oleh :
Aris Santoso
Pengamat Militer
Jakarta, Kabariku – Bersama sejumlah teman-teman segenerasinya dari Akmil 2011, Letkol Inf Teddy Indra Wijaya resmi terdaftar sebagai perwira siswa (pasis) Pendidikan Reguler (Dikreg) Seskoad (Sekolah Staf dan Komando TNI AD), angkatan ke-67.
Saat pembukaan resmi Kamis (5/2) pagi lalu, tak pelak sosok Teddy yang paling menarik perhatian, dan kehadirannya di kampus Seskoad di Bandung, segera saja menjadi viral.
Salah satu pelajaran yang bisa diambil adalah, bagaimana di tengah kesibukannya selaku Sekretaris Kabinet RI, Letkol Teddy tetap meluangkan waktu untuk meningkatkan kompetensinya sebagai perwira AD.
Mengikuti pendidikan Seskoad adalah wajib bagi seorang perwira (utamanya matra darat), selaras dengan pembinaan kariernya di masa depan, bila kelak akan ditempatkan pada jabatan level perwira tinggi (brigjen dan seterusnya).
Artinya, ketika lulus dari Seskoad nanti, karier Teddy diharapkan akan semakin cerah. Terlebih lagi bila sewaktu-waktu Teddy dipanggil untuk kembali berdinas dalam struktur Mabes TNI, Teddy sudah sangat siap, salah satunya dengan berbekal ilmu yang diperoleh dari Seskoad.

Sejarah Berulang
Salah satu fenomena menarik ketika Teddy resmi masuk Seskoad, bagaimana Seskoad melakukan penyesuaian dalam metode pembelajarannya, yaitu menggunakan metode online, sebagai pengembangan dari sistem tatap muka (offline) yang sudah berlangsung selama ini.
Digunakan metode online (daring) adalah bentuk adaptasi, agar pasis seperti Letkol Teddy, yang memiliki kesibukan sebagi pejabat negara, tetap bisa mengikuti proses pembelajaran di Seskoad.
Sejak dikenalnya teknologi digital pada awal abad ini, Seskoad tetap setia dengan metode belajar secara tatap muka. Salah satunya karena masuknya pasis seperti Letkol Teddy, Seskoad memiliki momentum untuk memperkenalkan metode daring, sebagai bentuk terobosan atau adaptasi atas perkembangan teknologi komunikasi.

Sejarah Seperti Berulang
Adaptasi yang kini dilakukan Seskoad, sebenarnya bukanlah perkara baru. Pada awal tahun 1960-an, Seskoad memberi kesempatan pada Brigjen Soeharto (selaku Pangkostrad pertama) untuk mengikuti pendidikan Seskoad, saat itu Soeharto baru diangkat sebagai Pangkostrad.
Untuk ukuran saat ini, menjadi pasis Seskoad dalam pangkat brigjen, tentu terlalu tinggi, bahkan mungkin bisa dianggap “terlambat”.
Pasis Seskoad umumnya pamen berpangkat mayor dan letkol, bahkan juga masih terlampau tinggi seandainya menjadi pasis Sesko TNI (kelanjutan Seskoad), yang umumnya berpangkat kolonel.
Kira-kira situasinya mirip dengan yang dialami Letkol Teddy kiwari, Seskoad membuat “terobosan” dengan tetap memberikan kesempatan Soeharto untuk masuk Seskoad.
Bagi kelas Soeharto saat itu (1959-1960), kemudian dikenal sebagai “Kursus C”, ada sedikit kemudahan atau sebut saja adaptasi, yakni durasi pendidikan cukup tiga bulan saja, sementara yang reguler biasanya 10 bulan.
Sekadar informasi teman sekelas Soeharto pada “Kursus C” yang juga berpangkat brigjen, adalah Brigjen Sarbini, figur TNI Generasi 45, yang namanya diabadikan di Gedung Veteran (Graha Purna Yudha) di kawasan Semanggi, Jakarta Pusat.
Sesuai kemajuan zaman, Seskoad senantiasa melakukan terobosan dan adaptasi, sebuah tindakan yang juga harus dilakukan lembaga pendidikan lain di bawah TNI, termasuk lembaga pendidikan pasukan tempur, seperti Kopassus dan Denjaka (Korps Marinir TNI AL).
Prinsipnya adalah, jangan sampai TNI atau bangsa ini kehilangan talenta-talenta prospektif, hanya karena tidak sempat mengikuti pendidikan lanjutan sebagai perwira.
Adaptasi atau terobosan dimaksud bisa dihubungkan dengan konteks politik militer di tanah air. Meski resminya bukan entitas politik, bagaimanapun TNI memiliki kapasitas politik besar, sehingga masyarakat juga ingin mengetahui bagaimana integritas dan komitmen perwira generasi baru.
Karena dalam kebiasaan masyarakat kita, elite TNI, seperti yang sedang menjabat Danjen Kopassus, pangdam atau Pangkostrad, biasanya juga dianggap sebagai figur publik.
Apa yang terjadi pada Letkol Teddy bahkan terkesan lebih cepat, tidak perlu menunggu sampai berpangkat brigjen, untuk menjadi seorang figur publik. Mungkin itu sudah “garis tangan” beliau.

