• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Senin, Agustus 10, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Seni Budaya

Perang Dagang, Perang Diplomatik dan Ramalan Indonesia Bubar

Redaksi oleh Redaksi
7 September 2019
di Seni Budaya
A A
0
Marlin Dinamikato

Marlin Dinamikato

ShareSendShare ShareShare

Catatan Marlin Dinamikato

KABARIKU – Berakhirnya perang dingin bukan berarti selesainya perselisihan tersembunyi di antara negara-negara besar – antara lain Amerika Serikat (AS), Rusia, China, Uni Eropa dan Inggris. Ke-5 kekuatan besar dunia itu akan saling berebut pengaruh – baik dalam “perang persekutuan” maupun perang sendiri-sendiri yang akan memanaskan iklim “geo-politik” global yang lebih berwarna ketimbang era perang dingin.

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

Fukuyama boleh saja menyebut AS sebagai pemenang tunggal peradaban. Tapi faktanya, Presiden AS Donald J Trump sibuk menghadapi penyelidikan internal terkait dugaan keterlibatan mata-mata Rusia yang memenangkannya dalam Pemilu Presiden AS pada 2016 lalu. AS sebagai negara pemimpin tampak limbung menghadapi globalisasi yang melahirkan delusi massal “the great American again” yang diartikulasikan oleh Presiden Trump.

RelatedPosts

Claudia Desy Curi Perhatian di Singing Competition Indomaret Bogor, Pilih “Cinta dan Rahasia”

Sekilas Gebyar Pesona Budaya Garut

Kepala BNN Resmikan Peluncuran SKI: Sinergi Olahraga, Budaya, dan Pencegahan Narkoba

Di sisi lain Rusia mencoba bangkit lewat “tentara-tentara” cyber yang mengacak-acak kemapanan negara-negara demokrasi liberal dan “diyakini” berusaha menancapkan pengaruhnya di setiap pemilihan umum. Rusia dicurigai menanamkan pengaruhnya ke kelompok-kelompok “nasionalisme radikal”

Persekutuan di antara negara-negara tidak berjalan “permanen” atau “semi permanen” seperti sebelumnya. Melainkan berjalan secara “ad hoc”. Free Trade Area yang muncul sebagai gejala di gerbang Abad milenial kini tidak terdengar lagi gaungnya. Tantangan yang dihadapi setiap negara – besar atau kecil – berubah-ubah. Ideologi “socialism” dan kitab suci “liberalism” tidak lagi menjadi panduan utama untuk mengartikulasikan geo-politik dan geo-strategi yang sedang berjalan. Karena setiap negara memiliki tantangannya sendiri dalam menghadapi situasi nasionalnya – justru setelah “Perjanjian Baru” pasar bebas dijadikan kitab suci hampir di semua negara.

Kini perselisihan tersembunyi itu tampil ke permukaan – dalam bentuk “Perang Dagang” yang dicetuskan Presiden Trump atau Perang Diplomatik yang dipicu penggunaan racun syaraf di Salisbury yang diduga dilakukan oleh mata-mata Rusia. Kedua jenis perang itu patut menjadi perhatian bersama kita untuk menyikapinya.

Perang Dagang

Perang Dagang dengan China diumumkan Presiden Trump saat menaikkan tarif impor barang-barang produk Cina – mulai dari mesin cuci dan panel surya serta terakhir kali atas produk baja dan alumunium yang keduanya andalan China meraih surplus perdagangan. China pun tidak tinggal diam. Dia menyiapkan 128 jenis barang produk AS senilai US$3 triliun untuk membalas perlakuan AS.

Kebijakan Trump itu memang sudah dia janjikan sejak era kampanye. Penyebabnya tak lain – ungkap ekonom A. Prasetyantoko dalam analisi ekonomi di Kompas (27/3) ini – defisit perdagangan AS yang terus melebar hingga mencapai US$ 700 miliar – terutama dalam hubungan perdagangannya dengan China. Sebaliknya cadangan devisa China melonjak pesat dari sekitar US$ 450 miliar tahun 2000 menjadi US$ 2,5 triliun pada 2009.

