• Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Jumat, Juli 10, 2026
Kabariku
Advertisement
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan
Tidak ada hasil
View All Result
Kabariku
Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
  • Dwi Warna
  • Kabar Peristiwa
  • Hukum
  • Kabar Istana
  • Politik
  • Profile
  • Opini
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Seni Budaya
  • Pariwisata
  • Hiburan
  • Teknologi
Home Opini

Mencegah Politisasi Reformasi Polri

Tresyana Bulan oleh Tresyana Bulan
7 Januari 2026
di Opini
A A
0
ShareSendShare ShareShare

Penulis :
Aris Santoso
Pengamat Militer

Jakarta, Kabariku – Libur akhir tahun (2025) hampir semua lembaga negara melakukan relaksasi, tidak terkecuali Komisi Percepatan Reformasi Polri (KPRP) dan Tim Transformasi Reformasi Polri.

Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik Informasi Layanan Publik

Sebagaimana diketahui KPRP adalah bentukan Istana, yang anggotanya dilantik pada awal November lalu. Sementara lembaga kedua, adalah bentukan Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo, pada pertengahan September.

RelatedPosts

Jangan Sampai Kita Jadi “Kuli Listrik” ASEAN, Kita Juga Harus Jadi “Tuan Rumah” di ASEAN

Rp174 Triliun Belum Cukup, Saatnya Menata Ulang Tata Kelola SPPG Nasional

Lima Cahaya Penjaga Hati dari Jalan Dosa

Pembentukan tim reformasi internal oleh Mabes Polri, bisa dibaca sebagai ikhtiar Polri untuk  terus menuju perbaikan, utamanya pada aspek kultur anggota Polri.

Kembali munculnya tuntutan reformasi Polri kali ini, tidak bisa dilepaskan atas tindak kekerasan aparat kepolisian terhadap peserta aksi massa akhir Agustus lalu.

Reformasi Polri sebenarnya bukan isu baru, setiap rezim selalu menawarkan program tersebut, namun cepat pula hilang dari memori publik.

Saat relaksasi atau rehat peralihan tahun adalah waktu yang tepat untuk melakukan refleksi atas ikhtiar reformasi Polri. Salah satu substansi yang wajib dirawat adalah, jangan sampai terjadi politisasi dalam program reformasi Polri sekarang ini.

Polri sendiri memiliki kekuatan yang besar, dan ini rentan dimanfaatkan oleh kekuasaan, sebagaimana terjadi sejak era Presiden Soekarno.

Berjarak dengan Kekuasaan

Tuntutan reformasi Polri kali ini bisa dianggap sebuah momentum, bahwa tuntutan masyarakat terhadap Polri harus direspons secara cepat dan tepat oleh Mabes Polri.

Dalam hal ini dengan membentuk tim reformasi internal Polri, yang nanti bisa bekerja secara paralel dan bersinergi dengan tim serupa bentukan Presiden Prabowo.

Momen menguatnya desakan masyarakat saat ini harus dijadikan momentum, untuk melakukan reformasi dan perbaikan secara menyeluruh.

Sesepuh dan pemikir Polri Farouk Muhammad (mantan Kapolda NTB, Kapoda Maluku dan Gubernur STIK “PTIK”)  dalam sebuah opininya di Kompas (5/5/2015) mengatakan hal senada, bahwa Polri harus mampu mereformasi dirinya agar tak menjadi institusi yang dijauhi masyarakat.

Program dan komitmen lembaga kepolisian untuk menjaga jarak dari kepentingan politik, seharusnya mampu direfleksikan dalam kebijakan yang mempertimbangkan pandangan serta masukan positif dari masyarakat.

Baca Juga  Rilis Kedubes AS Tentang HAM di Indonesia Buktikan Pimpinan KPK Saat ini Tak Terkait Dengan Amerika

Dalam pandangan Farouk, penyalahgunaan wewenang terjadi karena pada personel Polri melekat atribut kekuasaan serta diskresi yang besar, sementara transparansi dan kontrol lemah.

Farouk berkesimpulan, bahwa kekuatan (power) polisi bukan terletak pada senjata yang dipikulnya dan/atau kewenangan di pundaknya, melainkan pada dukungan publik (public approval).

Problematika reformasi Polri saat ini tidak hanya berkaitan dengan aspek kelembagaan, tetapi praktik pemanfaatan Polri sebagai alat kepentingan politik kekuasaan menjadi akar utama menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi Polri.

Mengambil jarak dengan kekuasaan adalah nilai substansial yang seharusnya inheren dalam Polri, termasuk dalam promosi jabatan, yang lebih mengedepankan aspek kompetensi dan meritokrasi (the right man on the right place).

