GARUT – Kesuksesan di dunia profesional tidak membuat H. Muhammad Mansur Al Fatih A.Md.T., S.Pd.I., melupakan tanggung jawabnya untuk mengabdi kepada masyarakat. Pria yang akrab disapa Kang Iman ini memilih menapaki jalan dakwah dengan membangun sarana ibadah dan pendidikan agama di kampung halamannya, Kampung Cimalaka, Desa Wanaraja, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut.
Sebelum aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan, Kang Iman dikenal sebagai seorang engineer komunikasi profesional yang memiliki spesialisasi dalam pengembangan dan optimalisasi jaringan telekomunikasi. Pengalamannya membawanya terlibat dalam berbagai proyek berskala nasional hingga internasional.
Namun, baginya kesuksesan tidak hanya diukur dari jabatan ataupun pencapaian karier.
“Sukses bukan hanya diukur dari pencapaian dalam dunia profesional, tetapi juga sejauh mana ilmu, tenaga, dan rezeki yang kita miliki dapat memberikan manfaat bagi umat,” ujarnya.
Berangkat dari prinsip tersebut, Kang Iman mewakafkan sebidang tanah milik pribadinya di Kampung Cimalaka kepada Yayasan Cimalaka Darussurur Garut. Lahan tersebut kini dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan ibadah sekaligus sarana pendidikan agama bagi anak-anak dan masyarakat.
Perjalanan dakwahnya di Kampung Cimalaka dimulai sejak 2022 melalui pembentukan Majelis Dzikir dan Sholawat Darussurur Al Fatih. Majelis tersebut menjadi wadah pembinaan akhlak, mempererat ukhuwah Islamiyah, menumbuhkan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, serta membangun semangat pengabdian di tengah masyarakat.
Dari kegiatan majelis itu kemudian lahir gagasan membangun madrasah sebagai tempat belajar membaca Al-Qur’an, mempelajari akidah, akhlak, fikih, serta ilmu-ilmu dasar agama Islam bagi generasi muda.
“Modal utama kami adalah ikhlas, istiqamah, dan pengabdian. Kami berharap lahir generasi yang berilmu, berakhlakul karimah, serta mencintai agama, bangsa, dan tanah air,” kata Kang Iman saat ditemui usai peletakan batu pertama pembangunan Masjid Baitussurur, akhir pekan lalu.
Menurutnya, pembangunan masyarakat melalui jalur keagamaan tidak cukup hanya mengandalkan semangat masyarakat. Dukungan pemerintah juga menjadi faktor penting agar berbagai program pembinaan umat dapat berkembang secara berkelanjutan.
Karena itu, Kang Iman menyayangkan tidak hadirnya aparatur pemerintah desa dalam acara peletakan batu pertama pembangunan Masjid Baitussurur.
“Ini menjadi pengingat bahwa pembangunan masyarakat yang ideal membutuhkan sinergi antara ulama dan umara. Kami berharap pada kegiatan keagamaan maupun sosial ke depan pemerintah dapat hadir, berdialog, dan bergotong royong bersama masyarakat,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa catatan tersebut bukan dimaksudkan untuk memperkeruh hubungan antara ulama dan pemerintah, melainkan sebagai bahan evaluasi agar sinergi dalam melayani masyarakat semakin baik.
“Kami ingin semangat persatuan antara ulama, masyarakat, dan pemerintah terus diperkuat demi pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat,” ujarnya.
Kang Iman juga menaruh perhatian terhadap keberlangsungan madrasah dan kesejahteraan para guru mengaji yang selama ini mengabdikan diri dengan penuh keikhlasan meski dalam berbagai keterbatasan.
Menurutnya, pemerintah pusat, pemerintah daerah, Kementerian Agama, maupun Kementerian Pendidikan perlu memberikan perhatian lebih kepada para guru mengaji melalui pemberian insentif, pelatihan, penyediaan sarana pembelajaran, hingga program pemberdayaan.
“Kami berharap para guru ngaji mendapatkan perhatian yang lebih baik agar semakin termotivasi dalam mendidik generasi penerus bangsa,” katanya.
Selain itu, ia juga berharap pemerintah dapat mendukung pengembangan lembaga pendidikan yang dikelola Yayasan Cimalaka Darussurur, terutama dalam proses perizinan pendirian lembaga pendidikan formal berupa Taman Kanak-Kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Pada kesempatan yang sama, selain peletakan batu pertama pembangunan Masjid Baitussurur, juga dilakukan penunjukan Yayasan Cimalaka Darussurur sebagai Koordinator Wilayah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Tazkiyatun Nafsi. Rangkaian kegiatan ditutup dengan Gebyar Dzikir Akbar yang dipimpin oleh Dr. KH. Syekh Ikyan Badruzzaman, Pimpinan Pondok Pesantren Zawiyah Samarang sekaligus Ketua Jemaah Tarekat Tijaniyah Jawa Barat.***





















Discussion about this post