Baca Juga  Penjabat Bupati Garut Apresiasi Cikeletan sebagai Wadah Pemeliharaan Budaya Lokal

Dalam pemahaman awam perekonomian AS dicuri bangsa China. Kampanye Trump yang akan bersikap tegas kepada China menjadi satu di antara faktor kemenangannya. Kitab Suci “Globalisasi” yang dipercaya oleh elite AS dan Uni Eropa serta dimafaatkan China untuk mengail tingkat pertumbuhan ekonominya yang luar biasa tidak berlaku lagi di era Trump. Era pasar bebas yang berjalan sekitar 2 dekade terhenti di era Trump. Proteksionisme yang lama dilupakan Dunia Barat kembali diterapkan di era Trump.

Trump dengan Menteri Luar Negeri dan Penasehat Keamanan yang baru – Mike Pompeo yang mantan Direktur CIA dan John Bolton yang sebelumnya Duta Besar AS untuk PBB – sangat mungkin akan bersikap sangat keras terhadap Korea Utara dan Iran. Apabila ketiganya tidak bisa dikendalikan Kongres AS sangat mungkin akan memicu perang fisik – bukan saja perang dagang dengan China dan Rusia.

Namun dalam perang dagang dengan China – posisi AS di bawah Trump akan menjadi common enemy di antara negara-negara besar – khususnya Uni Eropa – yang akan mempertahankan kebijakan pasar bebas dan menentang proteksionisme yang sudah ditinggalkan Eropa sejak abad ke-20. Hal yang tidak kalah pentingnya Trump juga menghadapi beragam persoalan di dalam negeri – sebut saja terkait penyelidikan skandal mata-mata Rusia, persoalan imigrasi, skandal sex dengan bintang film dewasa dan persoalan kepemilikan senjata api.

Dalam menyikap perang dagang dan kenaikan suku bunga referensi Bank Sentral Amerika (The Fed) dari 1,50% menjadi 1,7% oleh Gubernur The Fed yang baru Jerome Powell, A. Prasetyantoko menawarkan solusi jangka pendek dan jangka menengah. Dalam jangka pendek fokusnya menjaga stabilitas. Pertamam otoritas keuangan harus siap mengorbankan cadangan devisa untuk menjaga rupah tidak terdepresiasi tajam. Kedua, otoritas keuangan harus mengantisipasi gejolak di pasar saham dan obligasi agar tidak tergerus tajam.

Untuk jangka panjang Prasetyantoko menyarankan. Pertama, meningkatkan daya saing produk ekspor sambil mengurangi ketergantungan sektor jasa. Dan kedua, memperdalam sektor keuangan agar komposisi investor domestic terus meningkat. Sebab semakin besar dominasi modal asing di sektor pasar keuangan dalam negeri maka sektor keuangan kita akan semakin rentan oleh gejolak.

Perang Diplomatik

Perang diplomatik antara AS dan Rusia – atau negara-negara Uni Eropa melawan Rusia sudah sering terjadi. Presiden Barrack Obama juga pernah mengusir diplomat Rusia terkait penyerbuan Rusia ke Crimea, Ukraina. Kala itu AS dan negara-negara Uni Eropa juga ramai-ramai mengusir diplomat Rusia.

Belakangan ini “perang diplomatik” kembali mengemuka setelah Inggris mengusir 23 diplomat Rusia terkait penyerangan racun syaraf yang dituduh Inggris dilakukan oleh intelijen Rusia terhadap bekas mata-mata Rusia yang sudah menjadi warga negara Inggris Sergei Skripal dan putrinya Yulia, di Salisbury, Inggris. Rusia pun membalas dengan mengusir 23 diplomat Inggris dari negaranya.