Kegelisahan di masyarakat  sempat pada fase kritis,  sehingga memunculkan Gerakan Nurani Bangsa, dengan figur terdepan adalah  Ibu Sinta Nuriyah Wahid  (mantan Ibu Negara ), untuk menemui Presiden Prabowo dan menyampaikan langsung kekhawatiran masyarakat sipil terhadap kinerja Polri, yang dinilai masih  cenderung  mempertahankan kultur militeristik.

Polri dijadikan alat kepentingan politik kekuasaan, telah memicu ketidakpercayaan  masyarakat terhadap aparat polisi. Masih berlanjutnya perilaku atau kultur militeristik di tubuh Polri tidak muncul begitu saja, tetapi dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu kewenangan lembaga yang terlalu besar dan kedekatan dengan kekuasaan.

Salah satu pengalaman historis bisa disampaikan, yakni ketika Presiden Soekarno mengangkat Kombes Sucipto Danukusumo sebagai Kapolri (1963-1965), mengingat adanya kedekatan pribadi antara dua tokoh tersebut.

Posisi Kombes Sucipto Danukusumo sebelum diangkat sebagai Kapolri, adalah Komandan Korps Brimob (pusat).  Setelah diangkat sebagai Kapolri, pangkatnya segera dipacu naik dua tingkat, menjadi Inspektur Jenderal (Irjen).

Semua telah menjadi sejarah. Satu pelajaran penting yang bisa diambil, karena terlalu politis, pada gilirannya terjadi resistensi internal atas pengangakatan Irjen Sucipto Danukusumo,  muncul anggapan promosinya melangkahi perwira tinggi Polri  yang lebih senior. Segera disiapkan  pergantian Kapolri, yang secara kebetulan nama pejabat lama dan baru mirip, yaitu Irjen Sutjipto Judodiharjo (Kapolri periode 1965-1968).

Komisi Percepatan Reformasi Polri (KPRP) hampir saja bersinggungan dengan politisasi, ketika sempat membahas posisi pimpinan Polri. Wacana seperti ini yang harus dihindari oleh semua anggota KPRP, agar tidak terjebak pada (kecenderungan) politisasi.

Baca Juga  Dalam Perspektif Islam, Hoaks Bukan Hanya Informasi Palsu Melainkan Dosa Sosial dan Pelanggaran Moral

Baik KPRP maupun komisi reformasi bentukan Kapolri, tetap fokus pada perbaikan kultur dan performa Polri, dan membangun citra aparat Polri selalu dekat dengan rakyat, termasuk siap melayani.

Meritokrasi dan Kompetensi

Sebagaimana pernah disampaikan  Irjen Pol Andry Wibowo (Akpol 1993), salah satu pemikir generasi baru Polri, dalam presentasinya saat seminar nasional reformasi Polri BEM FH UI, pertengahan November lalu.

Menurut Irjen Andry Wibowo,  reformasi kepolisian bukanlah hal yang mudah, karena institusi Kepolisian merupakan sub-sistem dari dimensi persoalan yang kompleks, yang meliputi perkembangan ekonomi, politik, demokrasi, hukum, sosial dan budaya dari masyarakat yang saling mempengaruhi. Reformasi kepolisian sebaiknya dimaknai sebagai suatu ikhtiar pengembangan profesionalisme dan modernisasi tanpa henti.

Selaras dengan gagasan Irjen Andry Wibowo, kultur polisi yang selama ini mengundang resistensi publik,  yakni sikap represif,  dan cenderung militeristik, terbukti sudah tidak layak lagi untuk dilanjutkan. Nilai-nilai demokrasi, seperti kesetaraan, keadilan, independen, dan (utamanya) menghormati HAM , harus menjadi pedoman kerja Polri sehari-hari.

Menurut sesepuh dan pemikir Polri yang lain, yaitu Koesparmono Irsan (mantan Kabareskrim Polri dan Kapolda Jatim),  dalam salah satu makalahnya (terbit 2015), bahwa  antara HAM dan hukum memiliki hubungan yang erat. Penghormatan HAM selalu dilandasi oleh regulasi.

Pemikiran Koesparmono bila diringkaskan, penghormatan HAM ibarat “mahkota” bagi anggota Polri. Prinsip HAM harus terus dipegang dalam tugas, terutama bagi anggota yang sedang mendapat giliran bertugas di lapangan, ketika berinteraksi dengan masyarakat secara tatap muka.

