujar Haidar Alwi.
Swasembada Bukan Tujuan Akhir
Meski impor telah dihentikan, Haidar Alwi mengingatkan bahwa pekerjaan pemerintah belum selesai. Menurutnya, keberhasilan swasembada harus diikuti dengan meningkatnya kesejahteraan petani agar capaian tersebut dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Ia menilai ketahanan pangan tidak hanya diukur dari besarnya produksi. Faktor lain seperti ketersediaan pangan, kemudahan akses, pemanfaatan yang optimal, serta stabilitas harga dan pasokan menjadi fondasi yang harus dijaga secara bersamaan.
Untuk itu, Haidar Alwi mendorong pemerintah terus memperluas akses pembiayaan bagi petani agar mereka memiliki kemampuan meningkatkan produktivitas dan membuka lahan pertanian baru.
Di sisi lain, penggunaan benih unggul juga perlu diperluas agar petani memperoleh varietas yang lebih cepat panen, tahan terhadap serangan hama, memiliki hasil tinggi, dan mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim.
Ia juga menyoroti persoalan distribusi pupuk yang masih menjadi pekerjaan rumah. Menurutnya, data administrasi mengenai stok pupuk harus benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan sehingga kebutuhan petani dapat terpenuhi tepat waktu, baik dari sisi jumlah maupun kualitas.
Tata Niaga Harus Berpihak kepada Petani
Selain produksi, Haidar Alwi menilai pembenahan tata niaga hasil pertanian menjadi aspek penting yang tidak boleh diabaikan.
Menurutnya, petani harus memperoleh harga jual yang layak sehingga hasil panen benar-benar meningkatkan pendapatan mereka. Karena itu, penguatan koperasi, akses pembiayaan, pembangunan industri pengolahan hasil panen, penyediaan gudang penyimpanan, hingga perluasan jaringan pemasaran perlu terus diperkuat agar ketergantungan terhadap tengkulak semakin berkurang.
Ia juga mengingatkan bahwa petani menghadapi tantangan ekonomi selama masa tanam hingga panen yang berlangsung sekitar tiga bulan. Dalam periode tersebut, kebutuhan hidup keluarga tetap harus dipenuhi sehingga dukungan pembiayaan, kepastian harga, dan jaminan pemasaran menjadi bagian penting dalam kebijakan swasembada pangan.
“Survei Haidar Alwi Institute pada Maret hingga April 2026 yang mencatat tingkat kepercayaan publik terhadap Polri mencapai 87,3 persen menjadi salah satu dasar penilaian kami bahwa Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo layak dinobatkan sebagai Kapolri terbaik sepanjang masa. Keberhasilan Polri dalam mendukung program strategis nasional, termasuk mengawal swasembada jagung hingga Indonesia berhasil mengakhiri 53 tahun impor, semakin memperkuat penilaian tersebut. Ini membuktikan bahwa sejarah dapat diubah oleh kepemimpinan yang visioner, kebijakan yang konsisten, serta kerja nyata yang berpihak kepada rakyat. Kini tugas kita bukan hanya mempertahankan swasembada, tetapi memastikan setiap petani semakin sejahtera, produktivitas terus meningkat, dan Indonesia semakin kokoh sebagai bangsa yang berdaulat di bidang pangan. Ketika petani tersenyum, di situlah sesungguhnya negara sedang menuai hasil pengabdiannya,” pungkas Haidar Alwi.
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com


















Discussion about this post