Garut, Kabariku –Bagi Ridwan Malik, ruang ekspresi mencari jawaban atas berbagai fenomena sosial yang dilihatnya bisa jadi budaya membaca dan menulis. Ridwan, mencoba memahami fenomena sosial yang terjadi di masyarakat dengan membaca. Dari pemahaman yang didapatnya dari membaca, Ridwan menuangkan daya kritisnya lewat menulis. Salahsatunya adalah buku setebal 300 halaman berjudul “Ajengan Anjing”.
“Proses (penulisan buku) dimulai tahun 2021, ada pemicunya lalu saya cari referensi bacaannya,” jelas Ridwan saat mengisi acara bedah buku miliknya di Tikum Café, Minggu (15/5/2026) sore.
Ridwan mengungkapkan, salahsatu pemicunya adalah cerita seorang perempuan Muslimah bercadar yang kemudian memelihara anjing-anjing liar di rumahnya setelah merasa iba melihat seekor anjing jalanan yang kelaparan lalu diberinya makanan hingga anjing tersebut mengikutinya sampai ke rumahnya hingga akhirnya menjadi peliharaannya. Makin hari, makin banyak anjing jalanan yang dipeliharanya hingga akhirnya digeruduk salahsatu organisasi massa keagamaan yang protes karena dalam ajaran agamanya anjing Binatang yang diharamkan.
“Itu cerita asli, kejadiannya di Bogor, ceritanya viral dan jadi berita di banyak media,” cerita pemuda yang lahir di pelosok Garut Selatan tersebut.
Melihat fenomena tersebut, daya kritisnya muncul menjadi kegelisahan hingga dirinya mencoba mempelajari bagaimana hakikat anjing dalam tradisi Islam dan tradisi masyarakat sunda. Bermodal dari literasi yang didapatnya, Ridwan pun menuangkan daya kritisnya dalam buku berjudul Ajengan Anjing. “Anjing itu ternyata Binatang yang pertama di domestifikasi dan paling dekat dengan manusia,” katanya.
Nissa Wargadipura, aktivis perempuan yang juga pimpinan Pondok Pesantren Ekologi Ath-Thoriq yang berkesempatan menjadi salah seorang pemantik diskusi dalam bedah buku Ajengan Anjing mengapresiasi buku tulisan Ridwan yang ternyata isi bukunya bercerita soal ekologi dan teologi dalam perspektif yang unik.
“Saya senang melihat ada anak muda bisa menulis buku, sejak dulu saya juga mengajak anak-anak untuk rajin membaca dan menulis, apalagi sekarang era medsos bisa posting tulisan-tulisan di medsos,” jelasnya.
Sebagai bentuk motivasi, Nissa mengaku membuat banyak tulisan tentang teologi dan ekologi di akun medsos miliknya. Judul tulisannya pun, tak sedikit yang judulnya sengaja dibuat provokatif seperti halnya judul buku Ridwan Malik untuk menarik perhatian pembaca. Dari tulisan-tulisan tersebut, Nissa mengaku bisa mendapat perhatian Lembaga pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) hingga dirinya ditunjuk jadi salahsatu duta program-program Lembaga tersebut.
Bedah buku Ajengan Anjing sendiri, digelar oleh Yayasan Tangtudibuana lewat program Wahana Ruwat Gagasan (Waruga) untuk memfasilitasi generasi muda menuangkan gagasan dan ide dalam berbagai bentuk ekspresi dan kreativitas lewat berbagai acara dan diskusi.
“Isu utamanya adalah soal lingkungan, kita buka ruang-ruang anak-anak muda mengungkapkan ide dan gagasan mereka untuk didiskusikan,” jelas Rama Januar yang juga manajer program Waruga.
Rama mengungkapkan, untuk membuka ruang ekspresi dalam bentuk tulisan, pihaknya menyediakan website yayasan sebagai sarana penerbitan tulisan, untuk penerbitan buku jika memang materi tulisan dinilai layak, pihak yayasan bisa membantu dengan fasilitasi sesuai dengan kemampuan Yayasan.
“Kita bisa bantu proses ISBN-nya, kalau untuk biaya cetak buku atau kreativitas lainnya, tentu kita sesuaikan dengan kemampuan Yayasan, yang paling penting kita ingin membuka ruang generasi muda mengeskpresikan gagasan dan kegelisahannya,”’ tegasnya.***
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com




















Discussion about this post