Jakarta, Kabariku – Ahli geothermal Ali Ashat menegaskan proyek pengembangan panas bumi atau geothermal di Flores tidak mengganggu sumber air masyarakat sebagaimana kekhawatiran yang berkembang di tengah warga.
Sebagai informasi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bakal menjadikan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai pulau panas bumi (geothermal island) karena berlimpahnya potensi sumber daya untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).

Menurut Ali, fluida panas bumi yang dimanfaatkan dalam proyek geothermal berada jauh di bawah lapisan air tanah masyarakat sehingga tidak bercampur dengan sumber air yang digunakan sehari-hari.
“Air geothermal berada di kedalaman yang sangat dalam dan terpisah dari air tanah. Selain itu, sumur geothermal dilapisi casing baja dan semen berlapis sehingga tidak terjadi kebocoran maupun pencampuran dengan air yang digunakan masyarakat,” ujar Ali, dikutip dari BeritaGeothermal.com Selasa (19/5/2026).
Ia menjelaskan, secara alami terdapat lapisan batuan kedap yang memisahkan sistem panas bumi dengan lapisan air tanah dangkal maupun sumber air permukaan milik warga. Karena itu, sistem geothermal dinilai aman selama proyek dijalankan sesuai standar teknis dan lingkungan yang berlaku.
Ali juga membantah anggapan bahwa proyek geothermal dapat mengurangi cadangan air tanah masyarakat apabila seluruh tahapan operasional dilakukan sesuai prosedur.
“Secara teknis, sistem geothermal bersifat tertutup dan aman,” tegasnya.
Ia menambahkan, kebutuhan air dalam proyek geothermal hanya digunakan untuk operasional di permukaan, seperti sanitasi, kebutuhan pekerja,
dan fasilitas pendukung lainnya.Sementara sistem utama panas bumi berada jauh di bawah permukaan tanah dan tidak berkaitan langsung dengan sumber air warga.
Selain dinilai aman, geothermal juga memiliki keunggulan sebagai energi baru terbarukan karena mampu menghasilkan listrik secara stabil tanpa bergantung pada kondisi cuaca.
“Kalau bicara listrik, kita membutuhkan energi yang mampu menyuplai secara konsisten sepanjang hari. Geothermal memiliki karakter tersebut,” katanya.
Meski memiliki potensi besar, Ali mengingatkan pengembangan geothermal tetap harus memperhatikan tiga aspek utama agar berjalan berkelanjutan, yakni kelayakan teknis, ekonomi, serta penerimaan sosial dan lingkungan.
“Kalau secara teknis dan ekonomi sudah layak, tetap harus dipastikan dapat diterima masyarakat dan tidak merusak lingkungan,” tambahnya.
Sementara itu, General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) Rizki Aftarianto mengatakan pengembangan geothermal di Flores dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan keterbukaan informasi kepada masyarakat.
Rizki Aftarianto menegaskan, PLN memahami bahwa masyarakat membutuhkan informasi yang utuh dan benar terkait pengembangan geothermal.
“Karena itu, kami terus membuka ruang dialog dan menghadirkan penjelasan berbasis kajian ilmiah agar masyarakat memperoleh pemahaman yang tepat,” ujarnya.
Rizki menegaskan, pengembangan energi panas bumi di Flores tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan listrik nasional, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam mendukung transisi menuju energi bersih dan memperkuat ketahanan energi secara berkelanjutan.
“Pengembangan geothermal menjadi bagian penting dalam mendukung transisi energi bersih sekaligus memperkuat ketahanan energi di wilayah Nusa Tenggara dan Indonesia secara berkelanjutan,” pungkas Rizki.*
Berita telah tayang di BeritaGeothermal.com
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com


















Discussion about this post