• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Senin, Agustus 3, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Opini

Indonesia Tidak Akan Kalah Melawan Desas-desus

Tresyana Bulan oleh Tresyana Bulan
3 Agustus 2026
di Opini
A A
0
ShareSendShare ShareShare

oleh :
Arvindo Noviar
Ketua Umum Sukarelawan PRABU

Kabariku.com – Mengapa cerita tentang kolor ijo, Mr. Gepeng, suster ngesot, dan hantu-hantu lain dapat bertahan selama puluhan tahun, padahal hampir tidak seorang pun mampu membuktikan keberadaannya?

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

Sederhana. Desas-desus dapat hidup tanpa memerlukan pembuktian.

RelatedPosts

GAGAL MAKAR – Kini Bangun Opini Lewat Survei

Partai Gerakan Rakyat dan Ruang Kosong Demokrasi

Desa Wisata: Tantangan dan Penyelamat Ekonomi di Tengah Kontraksi Ekonomi Nasional

Mula-mula seseorang mendengar cerita. Cerita itu menetap di dalam pikirannya. Malam tiba.

Tirai yang tertiup angin dalam cahaya temaram tampak seperti sosok berdiri. Pantulan benda pada kaca seolah menyerupai wajah. Bayangan pohon yang bergerak seolah sedang mengintai.

Jantung berdetak lebih cepat, darah berdesir, bulu kuduk berdiri. Orang yang mengalaminya tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, lalu memilih tunduk pada keyakinan bahwa ia baru saja melihat hantu.

Kemudian, cerita tersebut berpindah dari satu orang kepada orang lainnya. Semakin banyak yang percaya, semakin banyak pula orang merasa pernah melihat hantu itu. Ia bahkan menjadi tema yang paling sering muncul dalam film-film di bioskop tanah air.

Hantu itu tidak pernah datang. Desas-desus telah melahirkannya.

Jleg!

Desas-desus mengenai kerusuhan Agustus muncul melalui mekanisme yang serupa. Mula-mula beredar kabar bahwa Indonesia akan dilanda kerusuhan.

Tanggalnya tidak pasti. Pelakunya tidak dapat diverifikasi. Rancangannya tidak terlihat. Struktur gerakannya tidak diketahui.

Namun, kabar tersebut terus berpindah dari satu warung ke warung lain, dari satu grup percakapan ke grup berikutnya, hingga perlahan diperlakukan sebagai kenyataan.

Setelah itu, setiap rutinitas dibaca sebagai gejala. Pagar yang dipasang di depan gedung dianggap sebagai bukti bahwa kerusuhan akan datang. Kendaraan aparat yang melintas dipandang sebagai tanda keadaan genting.

Toko yang menutup lebih awal disebut sebagai pertanda akan terjadi penjarahan. Jalan yang lengang dibaca sebagai suasana yang mencekam.

Padahal, seluruh tindakan tersebut dapat muncul karena orang telah lebih dahulu mempercayai desas-desus.

Baca Juga  Kabar Gembira untuk Warga DKI Jakarta, Denda Pajak Kendaraan Dihapus, Ini Waktunya

Desas-desus melahirkan ketakutan. Ketakutan melahirkan tindakan berjaga-jaga. Tindakan berjaga-jaga lalu dipakai sebagai bukti bahwa desas-desus itu benar.

Lingkaran ini terus berputar sampai masyarakat kesulitan membedakan ancaman nyata dari akibat yang lahir melalui ketakutannya sendiri.

Rasa-rasanya kita perlu berhenti sejenak dan mulai mengatur napas.

Pertanyaan utama tidak cukup berhenti pada benar atau salahnya desas-desus. Kita perlu bertanya ke mana desas-desus ini akan berlabuh.

Dalam dunia investigasi perkara korupsi dikenal ungkapan follow the money. Dalam geopolitik dikenal ungkapan follow the oil. Ikuti aliran uang, maka aktor intelektual akan tersingkap. Ikuti aliran minyak, maka arah peperangan dapat terbaca.

Desas-desus pun dapat dilacak melalui cara yang sama.

Follow The Fear

Ikuti ke mana ketakutan bergerak.

Ikuti siapa yang menunda investasi.

Ikuti siapa yang memperoleh keuntungan politik.

Ikuti siapa yang mendapatkan panggung.

Ikuti siapa yang memperoleh alasan untuk memperbesar kewenangan.

Ikuti siapa yang diuntungkan oleh merosotnya kepercayaan publik.

Setiap isu bergerak menuju sebuah pelabuhan. Sebagian lahir tanpa perencanaan. Sebagian lain sengaja ditiup, diperbesar, atau diarahkan.

Asal-usulnya mungkin sederhana, sementara akibatnya dapat menyebar jauh. Sebuah pesan anonim dapat berubah menjadi kecemasan nasional setelah diteruskan oleh ribuan orang yang merasa sedang memperingatkan sesamanya.

