Garut, Kabariku – Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-80 Muslimat NU menjadi momentum penting untuk memperkuat peran perempuan dalam menjaga nilai-nilai keislaman, kemandirian, dan peradaban. Tema yang ditetapkan Pengurus Pusat (PP) Muslimat NU tahun 2026 yakni “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, dan Meneduhkan Peradaban” dinilai relevan dengan tantangan zaman saat ini.
Hal tersebut disampaikan oleh tokoh Muslimat NU Garut, Dr. Hj. Neng Hilma Mimar, S.Ag, S.Pd.I, dalam ceramahnya yang menekankan pentingnya menjaga kesinambungan tradisi sekaligus menjawab dinamika modern.
Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa merawat tradisi bukan hanya soal mempertahankan amaliah keagamaan, tetapi juga menjaga nilai sosial yang menjadi ruh kehidupan masyarakat.
“Merawat tradisi itu bukan hanya menjaga amaliah seperti tahlilan, yasinan, atau sholawatan, tetapi juga menjaga nilai gotong royong, kepedulian sosial, dan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa tradisi keilmuan seperti majelis taklim, pengajian kitab, hingga pendidikan Al-Qur’an harus terus dihidupkan oleh Muslimat NU sebagai fondasi pembentukan karakter generasi.
Selain dikenal sebagai Sekretaris Muslimat NU Garut, Neng Hilma juga aktif dalam jajaran pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut dan MUI Jawa Barat, khususnya di Komisi Pemberdayaan Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PPRK). Peran tersebut memperkuat kontribusinya dalam isu-isu pemberdayaan perempuan dan ketahanan keluarga.
Ia juga menekankan pentingnya kemandirian perempuan dalam berbagai sektor, baik ekonomi, pendidikan, maupun dakwah.
“Muslimat NU hari ini bukan hanya di dapur, sumur, dan kasur. Tapi juga di mimbar ilmu, di ruang kelas, di panggung dakwah, dan di ruang-ruang kebijakan. Selama dalam koridor syar’i, di situlah ladang khidmah kita,” ungkapnya.
Sebagai pengasuh pondok pesantren di Garut, ia turut mendorong penguatan pendidikan berbasis pesantren sebagai benteng moral generasi muda. Menurutnya, pesantren memiliki peran strategis dalam mencetak generasi berakhlak, berilmu, dan mandiri.
Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya tanggung jawab bersama dalam mempersiapkan generasi masa depan agar tidak tumbuh dalam kondisi lemah.
“Jangan sampai kita meninggalkan anak cucu kita dalam kondisi yang lemah, lemah imannya, lemah akhlaknya, dan lemah ekonominya. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.
Untuk itu, ia mendorong Muslimat NU Garut mengambil langkah konkret melalui penguatan sektor pendidikan dan penciptaan peluang ekonomi.
“Muslimat NU harus hadir dengan menciptakan lapangan pendidikan, membuka akses pembelajaran yang luas, serta mendorong lahirnya lapangan pekerjaan agar generasi ke depan tumbuh kuat, mandiri, dan berdaya saing,” tambahnya.
Menurutnya, tiga pilar utama dalam tema Harlah ke-80 tersebut memiliki keterkaitan yang kuat: tradisi sebagai akar, kemandirian sebagai batang, dan peradaban sebagai buah yang memberikan manfaat luas bagi umat.
Acara peringatan Harlah ke-80 Muslimat NU pun ditutup dengan semangat melanjutkan perjuangan para pendahulu dalam membangun masyarakat yang religius dan berkeadaban.
“Dirgahayu Muslimat NU ke-80. Muslimat Jaya, NU Digdaya, Indonesia Berkah, Dunia Sejahtera,” pungkasnya.
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com





















Discussion about this post