• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Kamis, Juli 23, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Opini

Jangan Ulangi Tragedi Memalukan 2014 dan 2019

Redaksi oleh Redaksi
9 Agustus 2022
di Opini
A A
0
ShareSendShare ShareShare

oleh
S Indro Tjahyono, Aktivis 77/78

Kabariku- Masih dua tahun lagi Pemilu akan dilaksanakan, berbagai manuver elit dan para kandidat Capres/Cawapres makin gencar saja. Status quo masih ingin tampuk di kekuasaan, baik langsung maupun melalui proxy dengan memunculkan kandidat Capres/Cawapres yang bersedia melanjutkan pembangunan yang belum selesai. Jika strategi ini gagal, maka kekhawatiran banyak proyek yang mangkrak mungkin akan terjadi.

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

LOKOMOTIF NYLONONG
Jelang tahun 2024 dipastikan dukungan terhadap kandidat Capres/Cawapres seperti pada Pemilu 2014 dan 2019 mungkin tidak ada lagi. Asumsi para pendukung bahwa kandidat Presiden akan berada dalam satu barisan revolusioner untuk menciptakan tatanan pemerintahan baru tidak terjadi pada tahun 2014 dan 2019.

RelatedPosts

Sinyal Belum Ada Pergantian Kapolri?

Retakan Bernegara Mulai Terlihat

Rahasia Negara dan Kedewasaan Publik

Alih-alih akan muncul front revolusi, yang terjadi justru ironi seperti orang mendorong mobil mogok, setelah mesin hidup mobil melenggang pergi.

Hanya keledai yang mau mengulangi kesalahan untuk ketiga kali. Integritas dan kepercayaan publik terhadap kandidat Capres/Cawapres sudah nol.

Pantas banyak akademisi menolak terlibat Musyawarah Rakyat, di samping sudah tidak lagi percaya dengan para kandidat Capres/Cawapres juga merendahkan martabatnya sebagai ilmuwan dan warganegara sebagai pemegang mandat.

Aktifis non partai atau relawan juga mulai sadar bahwa sesungguhnya keberadaannya pada ranah pemegang mandat rakyat.

Lebih-lebih juga merasa dikhianati, karena ternyata tidak ada kebersamaan kandidat presiden dalam satu gerbong perubahan.

Lokomotif berjalan sendiri seperti Kereta Hantu yang meluncur di kegelapan dari Stasiun Depok sampai Stasiun Cikini.

PEMILIH BUKAN PENDUKUNG
Maaf, memang posisi antara aktivis berpartai atau anggota parpol yang menyamar jadi relawan dan relawan atau aktivis nonpartisan berbeda.

Baca Juga  Rakornas Penanggulangan Bencana 2022. Presiden Jokowi Sampaikan Sejumlah Arahan

Yang berpartai berada pada posisi negara ( state) dan yang nonpartisan pada posisi rakyat (society).

Sistem politik kepartaian itu berada pada sistem negara. Silahkan mereka yang partisan bergerak berdasar sistem atau undang-undang politik termasuk memilih siapa Capres/Cawapresnya.

Mereka pula yang mengkampanyekan Capres/Cawapres yang mereka tentukan, dengan dana politik yang mereka punya.

Rakyat tinggal menunggu mana Capres/Cawapresy yang terbaik dan memilih di kotak suara Pilpres.

Tidak etis menjadikan rakyat sebagai “sample hidup” dalam musyawarah besar yang aklamatif tanpa metodologi yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Kasihan suara rakyat selama ini sudah dijadikan korban manipulasi oleh lembaga polling abal-abal.

Apalagi Capres/Cawapres tersebut dipilih secara subyektif dengan PT (Presidential Threshold) 20%. Berdasarkan azas demokrasi, sebenarnya rakyat boleh tidak mencoblos sebagai hak pribadinya asalkan tidak mengajak yang lain untuk Golput.

Apalagi jika menyaksikan Pilpres hanyalah sandiwara ,karena kandidat presiden pilihannya akhirnya berkomplot dengan kandidat prediden lawannya.

AKTIFIS DAN RAKYAT PEMBERI MANDAT
Dalam negara demokrasi rakyat itu punya mandat terhadap negara yakni memberi tugas kepada presiden dan kepala lembaga-lembaga negara lain untuk menjalankan pemerintahannya.

Bahkan kalau Presiden tidak becus, rakyat bisa melengserkan presiden melalui DPR RI dan MPR RI. Sehingga relawan dan aktivis yang nonpartisan, justru melanggar azas demokrasi atau melakukan tindakan berbahaya berupa “conflict of interest”, jika masih mau diperalat oleh partai politik untuk mengusung, memobilisasi dukungan, dan membiayai kampanye Capres/Cawapres.

