Jakarta, Kabariku – Papua Tengah kerap disebut sebagai ladang emas talenta sepak bola Indonesia. Namun, hingga kini, sebutan itu lebih sering berakhir sebagai mitos ketimbang kenyataan. Minimnya pembinaan usia dini dan absennya dukungan federasi membuat banyak pemain potensial dari wilayah tersebut tak pernah menembus panggung nasional.
Pengamat sepak bola dari Universitas Padjadjaran Bandung, Irhas, menilai persoalan utama bukan terletak pada kekurangan bakat, melainkan lemahnya sistem pencarian dan pembinaan pemain di daerah. Menurut dia, PSSI belum menunjukkan keseriusan untuk membangun ekosistem sepak bola dari level paling bawah, khususnya di Papua dan Papua Tengah.
“Sejauh ini memang kita lihat belum ada lagi talenta-talenta pemain dari Papua yang berhasil diorbitkan. Padahal Papua Tengah contohnya, secara natural adalah gudangnya pemain sepak bola yang bagus, gitu loh,” kata Irhas saat dihubungi wartawan di Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Irhas menekankan pentingnya kompetisi usia dini yang berkesinambungan. Tanpa pertandingan rutin, menurut dia, pembinaan hanya berhenti pada wacana. Kompetisi lokal, kata Irhas, adalah pintu masuk utama bagi pencari bakat sekaligus ruang tumbuh mental bertanding bagi pemain muda.
Ia juga menilai PSSI terlalu pasif dalam menjangkau daerah. Selama ini, kata dia, tanggung jawab pembinaan lebih banyak dibebankan kepada asosiasi kabupaten dan provinsi, tanpa dukungan konkret dari federasi pusat.
“Selama ini kan kesannya hanya diserahkan kepada askab dan asprov. Tapi dukungan lain kita belum lihat. Misalnya dukungan pendanaan, fasilitas, atau dukungan pelatih berlisensi. Itu semua harusnya jadi perhatian serius PSSI jika ingin talenta sepakbola di daerah seperti Papua bisa diangkat,” ujarnya.
Nada kritik serupa datang dari Ketua Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI), Ignatius Indro. Ia menilai geliat sepak bola daerah hanya bisa hidup jika ada kerja bersama antara pegiat lokal dan federasi. Menurut Indro, PSSI tidak bisa sekadar berperan sebagai penonton dari Jakarta.
“Kalau daerah sudah siap, tapi federasi tidak turun tangan, itu namanya membiarkan sistem mati pelan-pelan,” kata Indro.
Indro juga menyoroti persoalan struktural di tubuh PSSI, khususnya praktik rangkap jabatan di level pengambil keputusan. Menurut dia, kondisi ini berbahaya jika dilakukan oleh pengurus yang tidak memahami sepak bola secara utuh.
“Kalau exco tidak paham sepak bola dan rangkap jabatan, itu bahaya serius,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa jabatan di Komite Eksekutif PSSI bukan posisi seremonial. Federasi, kata Indro, membutuhkan figur yang bekerja penuh waktu dan bebas dari konflik kepentingan.
“Federasi bukan tempat uji coba orang yang tidak mengerti ekosistem sepak bola. Rangkap jabatan berpotensi konflik kepentingan dan membuat keputusan tidak objektif,” katanya.
Indro menilai perbaikan sepak bola nasional harus dimulai dari perombakan cara pandang pengurus. PSSI, menurut dia, seharusnya diisi oleh orang-orang yang memahami realitas pembinaan di daerah, bukan sekadar memiliki akses politik.
“PSSI harus diisi orang-orang yang mengerti lapangan, mengerti pembinaan, dan mengerti penderitaan daerah, bukan sekadar politisi sepak bola,” ujarnya.
Sementara itu, pegiat sepak bola Papua Tengah, Harol Doko Kayame, melihat persoalan yang sama dari sisi lapangan. Ia menilai lemahnya pembinaan di daerah merupakan dampak langsung dari krisis kepemimpinan di tubuh PSSI. Pandangan itu ia sampaikan sebagaimana dikutip dari kanal bandungraya.inews, Rabu (28/1/2026).
Menurut Harol, pembinaan sepak bola mandek karena sebagian pengurus PSSI memilih merangkap jabatan. Ia mencontohkan Vivin Cahyani Sungkono yang menjabat sebagai Exco PSSI sekaligus Pelaksana Tugas Ketua PSSI Jawa Barat.
Ia menilai lambannya kepemimpinan federasi membuat daerah kehilangan arah. Di Papua Tengah, kata Harol, kompetisi usia dini tidak berjalan bukan karena ketiadaan kesiapan, melainkan karena tidak adanya dorongan dan legitimasi dari PSSI pusat.
“Padahal Askab-Askab PSSI di Papua Tengah telah bersiap untuk bisa jalankan program kompetisi untuk perkembangan sepak bola daerah,” kata Harol.(Bemby)
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com



















Discussion about this post