Jakarta, Kabariku – Jurnalis Republika salah satu yang ergabung di relawan Global Sumud Flotilla, Thoudy Badai mengaku bersyukur dapat kembali ke Indonesia dengan selamat bersama delapan WNI lainnya setelah sempat ditahan otoritas Israel dalam misi kemanusiaan menuju Jalur Gaza.
Thoudy mengatakan pengalaman yang dialami para relawan selama penahanan tidak sebanding dengan penderitaan warga Palestina, khususnya para tahanan sipil.
“Apa yang saya alami dan teman-teman alami, kekerasan dan kesedihan yang dilakukan Zionis Israel itu tidak sebanding dengan apa yang dialami ribuan tahanan Palestina, yang kebanyakan anak-anak, ibu-ibu, dan ibu hamil,” ujar Thoudy saat tiba di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (24/5/2026) malam.
Ia juga mengajak masyarakat internasional terus menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina.
“Saya harap semua masyarakat di dunia tetap dukung, tetap suarakan isu Palestina karena dengan begitu bisa mendorong Palestina untuk terus merdeka,” katanya.

Detik-detik Penghadangan Kapal Global Sumud Flotilla
Sementara itu, relawan dari GPCI-Dompet Dhuafa, Ronggo Wirasanu menceritakan detik-detik penghadangan kapal Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 oleh militer Israel pada 19 Mei 2026.
Menurut Ronggo, kapal yang membawa relawan kemanusiaan dari berbagai negara itu dicegat oleh kapal militer dan dua speedboat bersenjata sebelum akhirnya dikuasai paksa.
“Mulai di-intercept itu tanggal 19 Mei. Ada kapal militer menghampiri kapal kami, lalu ada dua speedboat bersenjata. Kapal kami di-intercept, dibajak, dirusak,” ujar Ronggo.
Ia menjelaskan, setelah kapal dikuasai, para relawan dipindahkan ke kapal militer Israel dan menjalani penahanan. Dalam proses tersebut, para relawan disebut mengalami tindakan kekerasan.
“Kami mendapatkan pukulan, tendangan di kapal militer. Lalu dipindahkan lagi ke Pelabuhan Ashdod untuk mengurus imigrasi, dan di sana kami mendapatkan pukulan kembali,” katanya.
Kekerasan Dilakukan oleh Tentara Zionis
Ronggo mengungkapkan, seluruh relawan kemudian dipindahkan ke lokasi penahanan di wilayah Negev, Israel selatan, sebelum akhirnya dibebaskan dan diterbangkan melalui Bandara Ben Gurion menuju Yordania.
Menurut dia, perlakuan kekerasan dialami hampir seluruh relawan dan aktivis Gaza Freedom Flotilla yang berasal dari berbagai negara.
“Penyiksaan, kekerasan terus dilakukan oleh tentara Zionis. Hampir terhadap 400-an orang itu mendapatkan perlakuan yang sama,” ungkapnya.
Sembilan WNI yang tergabung dalam pelayaran Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 akhirnya tiba kembali di Indonesia melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu sore.
Kepulangan mereka berlangsung setelah menjalani proses panjang pasca-penahanan oleh otoritas Israel. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dan perwakilan RI melakukan langkah evakuasi serta perlindungan terhadap para WNI tersebut.
Dalam proses pemulangan, para relawan diterbangkan menggunakan maskapai Emirates pada Sabtu (23/5) pukul 19.35 waktu Istanbul menuju Dubai. Selanjutnya, mereka melanjutkan penerbangan dari Dubai ke Jakarta pada Minggu (24/5) pukul 04.10 dan tiba di Indonesia sekitar pukul 15.30 WIB.*
Baca juga :
Jangan lupa, Ikuti Update Berita menarik dari kabariku.com dan klik follow akun Google News Kabariku dan Channel WhatsApp Kabariku.com




















Discussion about this post