Generasi Penghubung
Bagi generasi sekarang, utamanya Gen Z dan Alpha, menjadi seorang tentara dengan segala atribut dan kebanggaannya, hanyalah salah satu pilihan di antara sekian profesi menarik lainnya, meski antrean untuk masuk Akmil atau akademi matra lainnya (termasuk Akpol) tetap saja panjang.
Menjadi tentara hanyalah salah satu pilihan dalam mengabdi kepada negara dan masyarakat, kira-kira begitu pandangan generasi sekarang.
Namun pandangan ini tidak mengurangi kebanggaan generasi baru yang kebetulan memilih menjadi tentara sebagai panggilan hidupnya, dengan komitmen penuh dan siap menghadapi segala konsekuensinya.
Kita masih bisa menyaksikan sebersit idealisme generasi baru TNI AD, yang memberikan optimisme akan lahirnya perwira kompeten dan berintegritas.
Perjalanan waktu dan lingkungan yang berganti, tampaknya ikut memberi andil pada persepsi generasi sekarang (Generasi Milenial sampai Generasi Z) terhadap profesi kemiliteran.
Tampilnya generasi baru TNI, salah satunya melalui Letkol Inf Teddy dan kawan-kawan yang sedang mengikuti Dikreg Seskoad, telah membuka wacana tentang aspek spiritual mereka, sepanjang berdinas aktif, hingga kelak sampai tiba masa pensiun.
Wacana ini menjadi penting dikemukakan mengingat masa dinas mereka masih panjang, terlebih bagi perwira yang saat ini masih berpangkat letnan, atau paling tinggi kapten.
Sekadar gambaran, perwira yang baru lulus dari Akmil berpangkat letnan dua (letda), dengan jabatan sebagai komandan peleton (danton), tentu akan tinggal di ksatrian (asrama), karena masih belum sanggup memiliki rumah sendiri, selain sesuai aturan, seluruh perwira wajib tinggal dalam komplek perumahan satuan, baik satuan setingkat bataliyon atau brigade.
Saat naik jabatan menjadi komandan kompi (danki), dengan pangkat kapten, kurang lebih tingkat kesejahteraan masih sama.
Sejak lulus dari Akmil, dengan pangkat letda, pangkat kapten bisa dicapai setelah berdinas selama tujuh atau delapan tahun. Bisa kita bandingkan dengan profesi lain di sektor jasa atau keuangan, dalam waktu delapan tahun, sebagian mimpi-mimpi kesejahteraan generasi baru sudah terwujud.
Kemudian ada juga kecenderungan juga, kecabangan tempur (utamanya infanteri) tidak lagi dibanjiri peminat sebagaimana di masa lalu.
Pemikiran taruna Akmil masa kini lebih pragmatis, mereka lebih memilih kecabangan atau korps yang masih banyak berguna saat purnawirawan kelak, yang kompetensinya masih bisa dilanjutkan, seperti keuangan, logistik, perhubungan dan peralatan.
Perwira kecabangan logistik atau keuangan misalnya, bila kariernya terasa tidak berkembang di militer, perwira yang bersangkutan bisa alih status, dengan catatan ikatan dinas sudah terlampaui, dengan bekerja di lembaga lain sesuai kompetensinya.
Dalam masa pendidikan, terutama di kampus Akmil, pengaruh lingkungan bisa diminimalisasi karena metode pendidikan yang eksklusif. Tantangan yang sebenarnya baru terlihat saat lulus dari Akmil, dan mulai meniti karier, sehingga interaksi dengan masyarakat mulai terjadi.
Pada fase inilah, bimbingan para perwira yang lebih senior atau atasan langsung perwira muda dimaksud, menjadi sangat berarti. Para perwira senior, baik itu danyon atau danbrig, memiliki tugas tambahan untuk ikut membentuk karakter dan jati diri para perwira muda.
Peran perwira senior menjadi penting, karena ada nilai keteladanan di situ, seperti keberanian untuk hidup sederhana, dan tetap menjaga etika saat berikhtiar mencapai kesejahteraan.
Pada titik ini generasi Letkol Teddy dan kawan-kawan menjadi signifikan, karena selepas pendidikan Seskoad kelak, mereka akan kembali pada satuan operasional, untuk menjadi komandan brigade, komandan kodim, komandan korem, dan seterusnya.
Generasi Letkol Teddy bisa disebut sebagai “generasi penghubung”, untuk memelihara semangat juang dan militansi kepada adik-adik mereka, yang masih di level perwira pertama (letda sampai kapten).
Bagi perwira dalam posisi danbrig atau danmen (komandan resimen), memiliki nilai strategis mengingat dalam posisi tersebut, bakat dan kemampuan selaku calon pemimpin benar-benar diuji.
Sementara pada sisi lain masih memiliki tugas tambahan, membimbing para yuniornya, mulai mereka yang sudah menjadi danyon, hingga yang mungkin masih danton (komandan peleton).***
Baca juga :
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com




















Discussion about this post