• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Selasa, Juli 21, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Opini

Strategi Indonesia dalam Dinamika Geopolitik Global: Antara BRICS, Diplomasi Perdamaian, dan Politik Bebas Aktif

Irfan Ardhiyanto oleh Irfan Ardhiyanto
5 Maret 2026
di Opini
A A
0
Alek Sianipar (Mahasiswa Doktoral FH Universitas Bhayangkara Jaya)

Alek Sianipar (Mahasiswa Doktoral FH Universitas Bhayangkara Jaya)

ShareSendShare ShareShare

Implikasi Konflik Timur Tengah terhadap Kepentingan Nasional Indonesia

oleh :
Alek Sianipar
Mahasiswa Doktoral FH Universitas Bhayangkara Jaya

Jakarta, Kabariku – Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran tidak hanya merupakan dinamika regional di Timur Tengah, tetapi juga memiliki implikasi langsung terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan global. Salah satu dampak paling signifikan adalah potensi gangguan terhadap jalur distribusi energi internasional, khususnya di Strait of Hormuz yang merupakan salah satu jalur strategis perdagangan minyak dunia.

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

Persepktif geopolitik klasik, kontrol terhadap jalur distribusi energi dan jalur laut strategis merupakan bagian dari kompetisi kekuatan global. Alfred Thayer Mahan dalam teori Sea Power menekankan bahwa penguasaan jalur laut strategis merupakan faktor utama dalam menentukan dominasi geopolitik suatu negara. 

RelatedPosts

Beranikah Seluruh Penegak Hukum Periksa Harta Semua Pejabat? Uji Nyata Komitmen Pemberantasan Korupsi

Ketika Manusia Jadi Komoditas Menghilang: Belajar Pasar dari Jepang yang Suka “Menguap”

Ketika Etika Mengalahkan Aturan, Negara Kehilangan Pedoman Bersama

Selat Hormuz, dalam hal ini dapat dipahami sebagai chokepoint geopolitik yang memiliki nilai strategis dalam distribusi energi global.

Saat ini Selat Hormuz mengalirkan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga energi, ketidakstabilan pasar minyak, serta tekanan terhadap negara-negara yang bergantung pada impor energi. Untuk Indonesia, yang masih mengandalkan impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi domestik, situasi tersebut dapat menimbulkan risiko terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Fenomena ini juga dapat dianalisis melalui perspektif Geopolitik Energi, yang menekankan hubungan antara keamanan energi, distribusi sumber daya, dan dinamika kekuatan global. 

Menurut Daniel Yergin, keamanan energi merupakan elemen penting dalam stabilitas ekonomi global, sehingga gangguan terhadap jalur distribusi energi dapat memicu dampak sistemik terhadap ekonomi internasional.

Baca Juga  Tidak Perlu Tunda Pemilu atau Presiden Tiga Periode Jika Ada Badan Pengelola Keberlanjutan Proyek Strategis Nasional

Pandangan geopolitik energi, konflik di kawasan Teluk menunjukkan bagaimana rivalitas kekuatan besar dapat memengaruhi stabilitas pasar global dan mendorong negara-negara berkembang untuk melakukan penyesuaian strategi energi. Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta perluasan kerja sama energi internasional menjadi langkah penting untuk mengurangi kerentanan terhadap gejolak geopolitik global.

Strategic Autonomy dan Ruang Manuver Diplomasi Indonesia

Dalam menghadapi dinamika geopolitik yang semakin kompleks, salah satu tantangan utama bagi negara berkembang adalah mempertahankan otonomi strategis dalam kebijakan luar negeri. Konsep strategic autonomy merujuk pada kemampuan suatu negara untuk menjaga kemandirian dalam menentukan kebijakan politik, ekonomi, dan keamanan tanpa terjebak dalam dominasi kekuatan besar.

Dalam kajian hubungan internasional, pendekatan ini berkaitan dengan konsep strategic hedging yang dikembangkan oleh Evelyn Goh dan Kuik Cheng-Chwee. Teori ini menjelaskan bagaimana negara-negara menengah (middle powers) mengelola hubungan dengan berbagai kekuatan besar secara simultan guna mengurangi risiko ketergantungan pada satu kekuatan tertentu.

Untuk Indonesia, pendekatan ini menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya rivalitas global yang melibatkan berbagai aktor utama seperti China, Rusia, dan Amerika Serikat. Strategi geopolitical hedging memungkinkan Indonesia menjaga keseimbangan hubungan diplomatik tanpa harus terjebak dalam polarisasi blok geopolitik yang kaku.

