Jakarta, Kabariku – Pemerintah gegap gempita mengumumkan ekspor listrik 2 GW ke Singapura. Katanya demi devisa, demi diplomasi energi, demi jadi “baterainya ASEAN”. Kedengarannya hebat. Tapi tunggu dulu. Di dalam negeri sendiri, investor data center masih antri minta pasokan listrik 24 jam tanpa kedip.Ironisnya luar biasa. Di saat kita teriak butuh kedaulatan digital, butuh server AI, butuh cloud nasional, pemerintah justru sibuk menjual “darah” nya keluar negeri. Ini bukan soal menolak ekspor. Ini soal urutan prioritas yang kebalik.
Mari jujur. Satu data center hyperscale berkapasitas 100 MW itu setara dengan listrik 50 ribu rumah. Sementara Singapura, negara sekecil setelapak tangan, sudah punya 70 data center dan terus menambah. Mereka kekurangan lahan, kekurangan air, tapi tidak kekurangan akal.Akal mereka sederhana: “Kalau kita tidak punya listrik, kita sewa punya tetangga”. Maka datanglah mereka ke Indonesia. Menawarkan dolar. Menawarkan kontrak jangka panjang.
Dan pemerintah kita, dengan bangga, mengangguk.Pertanyaannya: setelah kabel laut itu terpasang, sisa berapa untuk kita? Sisa berapa untuk AI Nasional? Sisa berapa untuk IKN digital? Sisa berapa untuk UMKM yang mau naik kelas ke cloud? Jangan-jawab “masih cukup”. Data nya mana? Papan skor KPI nya mana?Kita tidak boleh naif. Singapura tidak sedang “menolong”. Mereka sedang mengamankan masa depan digital mereka dengan biaya termurah. Listrik di Singapura 2.500/kWh. Di kita 1.600/kWh. Selisih 900 rupiah itu adalah keuntungan mereka. Dan kita yang capek bangun pembangkitnya.Jangan sampai sejarah terulang. Dulu kita ekspor nikel mentah, timah mentah, sawit mentah.
Sekarang mau ekspor listrik mentah. Bedanya apa? Sama-sama menjual bahan baku tanpa nilai tambah. Sama-sama jadi kuli di negeri sendiri.Bayangkan 5 tahun dari sekarang. Server-server kita sewa dari Singapura. Data rakyat Indonesia disimpan di Singapura. AI yang dipakai kementerian bayar lisensi ke Singapura. Sementara pembangkit listrik di Riau dan Batam tiap malam menyala untuk menghidupi negara orang yang sepetak.Itu bukan kemandirian. Itu namanya dijajah model baru.
Dijajah dengan kabel, bukan dengan meriam.Kami tidak anti ekspor. Ekspor itu bagus kalau kebutuhan dalam negeri sudah aman 100%. Ekspor itu bagus kalau ada barter teknologi. Ekspor itu bagus kalau ada syarat: “Mau beli listrik kami? Silakan. Tapi bawa 1 data center ke Batam. Transfer teknologi. Latih SDM kami.”Tanpa syarat, ekspor listrik sama dengan bunuh diri industri digital. Investor tidak butuh janji. Investor butuh kepastian. Butuh listrik murah. Butuh latensi rendah. Butuh jaminan tidak padam. Kalau itu tidak ada di Indonesia, mereka lari ke Malaysia, ke Thailand.
Pemerintah sering bilang “Indonesia pusat data ASEAN”. Omong kosong kalau colokannya saja kita jual keluar. Tuan rumah itu menyediakan meja, kursi, dan makanan. Bukan malah menjual kompor ke tetangga lalu masak pakai kayu bakar.Kita butuh listrik dengan latensi rendah 100% untuk server. Butuh uptime 99.999%. Butuh harga yang bisa bersaing. Itu syarat mutlak perang AI. Tanpa itu, mimpi “Indonesia Emas 2045” hanya jadi PowerPoint.
Kepada para pengambil kebijakan: Stop dulu proyek ekspor ini. Tahan. Audit. Hitung ulang. Pastikan 5 tahun ke depan kebutuhan data center nasional, industri, dan rakyat sudah terpenuhi. Baru bicara ekspor.Jangan kira bisa dibodohi negara “sepetak”. Mereka pintar berdagang. Kita harus lebih pintar berdaulat. Jangan tukar kedaulatan digital dengan devisa sesaat.Ingat, listrik itu bukan komoditas biasa. Listrik adalah urat nadi peradaban baru.
Siapa kuasai listrik untuk data, dia kuasai masa depan. Masa depan itu tidak boleh kita lelang ke luar.Kesimpulannya hanya satu: Jangan sampai kita jadi “Kuli Listrik” ASEAN. Kita harus jadi “Tuan Rumah Data” di ASEAN!. Kalau tidak mulai sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi? Ini bicara idealisme Bangsa.Oleh, Dr. Suriyanto.Pd.,SH.,MH.,MknPraktisi Hukum/Akademisi/Ketum PWRI.
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com


















Discussion about this post