Di situlah letak bahaya desas-desus kerusuhan

Ia bahkan tidak perlu menunggu satu batu pun dilemparkan untuk mulai merusak Indonesia. Desas-desus dapat membuat masyarakat saling mencurigai. Pelaku usaha menahan ekspansi. Investor menunda keputusan.

Konsumen mengurangi belanja. Perusahaan menambah biaya keamanan. Pertemuan bisnis dibatalkan. Perjalanan ditunda. Toko ditutup lebih awal. Aktivitas ekonomi melambat.

Kerusuhan belum tentu terjadi, sementara kerugiannya telah mulai berantai.

Modal sangat peka terhadap ketidakpastian. Para pemilik modal dapat menghadapi resiko yang terukur. Mereka dapat menghitung harga, permintaan, persaingan, pajak, suku bunga, dan biaya produksi.

Desas-desus menghadirkan resiko yang sulit dihitung karena batas kejadiannya kabur. Tidak diketahui kapan dimulai, berapa lama berlangsung, wilayah mana yang terdampak, atau seberapa besar kemampuan negara mengendalikannya.

Baca Juga  Laskar Indonesia Kabupaten Garut Duga Penyebab Banjir Bandang Adanya Pelanggaran Alih Fungsi Ruang

Akibatnya, keputusan investasi ditahan. Pelaku usaha memilih menunggu. Biaya resiko meningkat. Kepercayaan menurun.

Sebuah bangsa dapat kehilangan kesempatan ekonomi hanya karena terlalu banyak orang mempercayai peristiwa yang belum terjadi.

Desas-desus juga merusak hubungan sosial. Mahasiswa yang berdiskusi dipandang sebagai calon perusuh. Buruh yang menyampaikan tuntutan dianggap sedang menyiapkan kekacauan.

Kerumunan warga dibaca sebagai ancaman. Kritik kepada pemerintah dicurigai sebagai bagian dari operasi politik.

Suasana semacam ini sangat berbahaya. Ia membuat negara memandang warga dengan curiga, sementara warga memandang negara dengan rasa takut.

Setiap pihak memasuki ruang publik dengan prasangka. Satu kesalahpahaman kecil dapat tumbuh menjadi benturan besar.

Karena itu, demonstrasi harus dibedakan secara tegas dari kerusuhan.

Demonstrasi merupakan hak warga negara. Ia menjadi jalan bagi mahasiswa, buruh, masyarakat sipil, dan kelompok lain untuk menyampaikan pendapat. Kerusuhan mengandung kekerasan, perusakan, penyerangan, dan hilangnya kendali hukum.

Menyamakan demonstrasi dengan kerusuhan hanya akan membuat suasana semakin tegang. Peserta aksi datang dengan perasaan dicurigai.

Aparat turun dengan bayangan ancaman. Jarak antara warga dan negara menjadi semakin lebar.

Indonesia tentu memiliki persoalan ekonomi, politik, dan sosial yang harus diselesaikan. Pemutusan hubungan kerja terjadi. Biaya hidup membebani banyak rumah tangga.

Lapangan kerja formal semakin sulit diperoleh. Kelas menengah menghadapi cicilan, biaya pendidikan, kebutuhan rumah tangga, serta ketidakpastian penghasilan.

Mahasiswa membawa kritik mengenai pendidikan, demokrasi, hukum, dan arah pembangunan. Buruh menyuarakan upah, perlindungan kerja, serta sistem alih daya.

Masyarakat menuntut pemerintahan yang jujur, hukum yang adil, dan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan umum.

Seluruh persoalan itu nyata

Namun, kenyataan adanya masalah tidak dapat dipakai sebagai dasar untuk menyimpulkan bahwa Indonesia pasti akan dilanda kerusuhan nasional.

Antara keresahan dan kerusuhan terbentang jalan panjang yang dapat diisi oleh dialog, kebijakan, komunikasi, perundingan, hukum, serta kedewasaan politik.

Baca Juga  Menyerahlah Bu Sri !!!

Kerusuhan sering tumbuh setelah akal sehat menyerah kepada ketakutan.

Negara memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga ketenangan tanpa meremehkan keresahan. Pemerintah perlu memberikan informasi secara jernih. Aparat harus bertindak terukur.

Media wajib memeriksa kabar sebelum menyebarkannya. Tokoh politik, aktivis, pengamat, dan pemimpin organisasi perlu memahami bahwa setiap ucapan tentang kerusuhan dapat memengaruhi perilaku masyarakat serta keputusan ekonomi.

Kewaspadaan tetap diperlukan. Kewaspadaan harus dibedakan dari kepanikan.

Kewaspadaan bekerja melalui data, verifikasi, perhitungan, dan kesiapan. Kepanikan hidup dari dugaan, potongan informasi, video tanpa konteks, serta pesan anonim yang diulang berkali-kali.

Indonesia tidak memerlukan ketenangan palsu. Indonesia memerlukan kewarasan bersama.

Negeri ini telah melewati krisis ekonomi, terorisme, konflik sosial, bencana besar, pandemi, pergantian pemerintahan, dan berbagai gejolak politik.

