• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Selasa, Januari 20, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Dwi Warna
  • Hukum
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Artikel
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Dwi Warna
  • Hukum
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Artikel
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Opini

Dolar Naik, Rupiah Tersungkur; Siapa yang Sebenarnya Mengkhianati Ekonomi Nasional?

Irfan Ardhiyanto oleh Irfan Ardhiyanto
20 Januari 2026
di Opini
A A
0
Ilustrasi mata uang Dolar (Foto: Istimewa)

Ilustrasi mata uang Dolar (Foto: Istimewa)

ShareSendShare ShareShare

Ditulis Oleh : Bin Bin Firman Tresnadi (Nalar Bangsa Institute) 

Kabariku – Jakarta – Rupiah melemah karena struktur ekonomi kita selama puluhan tahun dibiarkan tunduk pada resep neolib mengutamakan pasar, mengabaikan kapasitas produksi domestik, dan menggantungkan stabilitas pada kemurahan hati modal asing. Itulah warisan yang membuat nilai tukar kita selalu menjadi korban pertama setiap kali geopolitik global bergejolak.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Namun berbeda dengan pendekatan lama itu, pemerintahan hari ini sebenarnya telah mulai membangun arsitektur tandingan: program-program strategis yang perlahan, tetapi tegas, memulihkan kembali kedaulatan ekonomi. 

RelatedPosts

Revitalisasi Wawasan Nusantara dalam Menjawab Tantangan Disintegrasi dan Krisis Identitas Nasional di Era Globalisasi

Mencegah Politisasi Reformasi Polri

Aktualisasi Pesan Kapolri Idham Azis

Inilah hal yang tidak pernah mau diakui para penganut neolib, karena setiap keberhasilan program ini adalah pengubur langsung atas dogma yang mereka sebarkan hampir tiga dekade.

Pertama: DHE (Devisa Hasil Ekspor) yang diwajibkan masuk ke sistem keuangan domestik.

Program ini adalah serangan frontal terhadap ketergantungan dolar. Selama puluhan tahun, devisa kita parkir di luar negeri sementara industri dalam negeri kekurangan likuiditas USD. DHE memaksa modal kembali ke tanah air, memperkuat cadangan devisa, menambah suplai dolar onshore, dan menurunkan volatilitas rupiah. Neolib sangat terganggu dengan kebijakan ini karena mengurangi ruang mereka bermain spekulasi valas.

Kedua: Hilirisasi mineral dan industri berbasis sumber daya domestik. 

Ini adalah penanda perubahan paradigma: dari ekonomi berbasis impor dan bahan mentah, menjadi ekonomi berbasis produksi nasional dan ekspor bernilai tambah. Hilirisasi nikel, bauksit, tembaga—ini semua bukan sekadar proyek industri. Ini adalah benteng nilai tukar. Ketika nilai tambah diproduksi di dalam negeri, permintaan dolar untuk impor intermediate berkurang drastis. Neoliberalisme membenci hilirisasi karena ia memotong rantai pasok global yang selama ini membuat negara berkembang permanen sebagai pemasok murah.

Baca Juga  Perpanjangan Jabatan Presiden ataupun Penundaan Pemilu 2024 adalah Pelecehan Konstitusi

Ketiga: Transformasi energi dan kemandirian energi nasional.

Program B35/B40, pembangunan kilang, peningkatan lifting migas, serta perluasan energi hijau domestik adalah strategi langsung untuk menurunkan kebutuhan impor minyak dan gas. Mengurangi impor energi berarti memotong salah satu sumber tekanan terbesar terhadap rupiah. Neolib selalu menempatkan energi nasional sebagai komoditas pasar, bukan sebagai infrastruktur kedaulatan. Pemerintah hari ini justru membalikkan logika itu.

Keempat: Danantara dan arsitektur pembiayaan pembangunan yang tidak tunduk pada modal asing portofolio.

Danantara adalah langkah strategis untuk membangun kapasitas pembiayaan nasional yang berbasis modal domestik. Ini berarti Indonesia tidak perlu menadahkan tangan pada volatilitas dana asing jangka pendek. Program ini memperkuat ruang fiskal, mengurangi dominasi asing di pasar SBN, dan secara langsung memperkecil kerentanan rupiah terhadap capital outflow.