Melalui strategi ini, Indonesia dapat memperluas kerja sama ekonomi dan politik dengan berbagai negara tanpa harus secara eksklusif berpihak pada satu blok tertentu. Pendekatan ini sekaligus memperkuat fleksibilitas diplomasi Indonesia dalam menghadapi dinamika politik internasional yang terus berubah.

Pendekatan ini juga selaras dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang sejak era Mohammad Hatta menjadi fondasi kebijakan luar negeri Indonesia. Prinsip tersebut menekankan bahwa Indonesia tidak memihak pada blok kekuatan tertentu, tetapi tetap aktif berkontribusi dalam menciptakan perdamaian dunia.

Baca Juga  Kisruh Kontrak Pengelolaan Limbah Tambang, Rakyat Menggugat Arogansi Adaro

Indonesia dan Kepemimpinan Global South

Perubahan struktur kekuatan global juga membuka peluang bagi negara-negara berkembang untuk memainkan peran yang lebih signifikan dalam tata kelola internasional. Dalam konteks ini, munculnya konsep Global South diplomacy mencerminkan upaya negara-negara berkembang untuk memperkuat posisi mereka dalam sistem internasional.

Dalam teori Multipolarity dalam hubungan internasional yang dikemukakan oleh John Mearsheimer, sistem internasional yang multipolar memungkinkan munculnya aktor-aktor baru yang memiliki ruang lebih besar dalam mempengaruhi dinamika global. Kondisi ini menciptakan peluang bagi negara-negara middle power seperti Indonesia untuk memainkan peran yang lebih aktif dalam diplomasi global.

Sebagai negara dengan populasi besar, ekonomi yang terus berkembang, serta pengalaman panjang dalam diplomasi multilateral, Indonesia memiliki kapasitas untuk menjembatani kepentingan antara negara maju dan negara berkembang. Peran ini dapat diwujudkan melalui berbagai forum internasional serta kerja sama ekonomi global.

Keterlibatan Indonesia dalam platform seperti BRICS memberikan ruang bagi negara berkembang untuk meningkatkan partisipasi dalam proses pengambilan keputusan global yang selama ini didominasi oleh negara maju. 

Perspektif teori Global Governance, forum-forum multilateral seperti BRICS dapat dipahami sebagai upaya menciptakan struktur tata kelola internasional yang lebih inklusif.

Dari sisi lain, diplomasi perdamaian melalui forum seperti Board of Peace mencerminkan penerapan Normative Power Diplomacy yang mana kemampuan suatu negara untuk mempengaruhi sistem internasional melalui nilai-nilai, norma, dan upaya mediasi konflik. Konsep ini banyak dibahas oleh Ian Manners dalam kajian tentang peran aktor non-hegemonik dalam diplomasi global.

Posisi Indonesia dalam Arsitektur Geopolitik Baru

Arah perubahan menuju tatanan internasional multipolar menciptakan peluang bagi negara-negara middle power untuk memainkan peran yang lebih aktif dalam politik global. Dalam konsep Middle Power Diplomacy yang dikembangkan oleh Andrew Cooper menjelaskan bagaimana negara-negara menengah dapat memperluas pengaruhnya melalui diplomasi multilateral, mediasi konflik, serta pembangunan koalisi internasional.

Baca Juga  Tujuh Tantangan Besar Indonesia 2023, Catatan Akhir Tahun Dr. Syahganda Nainggolan

Indonesia memiliki potensi untuk memainkan peran tersebut melalui kombinasi strategi geoekonomi, diplomasi normatif, dan prinsip politik luar negeri bebas aktif. Strategi ini memungkinkan Indonesia mempertahankan keseimbangan antara kepentingan nasional dan kontribusi terhadap stabilitas global.

Pendekatan ini juga dapat dianalisis melalui perspektif Complex Interdependence yang dikemukakan oleh Robert Keohane dan Joseph Nye. Teori ini menjelaskan bahwa dalam sistem internasional modern, hubungan antarnegara tidak lagi didominasi oleh kekuatan militer semata, tetapi juga oleh interdependensi ekonomi, teknologi, dan institusi global.

Lanskap geopolitik yang semakin kompetitif, kemampuan Indonesia mengelola hubungan dengan berbagai kekuatan global akan menjadi faktor penting dalam menentukan posisinya dalam arsitektur politik internasional abad ke-21. 