Pada 2014 dan 2019, banyak relawan atau aktivis nonpartisan mendukung kandidat Capres/Cawapres bahkan mengeluarkan dana untuk mengkampanyekannya.

Dari segi demokrasi cara ini sebenarnya termasuk “haram”. Aktivis nonpartisan bersama rakyat adalah pihak yang akan memberi mandat kepada presiden untuk mewujudkan amanat rakyat.

Baca Juga  Getol Kaitkan Kasus Sambo dengan KM 50, Habib Syakur Sentil Kelompok Khilafah dan Habib Rizieq

Gila saja kalau pemberi mandat ini kemudian ikut-ikutan mengkampanyekan kandidat Capres/Cawapres yang notabene nanti adalah pelaksana perintah atau mandat rakyat.

Padahal 60% calon legislatif (Caleg) sebagai aparat partai politik justru tidak mengkampanyekan Capres/Cawapres yang diusung karena gambar dan fotonya tidak dicantumkan pada spanduk kampanyenya.

Aktivis pendukung bahkan diberi atribut nama binatang (cebong dan kampret) dan dipecahbelah dalam berbagai kelompok pendukung, sehingga modal sosial dan posisi tawarnya lemah.

SISTEM PRESIDENSIAL BUKAN PARLEMENTER
Relawan dan aktivis nonpartisan yang ikut mendukung Capres/Cawapres berharap Presiden Terpilih akan bersedia menggunakan hak prerogatifnya untuk menggalang barisan perubahan melalui kabinet.

Tapi apa lacur, justru partai politik memperkosa hak prerogatif Presiden Terpilih dan berebut jatah jabatan di Kabinet.

Tujuan mereka sebenarnya untuk menempatkan menteri agar dapat menggarong APBN guna membiayai parpol pengusung.

Sementara kita tahu Indonesia menganut Sistem Presidensial dan bukan Sistem Parlementer. Kabinet bukan kabinetnya parpol, tetapi kabinetnya Presiden yang dipilih berdasarkan kompetensi dan bukan alasan politik.

Akibatnya Presiden tidak berhasil menggalang orang terbaik untuk membantu mereka, karena anggota kabinet adalah orang partai yang diberi mandat oleh parpol untuk menaikkan rating kredibilitasnya dan menyetor dana untuk partai.

Yang lebih mengerikan adalah Kandidat Capres/Cawapres pada tahun 2014 dan memandang pendukungnya hanya sebagai fans.

Dengan nama relawan, para Capres/Cawapres bisa menghindari tuntutan bahwa bukan dia yang minta dukungan relawan, sehingga tidak ada kewajiban membalas budi.

Ini artinya relawan telah “dibeli putus”, setelah diberi uang saku sebagai tim kampanye, setelah itu Presiden tidak perlu menggubris lagi pendukungnya.

MISI PERUBAHAN AMBYAR
Relawan dan aktivis nonpatisan selama ini berilusi menggunakan Pemilu sebagai instrumen perubahan atau revolusi. Hubungan antara Kandidat Presiden dan pendukungnya diharapkan seperti hubungan antara Che Guevara dengan tentara gerilya Pengawal Revolusi.

Baca Juga  Terkait Aspirasi Masyarakat, 50 Anggota DPRD Garut Temui Pakar Hukum di Bandung, Berikut Komentarnya

Tapi celakanya saat ini Presiden lebih dekat dengan entitas atau rezim yang memiliki mindset atau pola pikir Orde Baru. Sedangkan pendukungnya telah dimarginalisasi dan diharap puas dengan berselfie ria di acara temu kangen yang tak tentu jadwalnya.

Last but not least, bagi Presiden hubungan dengan pengusung dan pendukungnya mungkin dianggap bukan hal penting.

Ini sangat berbeda dengan bagaimana Joe Biden menggalang pendukungnya dari kalangan intelektual dan kemudian menjadi pembantunya yang handal.

Presiden Jokowi menolak orang-orang yang potensial berada di sekitarnya dan yang juga berpotensi menjadi kompetitornya.

Ia sudah berpengalaman menjadi pengusaha yang bermodal kecerdikan (cunning) bisa mensuperordinasi lingkungannya. Dengan menggunakan manajemen konflik, ia pun akan tetap menjadi bintang.