Kelima: Swasembada Pangan dan Industrialisasi Pertanian.

Ketergantungan pangan terhadap impor adalah bom waktu nilai tukar. Program perluasan lahan, modernisasi pertanian, serta pembangunan agroindustri domestik bukan sekadar kebijakan sektor pangan, tetapi instrumen stabilitas rupiah. Pangan mandiri berarti impor turun, dan tekanan kurs pun ikut mereda. Neolib anti terhadap ini karena mereka melihat pangan sebagai komoditas, bukan sebagai fondasi kedaulatan.

Keenam: Local Currency Transaction (LCT) dan diversifikasi mata uang perdagangan.

Perluasan transaksi rupiah–ringgit, rupiah–bath, rupiah–yuan, hingga cross-border QR adalah strategi melemahkan dominasi USD. Ini bukan teknis perbankan; ini adalah langkah strategis memindahkan perdagangan dari orbit dolar ke orbit regional. Dogma neolib selalu menganggap dolar sebagai satu-satunya acuan stabilitas. Justru di titik itulah kita harus melawan.

Ketujuh: Penguatan cadangan devisa negara melalui penertiban ekspor, transparansi rantai pasok, dan optimalisasi penerimaan negara. 

Ketika cadangan devisa kuat, rupiah punya bantalan menghadapi geopolitik. Neolib membenci ini karena mereka ingin pasar yang menentukan nilai tukar, bukan negara yang memegang kendali.

Baca Juga  SIAGA '98: Saatnya Presiden Jokowi Sampaikan 'Sikap Pemerintah' Secara Resmi

Semua program ini menyampaikan pesan yang sama: Indonesia sedang bergerak kembali ke jalur kedaulatan ekonomi. Dan kedaulatan itu tidak kompatibel dengan neoliberalisme.

Karena itulah para penganut neolib selalu menyerang kebijakan-kebijakan ini. Mereka mengarang narasi bahwa hilirisasi salah arah, bahwa DHE “mengganggu mekanisme pasar”, bahwa ketergantungan modal asing itu “normal”. 

Tidak. Itu bukan analisis; itu pembelaan terakhir untuk ideologi yang tidak lagi memiliki pijakan moral maupun empiris. Kalimat yang harus kita sampaikan keras dan tanpa ragu:

“Rupiah hanya akan kuat jika negara berani mengambil kembali kontrol atas produksi, energi, pangan, dan pembiayaan nasional. Jalan itu sudah mulai diletakkan oleh program-program strategis pemerintah Prabowo Subianto. Yang harus kita kubur sekarang adalah residu neoliberalisme yang terus menjerumuskan bangsa ini pada ketergantungan.”

Dengan kata lain, kedaulatan bukan slogan — ia adalah implementasi konkret, dan pemerintah telah memulainya. Tugas kita adalah mempercepatnya, menajamkannya, dan memastikan bahwa Indonesia tidak lagi berlutut di hadapan arsitektur ekonomi global yang dibangun untuk melemahkan negara berkembang.

Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com

Tags: Dolar AS ke RupiahDolar naikRupiah melemah
ShareSendShareSharePinTweet
ADVERTISEMENT
Post Sebelumnya

Eks Penyidik KPK Jelaskan Mekanisme Pencabutan Blokir Rekening dalam Perkara Korupsi

RelatedPosts

Revitalisasi Wawasan Nusantara dalam Menjawab Tantangan Disintegrasi dan Krisis Identitas Nasional di Era Globalisasi

16 Januari 2026

Mencegah Politisasi Reformasi Polri

7 Januari 2026
Idham Azis kedua dari kanan (disamping Ahmad Dofiri) sesaat setelah Komisi Percepatan Reformasi Polri menggelar audiensi bersama sejumlah organisasi kelompok masyarakat di Lounge Adhi Pradana, STIK-PTIK Lemdiklat Polri, Selasa (18/11)

Aktualisasi Pesan Kapolri Idham Azis

29 November 2025
ilustrasi

Coretax: Digitalisasi Pajak yang Dipaksakan?