Dengan memanfaatkan posisi strategisnya sebagai negara middle power dan aktor penting dalam Global South, Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat perannya sebagai jembatan diplomasi antara berbagai kekuatan global sekaligus menjaga kepentingan nasionalnya di tengah dinamika geopolitik dunia yang terus berubah.*

Tags: Dinamika Geopolitik GlobalPolitik Bebas AktifStrategic AutonomyUniversitas Bhayangkara Jaya
ShareSendShareSharePinTweet
Post Sebelumnya

Polres Garut Bedah Dua Rumah Warga, Kapolres Serahkan Kunci Hunian Layak di Banyuresmi dan Karangpawitan

Post Selanjutnya

KPK Bongkar Dugaan “Main Mata” di Balik Pengisian Jabatan Desa Pati

RelatedPosts

Beranikah Seluruh Penegak Hukum Periksa Harta Semua Pejabat? Uji Nyata Komitmen Pemberantasan Korupsi

17 Juli 2026

Ketika Manusia Jadi Komoditas Menghilang: Belajar Pasar dari Jepang yang Suka “Menguap”

17 Juli 2026

Ketika Etika Mengalahkan Aturan, Negara Kehilangan Pedoman Bersama

17 Juli 2026

DPR WAJIB SAHKAN UU PERAMPASAN ASET. JANGAN JADIKAN HAM SEBAGAI TAMENG KORUPTOR.

16 Juli 2026

WPR dan IPR di Bangka Belitung: Solusi Tata Kelola atau Perpanjangan Ketergantungan pada Timah?

15 Juli 2026
Oplus_131072

Menjaga Kepercayaan dalam Kemitraan Negara: Pelajaran dari Polemik SPPG

15 Juli 2026
Post Selanjutnya
Bupati Pati, Sudewo mengenakan rompi tahanan usai ditetapkan sebagai tersangka KPK. (Foto: Ainul Ghurri/Kabariku.com)

KPK Bongkar Dugaan “Main Mata” di Balik Pengisian Jabatan Desa Pati

Bupati Pekalongan, Fadia Arafiq memakai baju tahanan KPK usai ditetapkan sebagai tersangka. (Foto: Ainul Ghurri/Kabariku)

KPK Buka Peluang Jerat PT RNB Milik Keluarga Bupati Pekalongan sebagai Tersangka Korporasi

Discussion about this post

KabarTerbaru

Lukman Edy: P2N Jadi Rumah Besar Pengusaha Nahdliyin untuk Perkuat Ekonomi Nasional

21 Juli 2026

Dewan Pers Sesalkan Sikap Hotman Paris, Tegur Pernyataan yang Dinilai Merendahkan Profesi Wartawan

21 Juli 2026

Ketua AMMI Ali Yusuf : KPK Lebih Netral Tangani Kasus Febrie

21 Juli 2026
Praktisi hukum sekaligus peneliti hukum maritim, Yerikho Manurung,(Istimewa)

Yerikho Manurung Dorong Reformasi Sistem Keselamatan Pelayaran Nasional Berbasis Ekonomi Biru

21 Juli 2026

Respons Istana soal Kasus Febrie: Penegakan Hukum Berjalan Tanpa Intervensi Presiden

21 Juli 2026

Viral Dugaan Razia Potong Rambut Berlebihan di Sekolah Belitung, Siswa Jadi Sorotan, Dinas Pendidikan Diminta Bertindak Tegas

20 Juli 2026
Oplus_131072

Masinton Pasaribu Ajak Keluarga Besar PPTSB Bersinergi Bangun Tapanuli Tengah

20 Juli 2026

KPK Tangkap 19 Orang dalam OTT di Lombok Barat, Bupati Ahmad Zaini Dibawa ke Jakarta

20 Juli 2026

OTT KPK, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Ditangkap

20 Juli 2026

Respons Istana soal Kasus Febrie: Penegakan Hukum Berjalan Tanpa Intervensi Presiden

21 Juli 2026

Kabar Terpopuler

  • Owner PT Global Komodo Indonesia, Hironimus Amal. (Foto: Dok. Pribadi)

    Wow, Ekspedisi Ini Jadi Sistem Pendukung Kemajuan Bisnis Pariwisata Labuan Bajo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Manusia Jadi Komoditas Menghilang: Belajar Pasar dari Jepang yang Suka “Menguap”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Profil Lengkap Mayor Teddy: dari Taruna Nusantara hingga Ranger School, Kini Berpangkat Letkol

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • WPR dan IPR di Bangka Belitung: Solusi Tata Kelola atau Perpanjangan Ketergantungan pada Timah?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabar Baik! RS Medina Garut Rekrut 99 Peserta Program Magang Nasional Kemenaker

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Presiden Prabowo Subianto Perlu Mengevaluasi Dugaan Kebocoran Informasi Pertemuan Terkait Febri Adriansyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Tuduhan Penggelapan dan Penipuan Dr.Andi Kusuma,S.H.M.kn., CTL.,Resmi SP3D

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM
DJITUBERITA.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com