• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Selasa, Juni 9, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Opini

JK, Jangan Memancing di Air Keruh!

Tresyana Bulan oleh Tresyana Bulan
10 Maret 2026
di Opini
A A
0
ShareSendShare ShareShare

oleh :
Bin Bin Firman Tresnadi
Dewan Pembina Nalar Bangsa Institute

Jakarta, Kabariku – Pernyataan Jusuf Kalla yang menyarankan pemerintah mengevaluasi sejumlah kebijakan karena dianggap membebani APBN perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih utuh.

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

Kritik terhadap kebijakan publik tentu sah dan bahkan diperlukan dalam demokrasi. Namun kritik yang tidak disertai pemahaman atas arah strategis pembangunan justru berisiko menimbulkan kesan keliru di tengah publik.

RelatedPosts

Membaca Prabowo dari Kacamata Pasar

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

Korupsi MBG adalah Laku Nista

Sejumlah program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto-mulai dari program makan bergizi gratis, penguatan koperasi desa, hingga berbagai kebijakan yang mendorong kemandirian ekonomi nasional-dipersepsikan sebagai beban fiskal yang berpotensi memperbesar defisit APBN.

Cara pandang semacam ini terlalu menyederhanakan fungsi APBN hanya sebagai neraca pengeluaran negara.

Dalam ekonomi pembangunan modern, belanja negara bukan semata-mata beban, melainkan instrumen investasi sosial dan ekonomi.

Program makan bergizi gratis, misalnya, tidak dapat dilihat hanya dari sisi pengeluaran tahunan.

Program ini adalah investasi pada kualitas sumber daya manusia, upaya sistematis menekan stunting, serta langkah strategis membangun generasi produktif yang akan menentukan daya saing Indonesia di masa depan.

Demikian pula penguatan koperasi desa dan ekonomi rakyat. Dalam kerangka pembangunan nasional, desa bukan sekadar wilayah administratif, melainkan basis produksi dan distribusi ekonomi. Ketika desa diperkuat melalui koperasi dan sistem ekonomi lokal, yang sedang dibangun sesungguhnya adalah fondasi ketahanan ekonomi nasional.

Di sinilah kritik yang terlalu cepat menyimpulkan bahwa program-program tersebut sebagai beban fiskal menjadi tidak tepat. APBN memang harus dikelola secara disiplin, tetapi disiplin fiskal tidak boleh dimaknai sebagai pengetatan yang menghambat investasi sosial jangka panjang.

Baca Juga  MBG (Makanan Bergizi Gratis): Antara Proyek Ambisius dan Kegagalan Komunikasi Politik

Presiden Prabowo Subianto sendiri berulang kali menegaskan bahwa kekuatan sebuah negara tidak hanya diukur dari stabilitas anggarannya, tetapi juga dari kemampuannya melindungi rakyat dan membangun masa depan generasi berikutnya.

Dalam berbagai kesempatan, ia menyampaikan bahwa negara harus hadir secara nyata dalam menjamin kesejahteraan rakyat dan memperkuat fondasi ekonomi nasional.

Karena itu, kebijakan fiskal yang ekspansif pada sektor-sektor strategis tidak otomatis identik dengan pemborosan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana belanja negara diarahkan untuk menghasilkan dampak struktural: memperkuat produksi domestik, meningkatkan kualitas manusia Indonesia, dan mengurangi ketergantungan ekonomi pada faktor eksternal.

Kita juga tidak boleh menutup mata bahwa tekanan terhadap APBN tidak semata-mata berasal dari kebijakan domestik. Gejolak harga energi global, konflik geopolitik, serta dinamika ekonomi dunia merupakan faktor eksternal yang selalu memengaruhi stabilitas fiskal negara mana pun.

Di tengah situasi global yang tidak pasti, yang dibutuhkan justru adalah konsolidasi nasional untuk mendukung agenda pembangunan yang sedang dijalankan pemerintah.

Kritik tetap penting, tetapi kritik yang konstruktif seharusnya memberikan perspektif solusi dan tidak menimbulkan persepsi seolah-olah negara sedang berjalan menuju krisis.

Sebagai bangsa, kita membutuhkan perdebatan kebijakan yang sehat. Namun perdebatan itu seharusnya memperkuat arah pembangunan, bukan menciptakan kegaduhan yang dapat melemahkan kepercayaan publik terhadap upaya pemerintah membangun kemandirian ekonomi nasional.

Pembangunan adalah proses panjang yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan dukungan bersama. Yang diperlukan saat ini bukanlah sikap memancing di air keruh, melainkan kontribusi pemikiran yang jernih demi kepentingan bangsa yang lebih besar.

Kritik tentu sah. Tetapi kritik yang dibangun di atas framing krisis tanpa konteks pembangunan justru berpotensi melemahkan kepercayaan publik terhadap agenda transformasi ekonomi nasional.