28 November 2025

BBM Oplosan di SPBU Resmi: Tanggung Jawab Siapa?

24 November 2025

Pengalaman Saya, Lala Zhulaeha, Mengajar di SMA Terbuka Caringin

23 November 2025

Discussion about this post

KabarTerbaru

Ilustrasi mata uang Dolar (Foto: Istimewa)

Dolar Naik, Rupiah Tersungkur; Siapa yang Sebenarnya Mengkhianati Ekonomi Nasional?

20 Januari 2026
Aliansi Jaringan Aktifis 98 Untuk Transformasi Indonesia menggelar diskusi publik bertajuk "Jampidsus Jadi Terlapor, Presiden Tersandera?" di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (20/1). (Foto: Dok. Kabariku.com)

Eks Penyidik KPK Jelaskan Mekanisme Pencabutan Blokir Rekening dalam Perkara Korupsi

20 Januari 2026
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo. (Foto: Ainul Ghurri/Kabariku.com)

KPK Sebut Bupati Sudewo Patok Tarif untuk Jabatan Perangkat Desa

20 Januari 2026

Perlindungan Hukum Wartawan Instrumen Konstitusional Bukan Keistimewaan, Ini Penjelasan MK

20 Januari 2026
Foto ilustrasi (istimewa)

Dituding Penipuan, Nancy Fidelia Ungkap Fakta: “Saya Justru Korban Sengketa Aset”

20 Januari 2026
Reses Wakil Ketua DPRD Kabupaten Garut H Subhan Fahmi

Reses Wakil Ketua DPRD Garut, Pelaku Usaha Papandayan Dorong Pembangunan Terminal Wisata

20 Januari 2026
Warga Sukatani Sampaikan Aspirasi Pendidikan, Infrastruktur, dan UMKM Saat Reses DPRD Garut

Reses DPRD Garut di Sukatani, Warga Sampaikan Aspirasi Pendidikan dan Infrastruktur

20 Januari 2026
Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Sonny T Danaparamita. (Foto: Istimewa)

Legislator Sonny T Danaparamita Kritik Kemenhut: Jangan Melawan Arus UU Kehutanan Demi Target Ekonomi

20 Januari 2026
Asosiasi Industri Plastik Hilir menggelar konferensi pers terkait kebijakan BMAD dan BMTP (Foto: Istimewa)

Asosiasi Industri Plastik Hilir Soroti Dampak Kebijakan BMAD dan BMTP pada Industri Plastik Nasional

20 Januari 2026

Kabar Terpopuler

  • Kepala BNN RI, Komjen. Pol. Suyudi Ario Seto, menerima audiensi Rektor Universitas Pancasila, Adnan Hamid, beserta jajaran pimpinan universitas di Gedung BNN, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (13/1/2026).

    BNN-Universitas Pancasila Perkuat P4GN, Kepala BNN: Kampus Benteng Moral Berbasis Nilai Pancasila

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Unggahan Sandy Harun Mengguncang Publik: Tommy Soeharto Dikabarkan Menikah dengan Artis Ida Iasha

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Tujuh  Anak Try Sutrisno: Dari Jenderal, Dosen, hingga Psikolog di Amerika Serikat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Asosiasi Industri Plastik Hilir Soroti Dampak Kebijakan BMAD dan BMTP pada Industri Plastik Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jarang Terungkap, Inilah Orang Tua dan Tiga Saudara Kandung Menlu Sugiono Beserta Pekerjaannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Immanuel Ebenezer Didakwa Pemerasan Rp6,52 Miliar: Sebuah “Tradisi” Pungutan di Kemnaker

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kunjungi Garut, Menkop Ferry Juliantono Apresiasi Sinergi Kopdes Merah Putih dan Perhutanan Sosial Karamatwangi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku adalah media online yang menyajikan berita-berita dan informasi yang beragam serta mendalam. Kabariku hadir memberi manfaat lebih

Kabariku.com Terverifikasi Faktual Dewan Pers dan telah mendapatkan Sertifikat dengan nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Dwi Warna
  • Hukum
  • Politik
  • Lainnya
    • Opini
    • Artikel
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com