Baca Juga  1 Sura 1958: Penanggalan Saka Sunda Diperingati Masyarakat Akur Sunda di Kampung Adat Sunda Wiwitan Garut

Sebagai bentuk solidaritas kepada Inggris, sebagaimana berita CNN, Selasa (27/3) dini hari, tercatat 15 negara Uni Eropa dan 3 negara non Uni Eropa (Ukraina, AS dan Kanada) ramai-ramai mengusir diplomat Rusia dari negaranya. Bahkan AS tercatat paling banyak – karena 48 diplomat yang bekerja di Kedutaan Besar di Washington dan 12 yang bekerja di Keduaan Besar PBB New York diusir dari negerinya.

Presiden Trump semula tampak canggung ketika diminta Inggris melakukan aksi solidaritas. Namun belakangan Trump menyetujui pengusiran – tidak tanggung-tanggung 60 diplomat Rusia yang bekerja di negaranya dan PBB. Karena komunitas Intelijen di negaranya memang geram dengan “Cyber War” yang diduga sedang dan akan dilakukan Rusia untuk menghancurkan kemapanan demokrasi liberal – baik di negaranya maupun negara-negara uni Eropa lainnya.

Negara-negara Uni Eropa yang terlibat pengusiran, masing-masing Kroasia yang mengusir 1 diplomat Rusia, selanjutnya Republik Ceko (3), Denmark (2), Estonia (1), Finlandia (1), Perancis (4), Jerman (4), Italia (2), Latvia (1), Romania (1) Polandia (4), Spanyol (2), Swedia (1) dan Lithuania (3) dengan memberikan sanksi tambahan kepada 21 individu dan melarang lebih 23 warga negara Rusia memasuki negaranya.

Serangan racun syaraf yang sudah tidak digunakan lagi sejak Perang Dunia II dianggap sebagai ancaman oleh komunitas negara-negara di dunia. Di balik itu mereka juga geram dengan tentara cyber Rusia yang diancam sebagai ancaman demokrasi di negaranya. Ancaman terhadap “perang cyber” ini yang mestinya kita waspadai – bukan saja kepada Rusia, melainkan juga negara-negara yang berkepetingan dengan Indonesia lainnya.

Posisi Indonesia

Dalam menghadapi “perselisihan tersembunyi” di antara negara-negara besar apa yang bisa dilakukan Indonesia? Apabila “tata kelola” pemerintahan yang biasa-biasa saja – tanpa adanya upaya yang lebih greget dalam mengatasi persoalan dalam negerinya – memang tidak banyak pilihan selain menjadi proxy di antara negara-negara yang sedang bertikai dengan risiko menjadi negara yang tidak berdaulat atas dirinya.

Selain itu memilih “induk semang” di antara negara-negara yang bertikai bukan sesuatu yang mudah. Sekali salah memilih Indonesia sebagai negara proxy akan tergulung bersama negara induk semang yang masing-masing memiliki penyakitnya sendri. Pengaruh yang terlihat nyata di kawasan Asia Timur dan Pasifik adalah perang asimetris antara China dan Amerika Serikat sebagaimana diingatkan ilmuwan AS Peter Warren Singer dan jurnalis AS August Cole lewat fiksi ilmiahnya berjudul Ghost Fleet yang menghebohkan Indonesia setelah ramalannya Indonesia Bubar dikutip oleh Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto.

Baca Juga  Mengenang Teladan Hidup Kami

Lebih dari setengah Abad yang lalu – dalam peta geo-politik geo-strategi perang dingin Soekarno memilih jalur “Non Blok” sekaligus mendeklarasikan New Emerging Force sebagai bentuk perang asimetris melawan kekuasaan yang disebutnya neo-imperialism neo-colonialism (Nekolim) di satu sisi dan enggan diatur oleh kekuatan socialism – baik Uni Soviet maupun China – yang juga berusaha menancapkan pengaruhnya di negara-negara yang baru merdeka. Kekuatan Nekolim dan Sosialisme – tidak tersirat secara jelas – disebut sebagai Old Established Force (Oldefos).

