Jakarta, Kabariku.com – Gangguan tidur dan tuberkulosis (TB) masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Indonesia. Dua dokter spesialis paru mengingatkan, persoalan ini bukan hanya berdampak medis, tetapi juga sosial dan ekonomi.
Dalam momentum World Sleep Day 2026, Dr. dr. Irawaty Djaharuddin, Sp.P(K), menyoroti masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gangguan tidur, khususnya Obstructive Sleep Apnea (OSA).
“Banyak orang menganggap mendengkur itu wajar, apalagi kalau sedang lelah. Padahal bisa jadi itu tanda OSA, yaitu kondisi sumbatan berulang di saluran napas saat tidur yang menyebabkan henti napas sesaat,” kata dr. Irawaty dalam keterangan Via Daring, Selasa (3/3/2026).
Ia menjelaskan, OSA dapat terjadi puluhan hingga ratusan kali dalam satu malam tanpa disadari penderitanya. Gejalanya meliputi mendengkur keras, terbangun seperti tercekik, kantuk berlebihan di siang hari, sakit kepala pagi hari, hingga gangguan konsentrasi.
“Sekitar 80 persen kasus OSA belum terdiagnosis. Padahal dampaknya bisa meningkatkan risiko hipertensi, stroke, penyakit jantung koroner, diabetes, bahkan kecelakaan lalu lintas akibat microsleep,” tegasnya.
Menurutnya, keterbatasan fasilitas pemeriksaan seperti polisomnografi dan minimnya skrining di layanan kesehatan primer menjadi tantangan besar di Indonesia.
Indonesia Masih Peringkat Kedua Kasus TB Dunia
Sementara itu, Prof. Dr. dr. Allen Widysanto, Sp.P, menyoroti tingginya beban TB nasional yang belum terkendali.
Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO), Indonesia masih berada di posisi kedua dunia dengan jumlah kasus TB terbanyak setelah India.
“Secara global ada sekitar 10,7 juta kasus TB setiap tahun dengan lebih dari 1,2 juta kematian. Indonesia diperkirakan menyumbang sekitar 1,1 juta kasus baru per tahun. Namun angka yang terdeteksi dan tercatat masih belum menutup seluruh estimasi,” ujar Prof. Allen.
Ia menegaskan, TB banyak menyerang kelompok usia produktif sehingga berdampak pada stabilitas ekonomi keluarga dan produktivitas nasional.
Lebih lanjut, ia mengingatkan ancaman TB Resisten Obat (TB-RO) yang membutuhkan pengobatan lebih lama dan biaya lebih besar.
“Pengobatan yang tidak tuntas bisa memicu resistensi. TB-RO ini terapinya lebih kompleks dan efek sampingnya lebih tinggi. Kalau tidak diperkuat sistem deteksi dan pemantauan, ini bisa menjadi krisis kesehatan berikutnya,” jelasnya.
Pesan untuk Masyarakat
Dr. Irawaty mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kualitas tidur.
“Jangan anggap remeh mendengkur dan rasa kantuk berlebihan. Jika ada gejala, segera konsultasi ke dokter. Jaga berat badan ideal, rutin olahraga, hindari rokok dan alkohol, serta terapkan sleep hygiene,” pesannya.
Sementara Prof. Allen menegaskan TB adalah penyakit yang bisa disembuhkan.
“Jika mengalami batuk lebih dari dua minggu, demam lama, penurunan berat badan, atau keringat malam, segera periksa. TB bukan aib. Indonesia mampu mengakhiri TB jika kita bergerak bersama,” pungkasnya.
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com





















Discussion about this post