Aktivitas masyarakat penambang di Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, Sabtu (8/8/2026). Sejumlah aktivitas masyarakat kembali terlihat setelah aksi penambang terkait persoalan pembelian dan penyerapan bijih timah pada Jumat (7/8/2026). Foto: Dok/Ist.
Belitung Timur, Kabariku – Aktivitas masyarakat penambang di Kabupaten Belitung dan Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, mulai kembali bergerak. Sejumlah Stasiun Pengumpul (STP) PT Timah Tbk kembali didatangi masyarakat yang hendak menjual bijih timah hasil tambangnya.
Aktivitas tersebut terpantau di sejumlah titik, di antaranya STP Mempaya, STP Renggadaian, dan STP Air Merante. Masyarakat tampak mengantre untuk melakukan transaksi penjualan bijih timah.Bagi penambang rakyat, kembali berjalannya pembelian bijih timah menjadi angin segar. Hasil tambang menjadi salah satu sumber pendapatan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.
Situasi ini berlangsung sehari setelah aksi ratusan masyarakat penambang di kawasan PT Timah, Kecamatan Gantung, Belitung Timur, pada Jumat (7 Agustus 2026).
Aksi tersebut sempat memanas dan diwarnai pembakaran di sekitar lokasi. Aparat gabungan kemudian melakukan pengamanan hingga situasi kembali kondusif.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam aksi tersebut adalah kepastian pembelian dan harga bijih timah masyarakat. Dalam pemberitaan mengenai kesepakatan yang disampaikan saat aksi, harga pembelian disebut berada di kisaran Rp225.000 per kilogram untuk kadar Sn 72.
Dengan kembali terlihatnya aktivitas penjualan di sejumlah STP pada Sabtu (8 Agustus 2026), masyarakat penambang mulai kembali menjalankan aktivitas ekonominya.Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa kepastian penyerapan, harga pembelian, dan tata niaga bijih timah memiliki pengaruh langsung terhadap kehidupan ekonomi penambang rakyat.
Namun, keberlanjutan aktivitas tersebut tetap bergantung pada realisasi kesepakatan pembelian. Dalam keterangan aparat setelah aksi, keputusan resmi dan koordinasi dengan pihak yang menjadi pembeli hasil tambang masyarakat masih menjadi bagian dari proses penyelesaian.
Karena itu, penyelesaian persoalan pertimahan di Belitung Timur tidak cukup hanya dengan meredam aksi massa. Kepastian mekanisme pembelian, harga yang transparan, serta jalur penyerapan bijih timah yang jelas menjadi bagian penting untuk menjaga aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus mencegah persoalan serupa kembali terjadi.(Red)

















Discussion about this post