Ketahanannya dibangun oleh jutaan orang yang tetap bekerja, belajar, berdagang, mengajar, bertani, mengemudi, menjaga keamanan, merawat keluarga, serta mempertahankan kehidupan sehari-hari.

Indonesia berdiri di atas pekerjaan mereka. Jangan biarkan desas-desus mengambil alih akal sehat.

Periksa setiap informasi.

Uji setiap kabar.

Cari sumbernya.

Pastikan tanggal dan tempatnya.

Jangan meneruskan pesan hanya karena terdengar menegangkan.

Jangan membiarkan ketakutan orang lain tinggal di dalam kepala kita tanpa pemeriksaan.

Cerita tentang hantu bertahan karena manusia sering melihat apa yang telah lebih dahulu ditanamkan ke dalam pikirannya. Tirai berubah menjadi sosok. Pantulan kaca berubah menjadi wajah. Bayangan pohon berubah menjadi makhluk yang mengintai.

Desas-desus kerusuhan pun dapat melakukan hal yang sama terhadap sebuah bangsa.

Pagar berubah menjadi tanda perang.

Kerumunan berubah menjadi ancaman.

Demonstrasi berubah menjadi ramalan kehancuran.

Persiapan berubah menjadi kepastian bencana.

Kita harus mematahkan cara berpikir itu.

Indonesia tidak akan kalah melawan desas-desus.

Selama rakyatnya masih memilih memeriksa sebelum percaya, berpikir sebelum takut, serta menjaga bangsa ini dari bayangan yang diciptakan oleh pikirannya sendiri.*

Jakarta, 3 Agustus 2026

Tags: Follow The Fearisu agustus huru haraisu kerusuhanjakarta
ShareSendShareSharePinTweet
Post Sebelumnya

Disperkim Cianjur Melaksanakan Giat Operasi dan Pemeliharaan Sistem Penyediaan Air Minum

RelatedPosts

GAGAL MAKAR – Kini Bangun Opini Lewat Survei

31 Juli 2026

Partai Gerakan Rakyat dan Ruang Kosong Demokrasi

31 Juli 2026

Desa Wisata: Tantangan dan Penyelamat Ekonomi di Tengah Kontraksi Ekonomi Nasional

29 Juli 2026

Komunikasi Dasco dan Ikhtiar Menuju Persatuan Nasional

28 Juli 2026

Sinyal Belum Ada Pergantian Kapolri?

21 Juli 2026

Retakan Bernegara Mulai Terlihat

21 Juli 2026

Discussion about this post

KabarTerbaru

Indonesia Tidak Akan Kalah Melawan Desas-desus

3 Agustus 2026
Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Cianjur

Disperkim Cianjur Melaksanakan Giat Operasi dan Pemeliharaan Sistem Penyediaan Air Minum

3 Agustus 2026

Komisi III DPRD Tangsel Desak BKAD Tuntaskan Penataan Aset Pengembang, Dinilai Bisa Dongkrak PAD

3 Agustus 2026
Dok.Foto: istimewa

Sekda Kuningan Dilaporkan ke KPK, LSM Frontal Ungkap Temuan BPK Soal Dana GU Disdikbud

3 Agustus 2026

Harga Timah Dunia Nyaris Rp1 Miliar per Ton, Didukung Kurs Dolar Tinggi terhadap Rupiah

3 Agustus 2026

Polsek Legok Berhasil Ungkap Kasus Pencurian dengan Kekerasan, Seorang Pelaku Diamankan

3 Agustus 2026

LPSK Asesmen Permohonan Perlindungan Ferry Boboho, Peluang Jadi Justice Collaborator Masih Dikaji

3 Agustus 2026

KPK Tahan Mantan Direksi Jasindo dan Tiga Tersangka Korupsi Komisi Asuransi PT Pelni 2015-2020

3 Agustus 2026

BGN Terapkan Zero Tolerance, Sudaryono: Tak Ada Toleransi untuk Insiden Keamanan Pangan dan Korupsi

3 Agustus 2026

Bulan Kemerdekaan Dimulai, Ini Jadwal Agenda Kenegaraan Peringatan HUT ke-81 RI

1 Agustus 2026

Kabar Terpopuler

  • Fasilitasi Pertemuan Hotman Paris dengan Ketua Umum PWI, Dasco: Silaturahmi Persatuan Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Driver Legend Indonesia Minta Kasus Matraman Diusut Tuntas, Tolak Munculnya Sentimen Rasial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Setelah Tangani Sejumlah Kasus Besar, Roy Riady Kini Dapat Amanah Baru di Kejati Lampung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPP Persadha Nusantara Resmi Dilantik, Tetapkan 10 Agenda Transformasi Lembaga Hindu 2045

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Publik Pertanyakan Pelayanan SPBU 24.331.148 Kurau, BBM untuk Warga Disebut Habis, Diduga Pengerit Tetap Dilayani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • IKA PMII Garut Perkuat Jaringan Alumni hingga Kecamatan, Siap Kawal Tata Kelola Keuangan Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Partai Gerakan Rakyat dan Ruang Kosong Demokrasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM
DJITUBERITA.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com