Tapi pada akhirnya Soekarno sendiri menjadi korban dari politik “bebas aktif non-blok” yang membuat tidak nyaman AS paska kematian Presiden AS JF Kennedy. Semula Soekarno dan Kennedy memiliki hubungan persahabatan yang erat – dan memperoleh manfaat politik yang besar atas Papua Barat. Setelah itu Indonesia masuk dalam perangkap “developmentalism” yang meskipun bukan negara proxy seperti Singapura, Malaysia atau Filipina – namun dalam pengaruh AS dan sekutu-sekutunya lewat lembaga multi-lateral.

Sikap Soekarno yang berdaulat itu mestinya menjadi inspirasi – siapa pun pemerintahan Indonesia ke depan – agar Indonesia sebagai negara-bangsa yang berdaulat. Menjadi proxy adalah pilihan yang penuh risiko – termasuk risiko bubar apabila penguasaan asing atas asset dan sumber daya dalam negeri terus mendominasi perekonomian Indonesia. Faktor kepemimpinan yang dipercaya rakyat menjadi penting dengan syarat solidaritas sosial terus dijaga melalui berbagai instrument kebijakan – bukan sekedar jargon seperti Bhinneka Tunggal Ika – atau ideologisasi apa pun – sebab persoalan utama bukan di sana.

Sebab tantangan yang kita hadapi sekarang lebih rumit. Singer menyebutnya Ghost Fleetalias Armada Hantu seperti judul Novel yang ditulisnya bersama wartawan AS. Musuh yang dihadapi sangat kasat mata. Seperti halnya Amoeba – bentuknya berubah-ubah. Inilah pentingnya kepemimpinan yang visioner, memiliki narasi besar seperti Soekarno dan tidak terperangkap dalam kegaduhan yang memaksanya “berpolitik” sepanjang periode jabatannya.

Persoalan utama adalah kesenjangan sosial. Menguatnya politik identitas sebagai basis yang menampilkan tren kepemimpinan populisme hanya sebagai akibat. Dengan kata lain, entah bagaimana caranya, kesenjangan sosial dan ketimpangan dalam hal penguasaan lahan dan asset penting lainnya perlu segera diakhiri. Hanya dengan cara itu stabilitas dapat ditegakkan. Tanpa itu Political Unrest (kegaduhan politik) akan terus terjadi dan ramalan Indonesia Bubar seperti yang ditulis secara sepintas oleh Singer akan terjadi – bahkan sebelum 2030. []

Marlin Dinamikato, Penyair Facebooker yang bekerja di Yayasan Kalimasadha Nusantara (YKN) dan (pernah) bekerja sebagai wartawan Nusantara.news

Artikel ini dimuat di nusantara.news edisi 27 Maret 2018

ShareSendShareSharePinTweet
Post Sebelumnya

Revisi UU KPK Ditargetkan Tiga Minggu Selesai Dibahas

Post Selanjutnya

Mobil Esemka Bima, Kalau Bukan Sekarang Kapan Lagi?

RelatedPosts

Claudia Desy Erwiena Br Ginting Munthe mencuri perhatian dalam Singing Competition Indomaret Pakuan Regency Bogor (Istimewa)

Claudia Desy Curi Perhatian di Singing Competition Indomaret Bogor, Pilih “Cinta dan Rahasia”

4 Juli 2026

Sekilas Gebyar Pesona Budaya Garut

26 April 2026

Kepala BNN Resmikan Peluncuran SKI: Sinergi Olahraga, Budaya, dan Pencegahan Narkoba

2 Desember 2025

DWP Kemensos Kunjungi Galeri Yose Art, Gali Potensi Seni Anak-Anak Istimewa Sekaligus Jajaki Kolaborasi dengan Pengrajin UMKM