Pergeseran kepemimpinan menjadi kecerdikan sebagai approach dalam mengelola negara ini sedang dipertontonkan di hadapan kita.***

Red/K.101

Tags: .JANGAN ULANGI TRAGEDI MEMALUKAN 2014 DAN 2019Aktivis 77/78Capres Cawapres 2024Presiden JokowiS Indro Tjahyono
ShareSendShareSharePinTweet
Post Sebelumnya

Megawati Hadir sebagai Pembicara Kunci di Acara BKKBN dan Peluncuran Buku ‘Resep Makanan Baduta dan Ibu Hamil untuk Generasi Emas Indonesia’

Post Selanjutnya

Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, M.Si., Unggah Foto di Akun Twitter Pribadinya Mendadak jadi Sorotan Netizen

RelatedPosts

Sinyal Belum Ada Pergantian Kapolri?

21 Juli 2026

Retakan Bernegara Mulai Terlihat

21 Juli 2026

Rahasia Negara dan Kedewasaan Publik

21 Juli 2026

Beranikah Seluruh Penegak Hukum Periksa Harta Semua Pejabat? Uji Nyata Komitmen Pemberantasan Korupsi

17 Juli 2026

Ketika Manusia Jadi Komoditas Menghilang: Belajar Pasar dari Jepang yang Suka “Menguap”

17 Juli 2026

Ketika Etika Mengalahkan Aturan, Negara Kehilangan Pedoman Bersama

17 Juli 2026
Post Selanjutnya

Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, M.Si., Unggah Foto di Akun Twitter Pribadinya Mendadak jadi Sorotan Netizen

Jiwa Korsa, Pedang Bermata Dua

Discussion about this post

KabarTerbaru

Festival Cisadane Tak Boleh Sekadar Seremonial, Komisi III DPRD Tangerang Dorong Jadi Penggerak Ekonomi Kreatif

23 Juli 2026

Bupati Garut Apresiasi Kiprah KNPI, Dorong Pemuda Perkuat Kontribusi untuk Masyarakat

23 Juli 2026

Bupati Garut Terima Audiensi BPSK, Perkuat Sinergi Perlindungan Konsumen

23 Juli 2026
Dok.Foto: istimewa

Presiden Prabowo Bentuk Universitas Republik Indonesia, Target Bangun 10 Kampus untuk Cetak Pemimpin Nasional

23 Juli 2026
Anggota DPRD Jabar H Aceng Malki hadiri Perhelatan Gebyar Pesona Budaya Garut di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Sabtu (25/4/2026).

Peringati Harlah KNPI ke-53, H. Aceng Malki Dorong Pemuda Garut Jadi Penggerak Pembangunan Daerah

23 Juli 2026
Dok.Foto: Istimewa

Modus Kredit Miliaran Terbongkar, Korban Klaim Rugi Ratusan Juta, Dwi Febri Endaryanto Akan dilaporkan ke Polisi

23 Juli 2026
SDN 1 Sukanagara Viral karena Sarang Kelelawar, DPRD Garut Pastikan Perbaikan Segera Dilakukan

Viral Kelas Dipenuhi Kotoran Kelelawar, Yuda Puja Turnawan Turun Langsung ke SDN 1 Sukanagara

23 Juli 2026
Dok.Foto: Istimewa

Kuasa Hukum Nancy: Video Pengakuan Rizki Irwansyah Tak Sesuai Fakta, Gugatan Rp11 Miliar Tetap Berjalan

23 Juli 2026

HANI 2026, Kepala BNN Tegaskan Masa Depan Indonesia Ditentukan Kualitas Generasi Muda

23 Juli 2026

Presiden Prabowo Tunjuk Sudaryono Jadi Kepala BGN, Pastikan Program MBG Tetap Berjalan

22 Juli 2026

Kabar Terpopuler

  • Owner PT Global Komodo Indonesia, Hironimus Amal. (Foto: Dok. Pribadi)

    Wow, Ekspedisi Ini Jadi Sistem Pendukung Kemajuan Bisnis Pariwisata Labuan Bajo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Manusia Jadi Komoditas Menghilang: Belajar Pasar dari Jepang yang Suka “Menguap”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Presiden Prabowo Subianto Perlu Mengevaluasi Dugaan Kebocoran Informasi Pertemuan Terkait Febri Adriansyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Koalisi MBG Watch Ajukan Judicial Review UU APBN 2026 ke MK, Soroti Anggaran Makan Bergizi Gratis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sinyal Belum Ada Pergantian Kapolri?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Retakan Bernegara Mulai Terlihat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Bocorkan ‘Adiknya’ Jadi Calon Pengganti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM
DJITUBERITA.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com