Sudah menjadi pengetahuan bersama,   dalam reformasi Polri sering muncul fenomena “jalan di tempat”.  Terkait konteks kultural, seperti halnya TNI, Polri juga dibebani tanggung jawab untuk melakukan reformasi keamanan dari sisi budaya organisasi, di sisi lain diharapkan  budaya personel agar lebih adaptif terhadap perkembangan zaman dan tuntutan masyarakat.

Komisi Percepatan Reformasi Polri yang dibentuk Presiden Prabowo memiliki dua tugas besar yang tidak dapat ditunda.

Pertama, memastikan perubahan mendasar terhadap kultur anggota Polri, yakni mereduksi kultur militeristik.

Kedua, mereformasi sistem seleksi promosi jabatan agar berorientasi pada integritas, profesionalisme, dan kinerja, bukan kedekatan politik.

Dua hal itu yang harus dievaluasi secara menyeluruh, yakni soal kultur militeristik dan sistem seleksi kepemimpinan yang masih didominasi fenomena kedekatan dengan kekuasaan.

Baca Juga  Kapolri: "Peran Utama Itwasum Polri adalah Menjamin Tujuan Pemerintah yang Akuntabel, Efektif dan Efisien"

Sistem promosi jabatan di kepolisian harus  berdasarkan kompetensi dan  meritokrasi, untuk mencegah ruang politisasi, bahwa promosi jabatan ditentukan oleh kekuasaan dan kedekatan politik.

Masih dalam forum yang sama di FH UI, Irjen Andry memberikan sejumlah masukan,  berkenaan  upaya meningkatkan performa di tubuh Polri, masih dalam semangat reformasi internal. 

Pertama, pengawasan internal yang ketat. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan pengawasan internal dan memberikan sanksi yang tegas kepada oknum polisi yang terlibat patologi polisi.

Kedua, transparansi dan akuntabilitas, bahwa upaya ini dilakukan untuk meningkatkan transparansi dalam proses pengambilan keputusan dan penggunaan anggaran, serta memastikan akuntabilitas setiap tindakan polisi.

Ketiga adalah pelatihan dan pendidikan. Upaya ini dilakukan untuk memberikan pelatihan dan pendidikan yang memadai tentang etika, integritas, dan profesionalisme kepada anggota polisi.

Keempat, gaji yang layak.  Upaya ini dilakukan untuk memberikan gaji yang layak dan insentif yang memadai kepada anggota polisi.

Kelima memberi ruang bagi partisipasi masyarakat. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengawasan. Dan keenam adalah integritas dan profesionalisme.

Upaya ini dilakukan untuk membangun Budaya Integritas dan Profesionalisme Membangun budaya integritas dan profesionalisme di tubuh polisi, serta mempromosikan nilai-nilai tersebut.

Polri  yang kuat secara kelembagaan dan kualitas personel,  lahir dari sistem yang adil, transparan, dan berbasis kompetensi. Meritokrasi harus dijaga sebagai fondasi agar setiap individu memiliki kesempatan yang setara dalam memajukan lembaga dan pelayanan publik (utamanya menciptakan rasa aman).

Bila aturan dilonggarkan demi kepentingan tertentu (baca: politisasi promosi), maka Polri secara kelembagaan akan kehilangan esensinya sebagai pilar pelayanan publik yang profesional.

Untuk menjaga keseimbangan antara meritokrasi dan kebutuhan strategis lembaga, pemerintah perlu menetapkan regulasi yang ketat dalam penempatan perwira Polri, termasuk ketika ditempatkan pada jabatan sipil. Seleksi harus tetap berbasis kompetensi dengan mekanisme yang transparan dan akuntabel.

Selain itu, batasan jabatan yang dapat diisi oleh personel Polri  (termasuk TNI) harus jelas dan hanya pada posisi yang memang membutuhkan keahlian khusus mereka, seperti bidang pertahanan, keamanan, atau penanggulangan bencana. Dengan demikian, kebijakan ini dapat berjalan tanpa mengorbankan profesionalisme birokrasi dan prinsip meritokrasi.*

Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com

Tags: Aris SantosoKapolri Jenderal Listyo Sigit PrabowoKomisi Percepatan Reformasi PolriPengamat MiliterPolitisasi Reformasi PolriTim Transformasi Reformasi Polri
ShareSendShareSharePinTweet
Post Sebelumnya

Polemik Ijazah Jokowi Menyeret Nama SBY, Empat Akun Medsos Dilaporkan Demokrat

Post Selanjutnya

Jejak Presiden Prabowo dan Jenderal LB Moerdani di Sekolah Kader Taruna Nusantara

RelatedPosts

Jangan Sampai Kita Jadi “Kuli Listrik” ASEAN, Kita Juga Harus Jadi “Tuan Rumah” di ASEAN

