Garut, Kabariku– Anggota DPRD Kabupaten Garut, Yuda Puja Turnawan, mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut segera menetapkan status siaga bencana hidrometeorologi menyusul meningkatnya intensitas bencana dalam beberapa hari terakhir.
Desakan tersebut disampaikan Yuda saat melakukan kunjungan ke sejumlah lokasi terdampak bencana di wilayah Kabupaten Garut, Minggu (12/4/2026). Ia menilai kondisi cuaca ekstrem dengan curah hujan tinggi telah memicu berbagai kejadian bencana, mulai dari tanah longsor, banjir, hingga angin puting beliung.
“Dalam beberapa hari terakhir, curah hujan di Garut sangat tinggi. Akibatnya terjadi longsoran tanah di berbagai wilayah, rumah warga banyak yang ambruk atau tergerus, serta jalan lingkungan yang terputus,” ujar Yuda.
Ia juga mengungkapkan, pada Sabtu (11/4/2026) sekitar pukul 22.30 WIB, banjir melanda sejumlah titik di Kecamatan Tarogong Kidul dan Garut Kota. Selain itu, pada sore harinya terjadi angin puting beliung yang merusak tujuh rumah warga di Kampung Ngompod dan Kampung Cangerek, Desa Pamekarsari, Kecamatan Banyuresmi.
“Di malam yang sama, hujan deras juga menyebabkan rumah warga ambruk tertimpa longsoran tanah di Desa Sukamenak, Kecamatan Wanaraja,” tambahnya.
Menurut Yuda, penetapan status siaga bencana hidrometeorologi sangat krusial sebagai dasar hukum bagi pemerintah daerah untuk mempercepat penanganan bencana, termasuk penggunaan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT).
“Dengan adanya status siaga, mobilisasi personel bisa lebih optimal dan anggaran BTT dapat segera digunakan untuk penanganan darurat,” tegasnya.
Ia menyoroti keterbatasan jumlah personel penanggulangan bencana di Garut. Saat ini, personel Pusdalops BPBD Garut hanya sekitar 25 orang, Tagana Dinas Sosial sekitar 40 orang, serta personel Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan sekitar 90 orang yang tersebar di 10 pos.
Jumlah tersebut dinilai tidak sebanding dengan luas wilayah Kabupaten Garut yang mencapai sekitar 3.074 kilometer persegi dengan jumlah penduduk sekitar 2,9 juta jiwa.
“Kondisi geografis Garut yang didominasi pegunungan dan perbukitan, dengan kemiringan tanah di atas 40 derajat mencapai lebih dari 41 persen, sangat rentan terhadap bencana longsor, apalagi saat curah hujan tinggi,” jelasnya.
Yuda menegaskan, warga terdampak bencana hidrometeorologi sangat membutuhkan perhatian serius dari pemerintah, terutama dalam pemenuhan kebutuhan dasar seperti air bersih, sanitasi, pangan, sandang, layanan kesehatan, hingga tempat penampungan sementara.
Ia berharap Pemkab Garut segera mengambil langkah konkret guna melindungi masyarakat dari ancaman bencana yang terus meningkat.
“Keselamatan warga harus menjadi prioritas. Penetapan status siaga bencana adalah langkah awal yang penting agar penanganan bisa lebih cepat, terkoordinasi, dan maksimal,” pungkasnya.
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com




















Discussion about this post