Jakarta, Kabariku.com – Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) terus mematangkan persiapan pra uji coba sistem pembayaran tol tanpa berhenti atau Multi Lane Free Flow (MLFF). BPJT saat ini masih berkoordinasi dengan PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) untuk menyusun berbagai skenario teknis sebelum pengujian dilakukan.
Kepala BPJT Ni Komang Rasminiati mengatakan persiapan yang dilakukan mencakup sejumlah skenario yang akan diuji di lapangan. Menurutnya, tahap ini menjadi bagian penting sebelum pemerintah menentukan waktu pelaksanaan pra uji coba.
“Kita sedang persiapan untuk menyiapkan ke arah sana secara teknis skenario-skenario yang akan diujicobakan,” ujar Komang di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum, Jumat (3/7/2026).
Komang belum dapat memastikan kapan pra uji coba MLFF akan dimulai. Ia menegaskan penetapan target waktu baru akan dilakukan setelah seluruh persiapan teknis dinilai cukup matang.
“Ya, kalau persiapannya sudah cukup matang, baru kita bisa menentukan targetnya kapan bisa dilakukan pra uji coba,” katanya.
Selain jadwal, lokasi pengujian juga belum diputuskan. BPJT masih menyusun skenario yang nantinya menjadi dasar penentuan ruas tol untuk pelaksanaan uji coba.
Direktur PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) Renaldi Utomo mengatakan perusahaan saat ini ikut terlibat dalam penyusunan skenario teknis pengujian MLFF. Berbagai kemungkinan kondisi di lapangan sedang dibahas sebagai bagian dari persiapan implementasi sistem tersebut.
Menurut Renaldi, koordinasi antara pemerintah dan investor berjalan baik dan pemerintah tetap menunjukkan komitmen untuk melanjutkan proyek MLFF. Namun, RITS masih menunggu keputusan pemerintah terkait lokasi dan waktu pelaksanaan uji coba.
Bali yang sejak awal direncanakan sebagai wilayah percontohan masih menjadi salah satu opsi. Meski demikian, pengujian juga dimungkinkan dilakukan di ruas tol lain.
Renaldi menjelaskan kontrak kerja sama yang dimiliki RITS sejak menerima Surat Perintah Kerja pada 15 Maret 2022 tetap mengacu pada konsep MLFF. Namun selama masa transisi, penggunaan gerbang tol dengan palang (barrier) masih dimungkinkan.
“Kami memang sudah sepakat bahwa dalam proses transisi ini masih mempergunakan barrier. Jadi ada konsep transisi dan ada konsep akhir sesuai desain MLFF. Keputusan akhirnya tentu berada di pemerintah dan kami mendukung,” ujarnya.
Ia menilai penyusunan skenario dan pengujian menjadi tahapan penting sebelum pemerintah mengambil keputusan mengenai implementasi MLFF secara lebih luas. Sistem ini diharapkan dapat mengurangi antrean kendaraan dan mempercepat transaksi di jalan tol.
Sementara itu, pengamat transportasi dari Politeknik Transportasi Jalan Anton Budiharjo menilai implementasi MLFF semakin mendesak seiring meningkatnya volume lalu lintas dan kebutuhan pengelolaan transaksi tol yang lebih efisien.
“Volume lalu lintas terus meningkat. Dengan pembayaran berbasis elektronik, seluruh transaksi akan tercatat secara digital sehingga pengawasan menjadi lebih mudah. Jika ke depan ada kebijakan baru seperti pajak jalan tol, perhitungannya juga akan lebih sederhana karena seluruh data sudah terekam secara elektronik,” kata Anton.
Anton menyarankan pemerintah memulai implementasi MLFF secara bertahap, dimulai dari wilayah yang infrastrukturnya paling siap seperti Jakarta. Menurutnya, uji coba sebaiknya tidak langsung diterapkan di seluruh gerbang tol.
“Mulai dari satu gerbang dulu. Kalau masyarakat sudah merasakan kemudahannya, baru diperluas menjadi dua, tiga, hingga seluruh gerbang. Dalam jangka sekitar lima tahun, seluruh gerbang tol bisa menerapkan sistem multi lane free flow,” tuturnya.
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com



















Discussion about this post