Depok, Kabariku – Semangat bela negara tidak selalu diwujudkan melalui aksi besar. Nilai tersebut juga bisa hadir lewat langkah sederhana, seperti membantu meringankan beban sesama.
Hal ini yang ditunjukkan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (Pusdiklat APU-PPT), Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), bersama Dewan Pengurus Dharma Wanita PPATK.
Ketiga pihak tersebut menggelar bazar kebutuhan sandang dan pangan dengan harga terjangkau, sekaligus menyalurkan bantuan dana dan sembako bagi masyarakat di Desa Cimpaeun, Kecamatan Tapos, Depok, pada Maret 2026 dalam suasana bulan Ramadhan lalu.
Kegiatan ini disambut antusias warga. Bazar sederhana tersebut bahkan menjelma menjadi ruang kebahagiaan bagi masyarakat sekitar.
Salah satunya dirasakan oleh Rani (56), warga Cimpaeun, yang mengaku selalu menantikan kegiatan serupa setiap Ramadan.
“Alhamdulillah, saya dapat pakaian, celana, dan mainan untuk cucu di bazar ini. Harganya murah sekali. Kegiatan seperti ini selalu saya tunggu setiap Ramadan,” ujar Rani dengan wajah ceria.
Suasana hangat juga terlihat di area bazar ketika sejumlah warga berburu kebutuhan keluarga. Canda tawa pun pecah saat dua ibu bercanda dengan Ketua Dharma Wanita PPATK, Endah Ivan Yustiavandan, yang kemudian membantu membayarkan belanjaan mereka.
“Wah, menang banyak ini ibu-ibu. Sudah beli murah, dibayarin lagi,” ujar petugas kasir, disambut gelak tawa warga di sekitar.
Kepala Pusdiklat APU-PPT, Akhyar Effendi, mengungkapkan rasa bahagianya melihat tingginya partisipasi masyarakat yang datang sejak pagi. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar aksi sosial, tetapi juga wujud nyata bela negara dalam kehidupan sehari-hari.
“Bazar ini adalah aksi sosial sekaligus bentuk bela negara dalam cara yang sederhana. Kami ingin mendekatkan diri dengan saudara-saudara kami yang tinggal di sekitar Pusdiklat,” ujarnya.
Akhyar menambahkan, selama hampir sembilan tahun Pusdiklat APU-PPT berada di kawasan tersebut, hubungan dengan masyarakat terjalin harmonis. Warga bahkan ikut menjaga keberadaan institusi sebagai bagian dari aset negara.
“Selama sembilan tahun kami berada di sini, tidak pernah ada gangguan. Masyarakat justru merasa memiliki dan menjaga keberadaan Pusdiklat sebagai aset negara. Itu juga bentuk bela negara yang nyata dari warga,” tegasnya.
Di tengah semarak bazar Ramadan, tersirat pesan kuat bahwa menjaga negara tidak selalu membutuhkan langkah besar. Kepedulian, kebersamaan, dan gotong royong menjadi bentuk nyata bela negara yang dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.
“Bela negara bisa dimulai dari hal kecil-dari kepedulian terhadap sesama hingga memastikan tidak ada yang merasa sendirian menghadapi kesulitan,” tutup Akhyar.*
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com




















Discussion about this post