6 Oktober 2025
Wamenpar Ni Luh Puspa berkesempatan mencoba proses menenun Sekomandi dengan alat tenun tradisional gedogan, Dalam kunjungan kerja ke Rumah Tenun Sekomandi, Mamuju, Sulawesi Barat, Rabu (27/8/2025)./Kemenpar

Wamenpar Dorong Pelestarian Tenun Sekomandi, Ikon Budaya Sulawesi Barat

30 Agustus 2025
Ibu-ibu di Kota Palembang, Sumatera Selatan, mengenakan kebaya untuk merayakan Hari Kebaya Nasional 2025/ Dok Pemprov Sumatera Selatan

24 Juli Ditetapkan sebagai Hari Kebaya Nasional, Ini Ciri Khas Kebaya Indonesia dan Negara Tetangga

24 Juli 2025
Post Selanjutnya

Mobil Esemka Bima, Kalau Bukan Sekarang Kapan Lagi?

Rocky Gerung di pegunungan di Nepal. (Foto: Twitter)

Rocky Gerung: Naik Gunung Itu Latihan Akal untuk Tepat Membuat Keputusan

Discussion about this post

KabarTerbaru

Operasi Gabungan Gagalkan Penyelundupan 1,3 Ton Ketamne di Perairan Natuna, 8 ABK Kapal King Sun Diamankan

9 Agustus 2026

YONIF TP 845/KSATRIA SATAM DAN KODIM 0414/BELITUNG AMBIL ANDIL DALAM PENGAMANAN AKSI UNJUK RASA DI PT TIMAH BELITUNG TIMUR

9 Agustus 2026

Pasca Ricuh, Penambang Kembali Datangi STP PT Timah untuk Jual Bijih Timah

9 Agustus 2026

Penangkapan Dua Warga Cimahi, YLBHI: Hukum Pidana Jangan Jadi Alat Melindungi Kekuasaan dari Kritik

9 Agustus 2026

Ini 3 PO Box Pengaduan MBG Dibuka untuk Internal, Mitra dan Masyarakat, Langsung Diawasi Kepala BGN

9 Agustus 2026

Yuda Puja Turnawan Soroti Janda Rentan yang Belum Mendapat PKH dan Sembako Reguler

9 Agustus 2026

Abdul Rokib Laporkan Dugaan Persekusi ke Polres Garut, Sebut Dikerumuni Puluhan Orang dan Dipaksa ke Polsek

8 Agustus 2026

Mengintagrasikan Layanan BRT dan Kereta Di Surabaya

8 Agustus 2026

Dari Buku Ajar hingga Budaya Membaca, Presiden Prabowo Perkuat Fondasi SDM Indonesia

8 Agustus 2026

Presiden Prabowo Terima Laporan Program Strategis TNI hingga Persiapan HUT ke-81 RI

7 Agustus 2026

Kabar Terpopuler

  • Dok.Foto:Istimewa

    Mabes Polri Bungkam soal Masa Aktif Wakapolri, Status Komjen Dedi Prasetyo Masih Jadi Tanda Tanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perebutan Presidium KAHMI Jabar Dinilai Jadi Momentum Perkuat Jalan KDM Menuju Pilpres 2029

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Abdul Rokib Laporkan Dugaan Persekusi ke Polres Garut, Sebut Dikerumuni Puluhan Orang dan Dipaksa ke Polsek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Agus Muttaqien Alfaz Siap Pimpin MW KAHMI Jabar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Komjak RI Koordinasi Kemenko Polkam Kawal Penanganan Kasus Korupsi dan TPPU Mantan Jampidsus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dasco Instruksikan Kader Kawal Program Prabowo dan Perangi Hoaks

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polemik Revitalisasi Pasar Baru Garut Kian Mengemuka, Transparansi Proyek Jadi Sorotan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM
DJITUBERITA.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com