Jakarta, Kabariku – Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 dinilai harus menjadi momentum refleksi bagi institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk semakin memperkuat komitmennya sebagai alat negara yang bekerja berdasarkan konstitusi, bukan sebagai alat kekuasaan.
Koordinator SIAGA 98, Hasanuddin, SH., menegaskan sejarah telah memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya menjaga profesionalisme institusi negara agar tidak terseret ke dalam kepentingan politik praktis.
Menurut Hasanuddin, pengalaman pada masa Orde Baru menjadi catatan sejarah yang tidak boleh terulang. Pada periode tersebut, Tentara Nasional Indonesia (TNI) dinilai dibawa terlalu jauh ke dalam ranah politik kekuasaan sehingga institusi yang semestinya menjalankan fungsi pertahanan negara ikut terlibat dalam dinamika politik.
“Sejarah telah memberikan pelajaran yang sangat mahal. Pada era Orde Baru, TNI pernah dibawa terlalu jauh ke dalam politik kekuasaan. Akibatnya, institusi yang seharusnya berfungsi sebagai alat pertahanan negara ikut terseret dalam dinamika politik dan kekuasaan. Pengalaman tersebut menjadi catatan sejarah yang tidak boleh terulang pada institusi negara mana pun,” kata Hasanuddin.
Karena itu, lanjutnya, Polri perlu menjadikan sejarah sebagai pembelajaran untuk menjaga profesionalisme kelembagaan. Profesionalisme hanya dapat dipertahankan apabila Polri berdiri tegak di atas konstitusi, menjunjung tinggi supremasi hukum, menjaga netralitas, serta menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan politik praktis.
Hasanuddin menegaskan SIAGA 98 meyakini Polri merupakan alat negara yang memiliki mandat konstitusional untuk menegakkan hukum, melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat, sekaligus memelihara keamanan dan ketertiban nasional. Menurutnya, mandat tersebut harus dijalankan secara independen, profesional, dan akuntabel.
Ia juga menekankan bahwa kepercayaan publik merupakan modal utama bagi Polri dalam menjalankan tugasnya. Kepercayaan tersebut, kata dia, hanya dapat dibangun apabila penegakan hukum dilakukan secara adil tanpa pandang bulu, bebas dari intervensi kekuasaan, serta tanpa diskriminasi.
Pada momentum Hari Bhayangkara ke-80, SIAGA 98 berharap Polri semakin profesional, semakin dipercaya masyarakat, serta semakin kokoh menjalankan perannya sebagai pengawal konstitusi dan pelindung seluruh warga negara.
Selain menyampaikan harapan terhadap penguatan reformasi institusi, SIAGA 98 juga memberikan apresiasi kepada Listyo Sigit Prabowo atas dedikasinya dalam mengawal proses reformasi Polri menuju institusi yang semakin profesional dan berorientasi pada masa depan.
Hasanuddin menilai upaya memperkuat reformasi kelembagaan, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta menjaga kepercayaan masyarakat merupakan langkah yang patut terus dilanjutkan demi mewujudkan Polri yang modern, profesional, dan berintegritas.
“Selamat Hari Bhayangkara ke-80“.
“Polri adalah alat negara. Tetaplah menjadi penjaga hukum, pelindung rakyat, pengayom masyarakat, dan pengawal demokrasi, bukan alat kekuasaan,” tutup Hasanuddin.*
Artikel telah tayang di Sorot Merah Putih
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com
















Discussion about this post