Garut, Kabariku – Pelaksanaan Musyawarah Cabang (Muscab) ke-10 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Garut yang digelar pada Minggu (26/04/2026) di Pondok Pesantren Zawiyah, Kecamatan Samarang, berlangsung dinamis. Meski sempat diwarnai pembangkangan dari puluhan Pengurus Anak Cabang (PAC), kegiatan tersebut justru berakhir lebih cepat dari jadwal yang direncanakan.
Plt. Ketua DPC PPP Garut yang juga Ketua Panitia Muscab, Asep De Maman, menjelaskan bahwa ketidakhadiran sebagian besar PAC menyebabkan forum Muscab tidak dapat dilanjutkan secara normal. Kondisi tersebut membuat Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PPP Jawa Barat mengambil alih jalannya sidang.
Menurut Asep, DPW PPP Jawa Barat kemudian langsung menggelar rapat di lokasi yang sama dan menghasilkan keputusan strategis, yakni membentuk tim formatur untuk menyusun kepengurusan DPC PPP Garut periode 2016–2031. Formatur tersebut terdiri dari tujuh orang, yakni empat perwakilan PAC serta masing-masing satu unsur dari DPC, DPW, dan DPP.
” Yang mendapat mandat dari forum Muscab ke 10 ini sebagai formatur utusan DPC, saya sendiri Asep De Maman, dan utusan PAC, masing masing Wahyudin, Asep Rahmat, Endang S D dan Ayi Suryana, dan dua orang unsur DPW dan DPP,” ungkapm
Ia menambahkan bahwa hasil keputusan tersebut merupakan bagian dari atensi langsung Ketua Umum DPP PPP, Mardiono, yang menginginkan Muscab segera dituntaskan.
“Pelaksanaan Muscab PPP Garut yang sempat memanas dan ada gejala sabotase dari pihak tertentu, ni sudah terasa sejak awal, maka Garut mendapat atensi langsung dari Pak Ketum. Maka tadi Pak Ketua minta Muscab DPC PPP Garut harus selesai hari ini. Ini ada baiknya, meskipun diambil alih oleh DPW, justru bisa selesai lebih cepat. Minggu minggu ini hasil Muscab langsung akan dilaporkan ke DPP, “imbuhnya.
Sebelumnya, Muscab ini memang sempat diwarnai penolakan dari puluhan PAC yang memilih tidak menghadiri forum. Dari total 42 PAC, hanya 13 yang hadir mengikuti Muscab. Situasi tersebut memicu reaksi keras dari Ketua DPW PPP Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum.
Dalam pidato pembukaannya, Uu secara tegas mengecam sikap PAC yang dinilai mengabaikan agenda resmi partai dan mengikuti ajakan pihak yang tidak bertanggung jawab. Ia menegaskan bahwa Muscab merupakan amanat konstitusi partai, bukan sekadar perintah dari DPP, DPW, atau DPC.
“Sebagai sikap politik para PAC yang membangkang perintah konstitusi partai ini, saya menghargai. Namun, segala sikap pasti akan ada konsekuensinya. Tunggu saja, kita pasti akan berikan sanksi kepada mereka yang tidak menghargai saya senagai Ketua DPW PPP Jawa Barat,” tegas Uu dalam pidato pembukaan.
Terkait pemilihan lokasi kegiatan di Pondok Pesantren Zawiyah yang sempat dipersoalkan oleh pihak tertentu, Uu menegaskan bahwa hal tersebut merupakan arahan langsung dari Ketua Umum DPP PPP. Ia menyebut, langkah ini menjadi bagian dari upaya mengembalikan ruh perjuangan partai ke lingkungan pesantren.
“Kebetulan Ponpes Zawiyah memfasilitasi kami untuk kegiatan ini, ya Alhamdulillah. Bahkan ke depan kami justri akan upayakan setiap kegiatan bisa berkolaborasi dengan pesantren, dilaksanakan di pesantren, sebagai jalan kembali ke pangkuan para ulama yang merupakan rahim yang melahirkan PPP sebagai alat perjuangkan syariat islam dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara,” tandasnya.
Dengan berakhirnya Muscab melalui mekanisme pengambilalihan oleh DPW, proses selanjutnya kini berada di tangan tim formatur yang akan menyusun struktur kepengurusan baru DPC PPP Garut.
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com





















Discussion about this post