Tangerang Selatan,Kabariku.com– Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan (Tangsel) mempercepat penanganan persoalan gizi anak. Kali ini, sebanyak 60 anak di Kecamatan Serpong menjadi sasaran intervensi khusus untuk memperbaiki kondisi gizi dan mengejar pertumbuhan mereka.
Program tersebut menjadi langkah Pemkot Tangsel untuk mencegah masalah gizi berkembang menjadi gangguan tumbuh kembang yang lebih serius.
Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan, Serpong menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena masih ditemukan cukup banyak anak dengan permasalahan gizi.
Menurut Benyamin, penanganan tidak boleh menunggu kondisi anak semakin buruk. Intervensi harus dilakukan sejak dini dengan memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi sesuai kondisi masing-masing.
“Intervensi ini merupakan langkah awal untuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhan pertumbuhannya,” ujar Benyamin, Senin (10/8/2026).
Intervensi dilakukan melalui pemberian makanan tambahan (PMT) yang dirancang berdasarkan kebutuhan gizi anak. Program ini tidak sekadar memberikan makanan, tetapi juga disertai pemantauan perkembangan anak secara berkala.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Tangsel, Lilis Suryani, menjelaskan bahwa 60 anak tersebut memiliki beragam persoalan gizi.
Mulai dari berat badan kurang, gizi kurang, hingga berat badan yang tidak mengalami kenaikan menjadi perhatian tenaga kesehatan.
“Penanganannya akan dilakukan melalui enam puskesmas di Kecamatan Serpong dengan pemantauan secara berkala oleh tenaga nutrisionis,” kata Lilis.
Program PMT akan berlangsung selama 56 hari. Dalam periode tersebut, anak-anak akan dipantau secara rutin melalui pengukuran berat dan tinggi badan untuk mengetahui efektivitas intervensi.
Menu makanan yang diberikan juga tidak dibuat sembarangan. Kandungannya disusun dengan memperhatikan kebutuhan gizi anak, mencakup karbohidrat, protein, sayuran, dan buah.
Tak kalah penting, Pemkot Tangsel juga melibatkan orang tua. Mereka diberikan edukasi mengenai pola pemberian makanan bergizi sehingga perbaikan gizi anak tidak berhenti setelah program pemerintah selesai.
“Orang tua juga diberikan edukasi agar pemenuhan gizi anak tidak hanya dilakukan selama program intervensi, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan di rumah,” jelas Lilis.
Untuk memastikan program berjalan terukur, seluruh proses pemberian PMT turut didokumentasikan melalui aplikasi Stunting Hub.
Sebelum intervensi dimulai, anak terlebih dahulu menjalani pengukuran berat dan tinggi badan sebagai data awal. Selanjutnya, perkembangan mereka dipantau secara berkala untuk melihat perubahan kondisi setelah mendapatkan intervensi.
Langkah tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran nyata mengenai perkembangan anak sekaligus menjadi dasar evaluasi penanganan masalah gizi di wilayah Serpong.
Pemkot Tangsel menegaskan bahwa penanganan stunting dan masalah gizi bukan hanya soal meningkatkan angka statistik, tetapi menyelamatkan masa depan anak agar dapat tumbuh sehat, aktif, dan berkembang secara optimal.














Discussion about this post