8 Juli 2026

Rp174 Triliun Belum Cukup, Saatnya Menata Ulang Tata Kelola SPPG Nasional

7 Juli 2026

Lima Cahaya Penjaga Hati dari Jalan Dosa

5 Juli 2026

Menilik Penugasan AKBP Syarif yang Tetap Mendampingi Jokowi: Antara Kebutuhan Pengamanan dan Persepsi Publik

5 Juli 2026

Potensi Maritim Pangkalpinang jadi Implementasi Peran Pemuda Sebagai Agent Of Change

3 Juli 2026

Watak Integritas Polisi: Kunci Utama Terwujudnya Kemajuan Bangsa

28 Juni 2026
Post Selanjutnya
Sejarah SMA Taruna Nusantara di Magelang, sekolah gagasan Prabowo Subianto yang diwujudkan Jenderal LB Moerdani, dan perannya dalam kaderisasi pemimpin muda Indonesia.(Istimewa)

Jejak Presiden Prabowo dan Jenderal LB Moerdani di Sekolah Kader Taruna Nusantara

Mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil/Pemprov Jabar

Ridwan Kamil dan Atalia Praratya Resmi Bercerai, Tegaskan Pisah Secara Baik-baik

Discussion about this post

KabarTerbaru

Hatta Taliwang: Kebijakan Ekspor Satu Pintu Harus Perkuat Kedaulatan Ekonomi, Bukan Ciptakan Rente Baru

9 Juli 2026

Kemendag Gandeng Metro Department Store, 11 Jenama Fesyen Lokal Resmi Tembus Ritel Modern

9 Juli 2026
dok YLBHI

YLBHI Kecam Penggerusan Supremasi Sipil melalui Pelibatan TNI dalam Penegakan Hukum

9 Juli 2026

Milenial Jadi Motor Ekonomi Kreatif, Prof. Willy Arafah: Berani Eksekusi Ide Kunci Raih Sukses

9 Juli 2026

SETARA Institute Desak Dugaan Penghalangan Penyidikan Korupsi Diusut Tuntas, Dukung Langkah Kortas Tipikor

9 Juli 2026

Milad Perdana WBI, Organisasi Perempuan Garut Siapkan Program Pendidikan hingga Penanganan Sosial

9 Juli 2026

Blackout Jawa Disorot, CERI Minta Polri Usut Tambang Batu Bara Kakap

9 Juli 2026

Demokrat Jabar Targetkan Siapkan 8.000 Saksi Hadapi Pemilu 2029

9 Juli 2026
Oplus_131072

SIAGA 98 Desak Kortas Tipikor Polri Buka Terang Keterkaitan Penggeledahan dengan Jampidsus Febrie Adriansyah

9 Juli 2026

Istana Pastikan Program Tetap Berjalan, Latsarmil Koperasi Merah Putih Dievaluasi Usai Lima Peserta Meninggal

29 Juni 2026

Kabar Terpopuler

  • Atlet Renang Pelajar Garut Borong Medali di O2SN Jabar, Kalula Lolos ke Tingkat Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menilik Penugasan AKBP Syarif yang Tetap Mendampingi Jokowi: Antara Kebutuhan Pengamanan dan Persepsi Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diresmikan Sejak November 2025, SPPG Milik Eks Bupati Agus Supriadi Belum Juga Beroperasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perusahaan Udang Milik Kaesang Pangarep Terlilit Utang Lebih dari Rp2 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sosok Jenderal Humanis Akpol 1995 Ahli Hukum Cybercrime Unpad; Brigjen Pol Mokhamad Ngajib

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidang TPPU, Mantan Pangdam IV/Diponegoro Diduga Belikan Alphard Rp1,6 Miliar untuk Eks Kowad

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lima Cahaya Penjaga Hati dari Jalan Dosa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabariku

Kabariku.com diterbitkan PT. Mega Nusantara Group dan telah diverifikasi Dewan Pers dengan Sertifikat Nomor: 1400/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

Kabariku

SOROTMERAHPUTIH.COM BERITAGEOTHERMAL.COM
DJITUBERITA.COM

  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 Kabariku.com

Tidak ada hasil
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
  • Dwi Warna
  • Catatan Komisaris
  • Kabar Istana
  • Kabar Kabinet
  • Kabar Daerah
  • Hukum
  • Politik
  • Opini
  • Artikel
  • Lainnya
    • Seni Budaya
    • Kabar Peristiwa
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Ekonomi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pariwisata
    • Bisnis
    • Profile
    • Pembangunan

© 2025 Kabariku.com