Baca Juga  Fungsi Pengawasan Terhadap Pemerintah Daerah Adalah Marwahnya DPRD Garut

Jika benar ingin membantu negara, kritik seharusnya diberikan dalam kerangka solusi strategis-bukan sekadar komentar yang memberi amunisi bagi mereka yang sejak awal tidak pernah menginginkan pemerintahan ini berhasil.

Karena pada akhirnya, bangsa ini membutuhkan kerja bersama, bukan elite yang memancing di air keruh dan membokong dari belakang.*

Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com

Tags: jusuf kallakebijakan membebani APBNKoperasi Desa Merah PutihNalar Bangsa Instituteprogram Makan Bergizi Gratis
ShareSendShareSharePinTweet
Post Sebelumnya

Banser Jawa Barat Kerahkan 6.000 Personel Layani Pemudik di 135 Posko

Post Selanjutnya

Puan Maharani Minta Evaluasi Menyeluruh Usai Rentetan OTT Kepala Daerah oleh KPK

RelatedPosts

Membaca Prabowo dari Kacamata Pasar

8 Juni 2026

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

7 Juni 2026

Korupsi MBG adalah Laku Nista

7 Juni 2026
Foto : Anies Baswedan (Istimewa)

Gerak-Gerik yang Tak Hilang dari Radar

4 Juni 2026

Tantangan Nanik S. Deyang: Menata Ulang Arah dan Integritas Program MBG

4 Juni 2026

Presiden di Panggung Dunia, Mendagri Menjaga Kesinambungan Pemerintahan

31 Mei 2026
Post Selanjutnya
dok Parlementaria

Puan Maharani Minta Evaluasi Menyeluruh Usai Rentetan OTT Kepala Daerah oleh KPK

Mantan pimpinan KPK Busyro Muqoddas saat menjadi pembicara dalam acara UKW (Foto: Dok. Dewan Pers)

Program MBG Dipersoalkan, Masyarakat Sipil Ajukan Uji Materi UU APBN 2026 ke MK

Discussion about this post

KabarTerbaru

Membaca Prabowo dari Kacamata Pasar

8 Juni 2026

BNN Bongkar Jaringan Narkoba Internasional WNA Rusia di Bali, Sita 7,8 Kg Hashis Asal Thailand

8 Juni 2026

BGN Tata Ulang Program MBG: Moratorium Dapur, Refocusing Penerima hingga Kolaborasi CSR

8 Juni 2026

Resmi Dilantik Presiden Prabowo, Nanik S. Deyang Nahkodai Badan Gizi Nasional

8 Juni 2026
Ruang Tunggu Gedung Merah Putih KPK

OTT KPK di Sumsel dan Jakarta, Bupati Muara Enim dan 9 Orang Diamankan

8 Juni 2026

Jelang Dilantik Prabowo, Nanik S. Deyang Bersama Dua Wakil Kepala BGN dan Said Iqbal Tiba di Istana Negara

8 Juni 2026
Presiden Prabowo Subianto meminta kementerian dan pemda memanfaatkan aset negara yang belum optimal untuk mendukung Sekolah Rakyat.

Presiden Prabowo Minta Aset Negara yang Tak Terpakai Dipakai untuk Sekolah Rakyat

8 Juni 2026
Driver Legend Indonesia merayakan milad ke-7 dengan menegaskan komitmen memperjuangkan legalitas profesi ojol,(Istimewa)

Milad ke-7 Legend: Dari Jalanan, Istana, hingga Jadi Suara Keras Driver Ojol Indonesia

8 Juni 2026

Kasus Demi Kasus Menguji Program Strategis Nasional: Kepercayaan Publik Dipertaruhkan

8 Juni 2026

Resmi Dilantik Presiden Prabowo, Nanik S. Deyang Nahkodai Badan Gizi Nasional

8 Juni 2026

Kabar Terpopuler

  • FSP BUMN IRA Desak Danantara Evaluasi Pejabat BUMN yang Belum Tuntaskan Hak Pekerja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Terbongkar! Alasan di Balik Pencopotan Dadan Hindayana Sebelum Akhirnya Ditahan Kejagung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Informasi Penghentian Sementara Program MBG adalah Hoaks, Berikut Penjelasan BGN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sempat Bantah Kena OTT, Kejagung Ungkap Sony Sonjaya Terafiliasi Tiga Yayasan hingga Intervensi Verifikasi SPPG

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OTT KPK di Sumsel dan Jakarta, Bupati Muara Enim dan 9 Orang Diamankan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • IPW Ungkap Propam Polri Periksa Eks Kapolda Kalbar Pipit Rismanto Terkait Kasus Korupsi Tambang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Diselidiki, Kejagung Periksa Sejumlah Pejabat BGN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com