Jakarta, Kabariku.com – Rencana penerapan sistem transaksi tol tanpa berhenti atau Multi Lane Free Flow (MLFF) kembali bergerak menuju tahap penting. Setelah beberapa tahun menjadi bagian dari agenda modernisasi jalan tol nasional, pemerintah kini memfokuskan perhatian pada persiapan uji coba untuk memastikan teknologi tersebut benar-benar siap diterapkan di Indonesia.
Tahap pengujian menjadi langkah krusial sebelum pemerintah memutuskan implementasi MLFF secara lebih luas. Sistem ini diharapkan mampu mengurangi antrean kendaraan di gerbang tol, meningkatkan efisiensi perjalanan, serta mempercepat transformasi digital layanan transportasi darat.
Direktur PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) Renaldi Utomo mengatakan perusahaan saat ini mendukung pemerintah dalam menyusun berbagai skenario teknis yang akan digunakan dalam proses pengujian. Berbagai kondisi disiapkan untuk mengukur kesiapan sistem, mulai dari situasi normal hingga potensi kendala yang mungkin muncul saat operasional berlangsung.
Menurut Renaldi, komunikasi antara pemerintah dan investor berjalan positif. Ia menilai Kementerian Pekerjaan Umum menunjukkan komitmen kuat untuk memastikan proyek MLFF tetap berjalan sesuai rencana dan melalui proses evaluasi yang matang.
Sebagai investor sekaligus mitra pemerintah, RITS berkepentingan agar proyek tersebut dapat terlaksana dengan baik. Namun di sisi lain, perusahaan juga memahami langkah pemerintah yang memilih melakukan berbagai pengujian sebelum mengambil keputusan implementasi.
“Kami menunggu arahan pemerintah. Dari 2022 sampai sekarang kami selalu mengikuti arahan yang diberikan pemerintah,” ujar Renaldi.
Hingga saat ini, pemerintah belum menetapkan lokasi maupun jadwal pelaksanaan uji coba. Bali yang sejak awal diproyeksikan sebagai wilayah percontohan masih menjadi salah satu opsi, meski peluang pengujian di ruas tol lain juga terbuka.
Renaldi menegaskan bahwa kontrak kerja sama yang dimiliki RITS sejak memperoleh surat perintah kerja pada 15 Maret 2022 tetap mengacu pada konsep MLFF sebagai tujuan akhir sistem transaksi jalan tol nasional.
Meski demikian, penggunaan gerbang tol dengan palang masih dimungkinkan selama masa transisi menuju implementasi penuh. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kelancaran operasional sekaligus memberikan waktu adaptasi bagi pengguna jalan.
“Kami memang sudah sepakat bahwa dalam proses transisi ini masih mempergunakan barrier. Jadi ada konsep transisi dan ada konsep akhir sesuai desain MLFF. Keputusan akhirnya tentu berada di pemerintah dan kami mendukung,” katanya.
Pemerintah Masih Mengkaji Kelayakan Sistem
Di sisi lain, pemerintah menegaskan bahwa proses evaluasi terhadap MLFF masih berlangsung. Kajian dilakukan secara menyeluruh, mencakup aspek teknis, regulasi, hingga kesiapan operasional jalan tol.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Kementerian Pekerjaan Umum Ni Komang Rasminiati mengatakan pemerintah saat ini tengah melakukan pendetailan persiapan untuk pelaksanaan uji coba.
“Tahap ini kita lagi melakukan pendetailan penyiapan untuk rencana uji coba terhadap sistem ini, apakah bisa diaplikasikan terhadap ekosistem jalan tol di Indonesia,” kata Komang.
Menurutnya, hasil uji coba nantinya akan menjadi dasar penting dalam menentukan langkah lanjutan implementasi MLFF secara nasional.
Pengamat Ingatkan Tantangan di Lapangan
Sementara itu, Guru Besar Universitas Gadjah Mada sekaligus pengamat transportasi Danang Parikesit menilai keberhasilan penerapan MLFF tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga kesiapan pengelolaan jalan tol secara keseluruhan.
Ia menyoroti masih adanya sejumlah faktor yang dapat memengaruhi kualitas layanan jalan tol, salah satunya keberadaan kendaraan over dimension over load (ODOL) yang berpotensi mempercepat kerusakan infrastruktur.
“SPM harus dipenuhi apabila kapasitas badan usaha jalan tol memungkinkan mereka mengelola variabel-variabel yang memengaruhi pemenuhannya. Selama badan usaha tidak mampu melarang kendaraan ODOL masuk ke jalan tol dan kendaraan tersebut menyebabkan kerusakan dini, maka mereka dapat memiliki alasan tidak dapat memenuhi SPM,” kata Danang.
Menurut dia, penerapan MLFF akan membawa perubahan besar terhadap sistem pelayanan jalan tol, mulai dari proses transaksi kendaraan, pengaturan arus lalu lintas, hingga pengelolaan fasilitas pendukung seperti rest area.
Karena itu, pengujian yang komprehensif menjadi penting agar perubahan sistem pembayaran tidak menimbulkan persoalan baru yang dapat mengganggu kenyamanan pengguna jalan.
Jika seluruh tahapan pengujian berjalan sesuai rencana dan mampu menjawab berbagai tantangan teknis maupun operasional, MLFF berpotensi menjadi tonggak baru transformasi digital jalan tol Indonesia sekaligus mengakhiri ketergantungan pada sistem transaksi berbasis gerbang konvensional.
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com



















Discussion about this post