oleh:
Hasanuddin
Koordinator SIAGA 98
Kabariku – “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya…”
Lirik dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman bukan sekadar susunan kata puitik. Ia adalah pernyataan filosofis tentang manusia Indonesia yang utuh: tubuh dan jiwa yang dibangun secara bersamaan.
Sayangnya, dalam praktik kebijakan publik, kita kerap memisahkan keduanya.
Pendidikan sering dipersempit pada gedung sekolah, kurikulum, angka partisipasi, atau perangkat digital.
Semua itu penting. Namun ada pertanyaan mendasar yang jarang diajukan secara jujur: bagaimana mungkin proses belajar berlangsung optimal jika peserta didik hadir dalam kondisi lapar atau kekurangan gizi?
Memisahkan urusan gizi dari pendidikan sama saja dengan menghapus satu bait penting dari lagu kebangsaan kita. Jika yang dibangun hanya “jiwanya”, sementara “badannya” diabaikan, maka pendidikan kehilangan fondasi biologisnya.
Jiwa tidak tumbuh dalam ruang hampa; ia bertumpu pada tubuh yang sehat.
Dalam perspektif pendidikan nasional, gagasan ini sebenarnya bukan hal baru.
Ki Hadjar Dewantara menekankan pendidikan sebagai proses membangun manusia seutuhnya-raga, jiwa dan budi.
Raga yang sehat menopang kesiapan belajar. Jiwa yang berkembang memungkinkan daya pikir dan kreativitas bertumbuh. Budi yang matang membentuk karakter dan tanggung jawab moral.
Karena itu, mengintegrasikan program gizi ke dalam sistem pendidikan bukanlah perluasan definisi yang dipaksakan.
Ia justru konsekuensi logis dari filosofi pendidikan nasional.
Program Makan Bergizi Gratis harus dipahami sebagai infrastruktur manusia. Kita terbiasa menyebut ruang kelas, laboratorium, dan teknologi sebagai infrastruktur pendidikan. Namun tubuh peserta didik adalah infrastruktur paling dasar.
Tanpa fondasi ini, bangunan pendidikan berdiri di atas tanah yang rapuh.
Perdebatan fiskal yang mempertentangkan belanja gizi dengan belanja fisik sering kali keliru dalam kerangka berpikir.
Ini bukan soal memilih antara gedung atau makanan. Ini soal menyadari bahwa investasi pada tubuh peserta didik adalah syarat agar seluruh investasi lainnya tidak sia-sia.
Namun demikian, dukungan terhadap substansi program tidak boleh menghilangkan kewajiban pengawasan. Tata kelola yang transparan, akuntabel, dan tepat sasaran menjadi syarat mutlak.
Tanpa itu, tujuan mulia dapat terdistorsi oleh praktik penyalahgunaan anggaran.
Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya proses transfer pengetahuan, melainkan pembangunan manusia. Dan manusia tidak pernah terbelah antara tubuh dan jiwa.
Jika kita sungguh ingin membangun Indonesia Raya, maka membangun jiwa tanpa membangun badan bukanlah pilihan. Keduanya adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Pada posisi ini, substansi, tujuan dan strategisnya Program Prioritas Nasional Pemerintahan Prabowo Subianto-Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka; mewujudkan filosofi Indonesia Raya dalam kesatuan Jiwa dan Tubuh Manusia Indonesia.***
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com























Discussion about this post